GADYSA & GELBINA

Tarekat Tijaniyah

In Thareqat on August 22, 2004 at 10:15 pm

Tarekat Tijaniyah

Tarekat Tijaniyah didirikan oleh Abul Abbas Ahmad bin Muhammad bin al-Mukhtar at-Tijani (1737-1815), salah seorang tokoh dari gerakan “Neosufisme”. Ciri dari gerakan ini ialah karena penolakannya terhadap sisi eksatik dan metafisis sufisme dan lebih menyukai pengalaman secara ketat ketentuan-ketentuan syari’at dan berupaya sekuat tenaga untuk menyatu dengan ruh Nabi Muhammad SAW sebagai ganti untuk menyatu dengan Tuhan.

At-Tijani dilahirkan pada tahun 1150/1737 di ‘Ain Madi, bagian selatan Aljazair. Sejak umur tujuh tahun dia sudah dapat menghafal al-Quran dan giat mempelajari ilmu-ilmu keislaman lain, sehingga pada usianya yang masih muda dia sudah menjadi guru. Dia mulai bergaul dengan para sufi pada usia 21 tahun. Pada tahun 1176, dia melanjutkan belajar ke Abyad untuk beberapa tahun. Setelah itu, dia kembali ke tanah kelahirannya. Pada tahun 1181, dia meneruskan pengembaraan intelektualnya ke Tilimsan selama lima tahun.

Pada tahun 1186 (1772 – 1773), dia menuju Hijaz untuk menunaikan ibadah haji, dan meneruskan belajar di Makkah dan Madinah. Di dua kota Haramain ini, dia lebih banyak memfokuskan diri untuk berguru kepada banyak tokoh tarekat sufi dan mengamalkan ajarannya. Di antara tarekat yang dipelajarinya, misalnya Tarekat Qadiriyah, Thaibiyah, Khalwatiyah, dan Sammaniyah. Di Madinah dia belajar langsung kepada seorang tokoh sufi, Syekh Muhammad bin Abdul Karim as-Samman, pendiri tarekat Sammaniyah, yang mengajarinya ilmu-ilmu rahasia batin. Kemudian dari Makkah dan Madinah, dia menuju Kairo dan menetap untuk beberapa lama di sana. Pada tahun 1196 (1781 – 1782), atas saran dari seorang syekh sufi yang baru dikenalinya, dia kembali ke Tilimsan untuk mendirikan tarekat sendiri yang independen. Di sana at-Tijani mengadakan khalwat khusus, yakni memutuskan kontak dengan masyarakat sampai mendapatkan ilham (fath/kasyf).

Dalam fath yang diterimanya, dia mengaku bahwa hal itu terjadi dalam keadaan terjaga. Ketika itu, Nabi SAW mendatanginya dan memberitahukan bahwa dirinya tidaklah berhutang budi pada syekh tarekat mana pun.

Karena menurut dia, Nabi sendiri-lah yang selama ini menjadi pembimbingnya dalam bertarekat. Selanjutnya, Nabi SAW menyuruh dia untuk meninggalkan segala sesuatu yang telah dipelajari sebelumnya berkenaan dengan tarekat. Bahkan dia juga diberi izin untuk mendirikan tarekat sendiri disertai wirid yang mesti diajarkan kepada masyarakat, yaitu istighfar dan shalawat yang diucapkan masing-masing sebanyak 100 kali.

Setelah kejadian itu, ia kembali ber’uzlah di padang pasir dan berdiam di oase Bu Samghun. At-Tijani tampaknya menghadapi tekanan dari kaum otorita Turki. Di tempat inilah ia menerima ilham yang terakhir (1200/1786).

Dalam fath ini Nabi SAW memberikan tambahan wirid, yaitu tahlil yang harus diucapkan sebanyak 100 kali. Nabi SAW juga mengatakan bahwa at-Tijani adalah penunggu yang akan menyelamatkan hamba Allah yang durhaka. Pada tahun 1213/1798, dia meninggalkan ‘uzlahnya dari padang pasir dan pindah ke Maroko untuk memulai menjalankan misi yang lebih luas lagi, dari kota Fes. Di kota ini dia diterima baik oleh penguasa Maulay Sulaiman dan tetap tinggal di sana sampai wafatnya pada 22 September 1815, dalam usia 80 tahun.

Meskipun dia banyak bertarekat dan menjadi muqaddam khalwatiyah (at-Tijani mempunyai silsilah Khalwatiyah), tetapi pada perkembangan selanjutnya, yakni setelah menjalani hidup sufistik secara ketat dan keras, dia kemudian mendirikan tarekat yang independen, yang diyakini atas izin Nabi SAW.

Tarekat yang didirikan at-Tijani ini agak unik dan sedikit banyak berbeda dengan tarekat-tarekat lain terutama soal silsilahnya. Misalnya dari Syekh Ahmad, sang pendiri, langsung kepada Nabi SAW, melintas jarak waktu 12 abad. Begitu juga anggota tarekat ini bukan hanya tidak dibenarkan untuk memberikan bait ‘ahd kepada syekh mana pun, tetapi juga melakukan dzikir untuk wali lain dan dirinya serta wali-wali dari tarekatnya. Menurut at-Tijani, Tuhan tidak menciptakan dua hati dalam hati manusia, dan oleh karenanya tak seorang pun dapat melayani dua orang mursyid sekaligus.

Lagi pula, bagaimana mungkin seorang salik akan bisa sempurna menempuh suatu jalan, sedangkan pada waktu bersamaan ia juga sedang menampuh (mengambil) jalan lain?
Sejak tinggal di kota Fes ini, at-Tijani lebih berkonsentrasi pada pengembangan tarekatnya sendiri. Sebagai seorang syekh tarekat yang berpengaruh dia berkali-kali diajak oleh penguasa negeri itu untuk bergabung dalam urusan politik. Namun, dia tetap menolak. Sikapnya inilah yang membuat dia semakin disegani, dicintai, dan dihormati, baik oleh penguasa setempat maupun oleh masyarakat sekitarnya. Lebih dari itu, pihak penguasa Maulay Sulaiman, meski permintaannya ditolak, tetap memberikan berbagai hak istimewa kepadanya.

Semula tarekat yang dipimpin at-Tijani ini mendapatkan pengikut di Maghribi karena kecamannya terhadap ziarah ke makam para wali dan mawsin yang populer pada waktu itu. Namun karena perekrutan untuk menjadi muqaddam yang ditetapkan oleh at-Tijani agak longgar, misalnya dengan menunjuk sebagai muqaddam-muqaddam siapa pun yang melakukan bai’at, tanpa mengharuskan latihan selain dalam hukum dan aturan-aturan ritual, dengan tekanan utama pada ditinggalkannya semua ikatan dengan syekh-syekh lama kecuali dirinya. Sehingga setelah at-Tijani wafat, agen-agen tadi telah tersebar luas dan dengan sebuah sistem yang mendukungnya membuat dia mempunyai kekuatan penuh. Tarekat ini dengan segera menyebar luas dari Maghribi hingga Afika Barat, Mesir dan Sudan.

Aktivistas gerakan Tarekat Tijaniyah terbukti sangat positif dan militan. Seperti halnya para pengikut tarekat Qadariyah dan Syadziliyah, para murid tarekat ini berjasa menyebarluaskan Islam ke berbagai kawasan Afrika.

Menurut Coppolani, mereka menyiarkan Islam di kalangan pemeluk animisme dengan persaudaraan-persaudaraan sufi lainnya dan berada di garis terdepan dalam melakukan perlawanan terhadap ekspansi kolonialisme. Dari at-Tijani lalu diwakili oleh tokoh lainnya seperti al-Hajj Umar di Sudan Barat. Di Republik Turki, sebuah kelompok kecil penganut Tarekat Tijaniyah, adalah orang-orang muslim pertama yang secara terbuka menetang rezim sekulerisme sekitar tahun 1950.

Tarekat ini mulai masuk ke Indonesia sekitar tahun 1920-an, setelah disebarkan di Jawa Barat oleh seorang ulama pengembara kelahiran Makkah, Ali bin Abdullah at-Tayyib al-Azhari, yang telah menerima ijazah untuk mengajarkan tarekat ini dari dua orang syekh yang berbeda. Dan, pada tahun-tahun berikutnya, beberapa orang Indonesia yang belajar di Makkah menerima bai’at untuk menjadi pengikut Tarekat Tijaniyah dan mendapat ijazah untuk mengajar dari para guru yang masih aktif di sana.

Ini terjadi setelah serbuan Wahabi kedua terhadap Makkah pada tahun 1824, dan kebanyakan tarekat lain tidak dapat lagi menyebarkan ajaran pengkultusan terhadap para wali, tampaknya masih dapat ditolelir.

Di Indonesia, Tijaniyah ditentang keras oleh tarekat-tarekat lain. Gugatan keras dari kalangan ulama tarekat itu dipicu oleh pernyataan bahwa para pengikut Tarekat Tijaniyah beserta keturunannya sampai tujuh generasi akan memperlakukan secara khusus pada hari kiamat, dan bahwa pahala yang diperoleh dari pembacaan Shalawat Fatih, sama dengan membaca seluruh al-Quran sebanyak 1000 kali. Lebih dari itu, para pengikut Tarekat Tijaniyah diminta untuk melepaskan afiliasinya dengan para guru tarekat lain, yang dalam pandangan syekh pesaingnya dianggap sebagai praktik bisnis yang culas. Meski demikian, tarekat ini terus berkembang, utamanya di Cirebon dan Garut (Jawa Barat), Madura dan ujung Timur pulau Jawa sebagai pusat peredarannya. Penentangan ini baru mereda ketika Jam’iyyah Ahlith-Thariqah An-Nahdliyyah menetapkan keputusan setelah memeriksa wirid dan wadzifah tarekat ini. Dan tanpa memberikan pernyataan-pernyataan ekstremnya tarekat ini bukanlah tarekat sesat, karena amalan-amalannya sesuai ajaran Islam.

Sepanjang tahun 80-an tarekat ini ngalami perkembangan yang sangat pesat, terutama di Jawa Timur. Respons terhadap perkembangan yang dicapai tarekat ini menyebabkan pecahnya kembali konflik dengan para guru dari tarekat lain. Akar konflik ini lebih tertuju kepada persaingan keras untuk mendapatkan murid dan perasaan sakit hati di kalangan sebagian guru yang kehilangan banyak murid berpindah ke Tarekat Tijaniyah.

Kepindahan murid-murid dari tarekat lain ke Tarekat Tijaniyah ini berarti hilang pula murid-murid dari tarekat lain. Karena Tarekat Tijaniyah sama sekali tidak membolehkan para pengikutinya untuk berafiliasi lagi kepada syekh tarekat yang dianut sebelumnya.*** Salahuddin

Ajaran dan Dzikir Tarekat Tijaniyah
Sejauh ini at-Tijani tidak meninggalkan karya tulis tasawuf yang diajarkan dalam tarekatnya. Ajaran-ajaran tarekat ini hanya dapat dirujuk dalam bentuk buku-buku karya murid-muridnya, misalnya Jawahir al-Ma’ani wa Biligh al-Amani fi-Faidhi as-Syekh at-Tijani, Kasyf al-Hijab Amman Talaqqa Ma’a at-Tijani min al-Ahzab, dan As-Sirr al-Abhar fi-Aurad Ahmad at-Tijani. Dua kitab yang disebut pertama ditulis langsung oleh murid at-Tijani sendiri, dan dipakai sebagai panduan para muqaddam dalam persyaratan masuk ke dalam Tarekat Tijaniyah pada abad ke-19.

Meskipun at-Tijani menentang keras pemujaan terhadap wali pada upacara peringatan haii tertentu dan bersimpati kepada gerakan reformis kaum Wahabi, tetapi dia sendiri tidak menafikan perlunya wali (perantara) tersebut. At-Tijani sangat menekankan perlunya perantara (wali) antara Tuhan dan manusia, yang berperan sebagai wali zaman. Oleh karena itu, buku panduan Tijani kalimatnya dimulai dengan, “Segala puji bagi Allah yang telah memberikan sarana kepada segala sesuatu dan menjadikan sang Syekh perantara sarana untuk manunggal dengan Allah”. Dalam hal ini, perantara itu tak lain adalah dia sendiri dan penerusnya. Dan sebagaimana tarekat-tarekat lain, tarekat ini juga menganjurkan agar anggota-anggotanya mengamalkan ajaran dengan menggambarkan wajah syekh tersebut dalam ingatan mereka, dan mengikuti seluruh nasehat syekh dengan tenang.

Tarekat Tijaniyah mempunyai wirid yang sangat sederhana dan wadhifah yang sangat mudah. Wiridnya terdiri dari Istighfar, Shalawat dan Tahlil yang masing-masing dibaca sebanyak 100 kali. Boleh dilakukan dua kali dalam sehari, setelah shalat Shubuh dan Ashar. Wadhifahnya terdiri dari Istghfar (astaghfirullah al-adzim alladzi laa ilaha illa hua al hayyu al-qayyum) sebanyak 30 kali, Shalawat Fatih (Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad al-fatih lima ughliqa wa al-khatim lima sabaqa, nasir al-haqq bi al-haqq wa al-hadi ila shirat al-mustaqim wa’ala alihi haqqaqadruhu wa miqdaruh al-adzim) sebanyak 50 kali, Tahlil (La ilaaha illallah) sebanyak 100 kali, dan ditutup dengan doa Jauharatul Kamal sebanyak 12 kali.

Pembacaan wadhifah ini juga paling sedikit dua kali sehari semalam, yaitu pada sore dan malam hari, tetapi lebih afdlal dilakukan pada malam hari. Selain itu, setiap hari Jum’at membaca Hayhalah, yang terdiri dari dzikir tahlil dan Allah, Allah, setelah shalat Ashar sampai matahari terbenam. Dalam hal dzikir ini at-Tijani menekankan dzikir cepat secara berjamaah. Beberapa syarat yang ditekankan tarekat ini untuk prosesi pembacaan wirid dan wadhifah: berwudlu, bersih badan, pakaian dan tempat, menutup aurat, tidak boleh berbicara, berniat yang tegas, serta menghadap kiblat.

Satu hal yang penting dicatat dari dzikir Tarekat Tijaniyah — yang membedakannya dengan tarekat-tarekat lain — adalah bahwa tujuan dzikir dalam tarekat ini, sebagaimana dalam Tarekat Idrisiyyah, lebih menitikberatkan pada kesatuan dengan ruh Nabi SAW, bukan kemanunggalan dengan Tuhan, hal mana merupakan perubahan yang mempengaruhi landasan kehidupan mistik. Oleh karena itu, anggota tarekat ini juga menyebut tarekat mereka dengan sebutan At-Thariqah Al-Muhammadiyyah atau At-Thariqah al-Ahmadiyyah, termanya merujuk langsung kepada nama Nabi SAW. Akibatnya, jelas tarekat ini telah memunculkan implikasi yang ditandai dengan perubahan-perubahan mendadak terhadap asketisme dan lebih menekankan pada aktivitas-aktivitas praktis. Hal ini tampak sekali dalam praktik mereka yang tidak terlalu menekankan pada bimbingan yang ketat, dan penolakan atas ajaran esoterik, terutama ekstatikdan metafisis sufi.

Berikut petikan dari kitab As-sirr al-Abhar Ahmad at-Tijani yang menyangkut berbagai tata tertib, aturan dan dzikir dalam tarekat ini:

“Anda haruslah seorang muslim dewasa untuk melaksanakan awrad, sebab hal (awrad) itu adalah karya Tuhannya manusia. Anda harus meminta izin kepada orang tua sebelum mengambil thariqah, sebab ini adalah salah satu sarana untuk wushul kepada Allah. Anda harus mencari seseorang yang telah memiliki izin murni untuk mentasbihkan Anda ke dalam awrad, supaya Anda dapat behubungan baik dengan Allah.

Anda sebaiknya terhindar sepenuhnya dari awrad lain manapun selain awrad dari Syekh Anda, sebab Tuhan tidak menciptakan dua hati di dalam diri Anda. Jangan mengunjungi wali manapun, yang masih hidup maupun yang sudah meninggal, sebab tidak seorang pun dapat melayani dua mursyid sekaligus. Anda harus disiplin dan menjalankan shalat lima waktu dalam jamaah dan disiplin dalam menjalankan ketentuan-ketentuan syari’at, sebab semua itu telah ditetapkan oleh makhluk terbaik (Nabi SAW). Anda harus mencintai Syekh dan khalifahnya selama hidup Anda, sebab bagi makhluk biasa cinta semacam itu adalah sarana untuk kemanunggalan: dan jangan berfikir bahwa Anda mampu menjaga diri Anda sendiri dari Kreativitas Tuhan Semesta, sebab ini adalah salah satu ciri dari kegagalan.

Anda dilarang untuk memfitnah, atau menimbulkan permusuhan terhadap Syekh Anda, sebab hal itu akan membawa kerusakan pada diri Anda. Anda dilarang berhenti untuk melantunkan awrad selama hidup Anda, sebab awrad itu mengandung misteri-misteri Sang Pencipta. Anda harus yakin bahwa Syekh mengatakan kepada Anda tentang kebijakan-kebijakan, sebab itu semua termasuk ucapan-ucapan Tuhan Yang Awal dan Yang Akhir.

Anda dilarang mengkritik segala sesuatu yang tampak aneh dalam thariqah ini, atau Penguasa Yang Adil akan mencabut Anda dari kebijak-kebijakan.

Jangan melantunkan wirid Syekh kecuali sesudah mendapat izin dan menjalani pentasbihan (talqin) yang selayaknya, sebab itu keluar dalam bentuk ujaran yang lugu. Berkumpullah bersama untuk wadhifah dan dzikir Jum’at dengan persaudaraan, sebab itu adalah penjagaan terhadap muslihat syetan. Anda dilarang membaca Jauharat al-Kamal kecuali dalam keadaan suci dari hadats, sebab Nabi SAW akan hadir dalam pembacaan ketujuh.

Jangan menginterupsi (pelantunan yang dilakukan oleh) siapa pun, khususnya oleh sesama sufi, sebab interupsi semacam itu adalah cara-cara syetan. Jangan kendur dalam wirid Anda, dan jangan pula menundanya dengan dalih apa pun atau yang lain, sebab hukuman akan jatuh kepada orang yang mengambil wirid lantas meninggalkan sama sekali atau melupakannya, dan dia akan menjadi hancur. Jangan pergi dan mengalihkan awrad tanpa izin yang layak untuk malakukan itu, sebab orang yang melakukan hal itu dan tidak bertaubat niscaya akan sampai kepada kejahatan dan kesengsaraan akan menimpanya. Anda dilarang memberitahukan wirid kepada orang lain kecuali saudara Anda dalam thariqah, sebab itu adalah salah satu pokok etika sains spiritual”.

Setiap tarekat memiliki satu atau lebih doa kekuatan khusus, misalnya Hizb al-Bahr milik Tarekat Syadziliyah, Subhan ad-Daim Isawiyah, Wirid as-Sattar milik Khalwatiyah, Awrad Fathiyyah milik Hamadaniyyah, dan lain-lain. Ciri khusu dari dzikir dan wirid yang menjadi andalan milik penuh tarekat ini adalah Shalawat Fatih dan Jauharat al-Kamal. Mengenai Shalawat Fatih, at-Tijani mengatakan bahwa dirinya telah memperintahkan untuk mengucapkan doa-doa ini oleh Nabi SAW sendiri. Meskipun pendek, doa itu dianggap mengandung kebaikan dalam delapan jenis: orang yang membaca sekali, dijamin akan menerima kebahagiaan dari dua dunia; juga membaca sekali akan dapat menghapus semua dosa dan setara dengan 6000 kali semua doa untuk memuji kemuliaan Tuhan, semua dzikir dan doa, yang pendek maupun yang panjang, yang pernah dibaca di alam raya. Orang yang membacanya 10 kali, akan memperoleh pahala yang lebih besar dibanding yang patut diterima oleh sang wali yang hidup selama 10 ribu tahun tetapi tidak pernah mengucapkannya. Mengucapkannya sekali setara dengan doa seluruh malaikat, manusia, jin sejak awal penciptaan mereka sampai masa ketika doa tersebut diucapkan, dan mengucapkannya untuk yang kedua kali adalah sama dengannya (yaitu setara dengan pahala dari yang pertama) ditambah dengan pahala dari yang pertama dan yang kedua, dan seterusnya.

Tentang Jauharat al-Kamal, yang juga diajarkan oleh Nabi SAW sendiri kepada at-Tijani, para anggota tarekat ini meyakini bahwa selama pembacaan ketujuh Jauharat al-Kamal, asalkan ritual telah dilakukan sebagaimana mestinya, Nabi SAW beserta keempat sahabat atau khalifah Islam hadir memberikan kesaksian pembacaan itu. Wafatnya Nabi SAW tidaklah menjadi tirai yang menghalangi untuk selalu hadir dan dekat kepada mereka. Bagi at-Tijani dan anggota tarekatnya, tidak ada yang aneh dalam hal kedekatan ini. Sebab wafatnya Nabi SAW hanya mengandung arti bahwa dia tidak lagi dapat dilihat oleh semua manusia, meskipun dia tetap mempertahankan penampilannya sebelum dia wafat dan tetap ada di mana-mana: dan dia muncul dalam impian atau di siang hari di hadapan orang yang disukainya.

Akan tetapi kaum muslim ortodoks membantah penyataan Ahmad Tijani dan para pengikutnya yang menyangkut pengajaran Nabi SAW ini kepadanya. Sebab jika Nabi SAW secara pribadi mengajari at-Tijani rumusan-rumusan doa tertentu maka itu berarti bahwa Muhammad telah “wafat” tanpa menyampaikan secara sempurna pesan kenabiannya, dan mempercayai hal ini sama dengan tindak kekafiran, kufr.

Tentu saja, alasan kaum muslim ortodoks ini masih bisa diperdebatkan, misalnya tanpa bermaksud membela tarekat ini dengan mempertanyakan kembali, apakah betul pengajaran Nabi SAW melalui mimpi itu berarti mengurangi kesempurnaan kenabiannya? Bukankah substansi dari pengajaran itu lebih tertuju kepada perintah bershalawat yang masih dalam bingkai pesan kenabian (syari’at), dan bukan merupakan hal yang baru? Bukankah Nabi SAW pernah bersabda bahwa mimpi seorang mukmin seperempat puluh enam dari kenabian? Menyangkut pahala pembacaannya, bukankah rahmat dan anugerah Allah yang tak terhingga akan tercurahkan kepada umat Islam yang senantiasa mewiridkan shalawat kepada sang hamba paripurna, kekasih dan pujaan-Nya, Muhammad Rasulullah SAW?.

  1. Saya ingin belajar Tarekat Tijaniyah dan saya mohon alamatnya yang terdekat, karena saya tinggal di Jakarta Pusat.

  2. coba tlp habib dza’far di 08123456002

  3. Saya ingin belajar Tarekat Tijaniyah dan saya mohon alamatnya yang terdekat, karena saya tinggal di Tuban Jatim.

  4. saya ingin menelah secara kritis ajaran-ajaran tarekat atijaniaya

  5. saya ingin menelaah secara kritis ajaran-ajaran tariat tijaniyah

  6. saya ingin menelaah secara kritis ajaran-ajaran tarikat tijaniyah,saya sekarang tinggal di cairo mesir(universitas al-azhar). mohon alamat,imail atau telpon yang bisa saya hubungi

  7. tarekat tijaniyah dengan amalan wirid yg sangat sederhana dan mudah di laksanakan pada pagi dan petang setelah ba’da subuh dan ba’da asyar
    Istigfar 100 x shalawat 100 x dzikir 100 x
    di dalam alqur’an begitu banyak firman allah yg menyeru kepada hambanya agar selalu membaca istigfar shalawat dan dzikir
    inti nya adalah hendaklah manusia mebersihkan diri dari dosa nya 2 x dalam sehari
    tarekat tijaniyah tersebar di pelosok negri ini Jakarta,Bogor,Bandung,Garut Surabaya,Pati,Madura,Dll

  8. Assalamualaykum
    TARIQA TIJANIYYAH is based on three (3) principles:

    1) Seeking the forgiveness of Allah (Astaghfirullah), Sura Hadid (57) v. 21, “Be ye foremost in seeking forgiveness from your Lord”. The Prophet (pbuh) used to ask Allah for forgiveness and repentance more than one hundred times every day.

    2) Saying La ilaha illa-llah. In the Hadith, the Prophet (pbuh) said, “The best word I have ever said together with the previous prophets is the word La ilaha illa- Ilah”. Sura Baqara (2) v. 152, “Then do ye remember Me; I will remember you”.

    3) The offering of prayers upon the Prophet (pbuh) Salat `Ala Nabiy,
    Sura Ahzab (33) v. 56. Moreover, the Prophet (pbuh) said in the Hadith,, “Whoever offers one prayer on me, Allah will offer ten on him; if’ he makes it ten, Allah will make it one hundred for him, if he makes it one hundred, Allah will make it one thousand for him, if he makes it a thousand, he will enter paradise shoulder to shoulder together with me”.
    So these are the principles and some bases of support for the Zikr of the Tariqa Tijaniyya. It is solely derived from Qur`an and Hadith. In the final analysis, we are Muslims looking for the truth, and wherever we see the truth, we shall follow.
    Some Conditions of Membership in the Tijaniyya Order:
    2. – Those who seek initiation must free themselves from the Wird of any other Shaykh that may have been required of them and abandon such a Wird and never return to it.
    3. – One must not visit any Saints living or dead (implying that the disciple is bound to the one Shaykh who has initiated him).
    4. – One must seek to observe the five daily prayers in a group and to fulfill the requirements of the Shari`ah.
    5. – One must ceaselessly love the Shaykh until his death, and one must love the successor (Khalifa) to the Shaykh and all that which was close to the Shaykh, such as his chosen followers, and his directives, in the same way that one loved the Shaykh.
    8. – One should persevere with the Wird until death.
    12. – One must gather in a group for the recitation of the Wazifah and for the recitation Zikr of the Hailala on Friday afternoon.
    14. – One must refrain from any activities that might result in the rupture of good relations between himself and his fellow men, and especially between himself and his brothers in the Tariqa.
    17. – One must respect everyone who has been affiliated with the Shaykh, especially the eminent members of the Tariqa.
    As Salaamu `Alaykum

  9. GIN GIN GUNAWAN tariqah tijaniyah d a Pondok pesantren DARUS SALAM Mojosari Mojokerto Jawa timur
    Drs H M Yunus A Hamid

  10. saya dari putrajaya,malaysia.adakah ahli di malaysia yg boleh dihubungi untuk bertanyakan hal tarekat ini.wasalam

  11. saya dari indonesia ingin tau lebih banyak tentang thariqoh at tijaniyah gimana ya caranya?

  12. ASSS…………………. boleh saya minta doa jauharatul kamal dengan bahasa arab,kalau boleh kirim ke email saya celepuk_asik2006@yahoo.com

  13. sebelumnya saya sangat berterimakasih atas perhatiannya untuk memberikan doa jauharatul kamal,selama ini saya mencari doa jauharatul kamal,mungkin di sini saya bisa mendapatkan,thank andi

  14. Ikhwan Tijaniyyah rohimakumulloh.
    Insya Alloh pada tanggal 1-2 Maret 2008 diselenggarakan Idul Khotmi di Jati Barang Brebes. Sekalian ikhwan yang memungkinkan hadir, mudah-mudahan hadir pada kesempatan yang sangat penting ini.

    Selamat bertemu di Jatibarang Brebes.

  15. saya sbg ikhwan at tijaniyah zawiyah garut sangat senang dan bangga kepada seluruh masyarakat indonesia telah memilih thorikoh at tijaniyah sbg tarikatnya nya diri masing masing.

  16. Tijaniah is the best

  17. untuk semua ikhwan mudah-mudahan dapat berkah dari syeh ahmad bin muhammad at-tijani.
    untuk ikhwan yang mau tahu lebih dalam tentang thoriqot tijani ini. bisa datang pada minggu ke-2 setiap bulan, di Condet jalan gang buluh rumah Ust. Abdul Aziz

  18. @ qosim bawafi

    kawan, kalo anda masih di Kairo dan ingin mengenal lebih dekat tentang Tarekat Tijaniyah, silakan hubungi saya di no. 0102812181
    atau ym: f_abror@yahoo.com, pm aja… saya sering invisible.
    insya Allah saya bantu… kalo pengin ke tempatnya saya antar.

    @ abu hassan abd rahman

    coba awak hubungi ustaz Awis bin Ayyub di number: 0177974221
    semoga informasi ini membantu.

    salam para pencari Al-Haqq

  19. gin gin gunawan.coba hubungi KH Abdurrozaq,bonang lasem rembang.telp:0295-531545 atau 081326083629

  20. Untuk daerah Bandung dan Jawa Barat, peminat Tarekat Tijaniyah bisa berkunjung ke http://tijaniyahgarut.wordpress.com, atau langsung bertandang ke Zawiyah Tarekat Tijaniyah di Samarang, Garut dan menemui muqaddamnya Dr. KH. Ikyan Badruzzaman. Boleh telpon dulu langsung ke beliau 08122398184. Salam untuk para ikhwan. (Moeflich Hasbullah)

  21. Salamum aleikum,
    Please can you send me the context of JAURATUL KAMAL, which is recited during Wazifat. Prefarably transliterated. Maa Salaam

  22. Salamum aleikum,
    Please can you send me the context of JAURATUL KAMAL, which is recited during Wazifat. Prefarably transliterated. Maa Salaam
    Email: balaaa2003@yahoo.com

  23. ikhwan tijani yang terhormat jangan lupa amalkan baiatanmu jangan sampai lalai sehingga lupa… key….
    see you letter

  24. Harun
    Bagi anda yang berminat mempelajari tarekat Tijani atau yang ingin berbaiat langsung dengan Sayyidi Syaikh (yang sekarang), silakan datang langsung ke Bogor (Jawa Barat, Indonesia) dengan alamat:

    Majlis At-Tijaniyah, Komplek Cibalagung Indah No.1 Ciomas
    Rumah Bapak Muhammad Syuaib, BOGOR

    Tiap malam tertentu anda bisa bertemu dengan para ikhwan Tijani dari berbagai daerah. Anda juga bisa mengetahui silsilah yang benar tentang masyayikh (para syaikh) dari syaikh Ahmad Tijani hingga syaikh yang sekarang ini. Syukur-syukur anda bisa jumpa langsung dengan Sayydi Syaikh bila datang ke majlis di BOGOR.
    Demikian informasi ini, mudah-mudahan dapat membantu bagi anda yang ingin mengetahui pusat At-Tijaniyah di Indonesia.

  25. salam wat ikhwan tijani…saya fahim,,,tinggal di zawiyah thariqat tijaniyah samarang garut.
    bagi ikhwan tijani di tunggu kehadiranya setiap malam senin zawiyah mengadakan dzikir ikhtiyariyah.
    hub.email saya cr7_fahim@yahoo.com

  26. Ass.wr.wb mengenai doa jauharatul kamal penbacaan 12x tidak tercantum bacaan doanya. dapat menghubungi siapa?hub.email evasheira@gmail.com
    wassalam.wr.wb

  27. Saya tinggal di Jember – Jawa Timur, bs hub siapa utk mndptkn info ttg tarekat Attijani, thx! Ym: lohsiaf

  28. Saya ingin belajar Tarekat Tijaniyah dan saya mohon alamatnya yang terdekat, karena saya tinggal di Banjarmasin

  29. Ass.wr.wb.
    Apa kbr dunia?sya glang,ikhwan dri jakarta.saya snang dgn adanya stus ini.doa saya mdah2an tarekat tijaniah bsa dipeluk oleh seluruh umat islam dmanapun berada.krn,insya allah,ataz izin nya kta dpt berkumpul di majeliz yg sm di tempat yg sudah djanjikan oleh allah Swt.amien..

  30. Assalaamu’alaikum,

    Saya akan mencoba menceriterakan apa yang saya tahu, selebihnya anda silakan datang ke majelis di Bogor bila ingin mengetahui lebih dalam>

    Susunan silsilah masyayikh/khalifah (para syaikh) dan itu selalu dibaca bila memulai wirid tertentu, yaitu :

    1. Syaikh Ahmad At-Tijani
    2. Syaikh Muhammad Al-Ghola
    3. Syaikh Muhammad Al-Fahasyim
    4. Syaikh Ali Thoyyib
    5. Syaikh Usman Dhomiri
    6. Syaikh Muhammad Sudjatma Ismail
    7. Syaikh Muhammad Syua’ib

    Pengganti dari Syaikh Ahmad Tijani disebut sebagai Khalifah, yaitu penerus perjuangan Syaikh Ahmad Tijani. Para khalifah tersebut dibantu oleh banyak muqaddam yang tersebar di beberapa tempat (daerah). Beberapa murid yang dikenal kedudukannya sebagai muqaddam di antaranya : KH. Badruzzaman ( wilayah Garut & sekitarnya dan KH. Abbas (wilayah Cirebon & sekitarnya), juga para muqaddam di wilayah lain seperti Sukabumi, Banten, dll. Untuk mengajarkan ilmu kepada orang lain para muqaddam harus seizin khalifah, pun untuk setiap ilmu dari tarekat Tijani untuk setiap orang harus seizin khalifah. Bila khalifah meninggal dunia maka para muqaddam harus bermakmum/berkhidmat kepada khalifah baru yang ditunjuk secara spiritual oleh khalifah sebelumnya. Hal ini wajib dilakukan untuk menunjukkan adab dan ketaatan seorang murid kepada khalifah. Mungkin anda mengetahui bahwa tarekat Tijani sangat menjunjung tinggi ADAB kepada khalifah Rasulullah/guru, dalam hal ini khalifah dalam tarekat Tijani. Sampai-sampai seorang Tijaniyah dilarang keras berziarah kepada wali-wali selain wali-wali Tijaniyah.
    Dari keenam khalifah di atas, 3 orang terakhir adalah berasal dari Indonesia, yaitu Syaikh Usman Dhomiri Al-Attas (keturunan Arab), Syaikh Sudjatma dan Syaikh Muhammad Syu’aib. Syaikh Usman bertemu dan diangkat sebagai murid Syaikh Ali Thoyyib di Mekkah ketika beliau sedang menimba ilmu di sana. Selepas belajar di Madinah, Syaikh Usman pulang ke Cimahi untuk menyebarkan tarekat. Beberapa waktu kemudian Syaikh Ali Thoyyib datang ke Indonesia dan melimpahkan pundak kekhalifahan Tijaniyah kepada murid pilihan, yaitu Syaikh Usman. Begitu pula seterusnya ketika sudah jatuh waktunya, Syaikh Usman memberikan tugas kekhalifahan kepada murid terpilih, yaitu Syaikh Sudjatma (Bogor). Dan dari Syaikh Sudjatma diteruskan kepada murid pilihan, yaitu Syaikh Muhammad Syua’ib sampai sekarang. Jadi penunjukan syaikh-syaikh dalam tarekat Tijaniyah khususnya, tidaklah berdasarkan keturunan, tetapi penunjukan langsung oleh Rasulullah SAW secara KASYAF disaksikan oleh masyayikh sebelumnya.

    Amalan dasar seorang pengikut tarekat Tijani adalah wirid Ladzimah, yang lazim dibaca ba’da sholat Subuh dan ba’da sholat Ashar. Di atas itu adalah wirid wadzifah wa hailalah, yang dibaca setiap hari Jum’at. Yang paling tinggi adalah Al-Jauharotul Kamal (Mutiara Kesempurnaan). Untuk sampai kepada Al-Jauharotul Kamal harus melewati beberapa tingkatan, di antaranya beberapa puasa. Di dalam ajaran Tijaniyah puasa dimulai dari yang 3 hari, 10hari, 45 hari hingga puasa 100 hari, dan yang terakhir puasa 3 tahun. Jadi tidak seperti makan cabe langsung terasa pedasnya. Ada juga wirid-wirid tertentu untuk tujuan tertentu, seperti hizb Al-Bahr (untuk keduniawian/rezeki), wirid untuk bertemu Rasulullah saw, wirid untuk ketabiban, wirid untuk perang, dan lain-lain yang semuanya itu harus melewati beberapa tingkatan.

    Bila seorang murid hingga meninggal dunia hanya mempunyai wirid dasar yaitu Ladzimah, itu pun sudah mencukupi, karena Rasululllah saw. pernah bersabda bahwa bila seorang murid melazimkan wirid hingga meninggal dunia maka dia, istri-istri dan anak-anaknya, berikut kedua orang tuanya akan dimasukkan surga tanpa hisab; tidak akan mengalami pertanyaan di kubur, tidak akan mengalami huru-hara di padang mahsyar dan melewati shirat secepat kilat. Dan tidak akan meninggal seorang murid kecuali dalam kedudukannya sebagai seorang wali. Oleh karena itu pula seorang murid Tijani dilarang keras berziarah kepada wali-wali yang lain.

    Segudang ilmu terdapat di dalam tarekat Tijani, baik ilmu keakhiratan, ilmu dunia (rezeki, kewibawaan, dll), ilmu perang , pengobatan dll. Ilmu-ilmu tentang keduniawian dihimpun dalam 40 kitab, yang setiap kitabnya memuat/mengajarkan 50 ilmu. Jadi ilmu-ilmu keduniawian ada sekitar 2000 ilmu. SELURUH kitab-kitab Tijaniyah yang diwariskan oleh Asy-Syaikh Al-Mukarrom Ahmad At-Tijani sejak lk 2 abad yg lalu tetap terpelihara terdapat di majelis Bogor, dalam genggaman khalifah yang sekarang Asy-Syaikh Hadji Muhammad Syu’aib. Bila saudara ingin mengetahui semua kitab-kitab ukhrowi & dunya Tijaniyah, silakan datang ke majelis Bogor. DAN, bila saudara hendak mencari seorang Syaikh Tijani yang menggenggam seluruh ilmu hikmah, silakan datang ke majelis Bogor dan belajarlah tarekat secara BENAR dan ADAB.

    Assalamualaikum,

    HARUN PRIBADI

  31. Kepada para murid Tijaniyah di manapun saudara berada. Saya hendak menunjukkan apa yg semestinya kita lakukan sejak kita menjadi murid hingga akhir hayat nanti. Setidak-tidaknya, jumpailah khalifah kita dan minta barokah selamat dari beliau karena beliaulah yg menggenggam SELURUH keilmuan Tijaniyah. Bila Tijaniyah diilustrasikan sebagai sebuah kerajaan/kesultanan, maka Syaikh/khalifah adalah Raja/Sultan yg memimpin, dan kita murid adalah rakyatnya yg dipimpin, diberi perlindungan dan kasih sayang dari sang “Raja/Sultan”. Batas kewenangan muqaddam adalah pembantu Raja, seperti menteri.
    Oleh karena itu saya memberi nasehat, jumpailah “Raja/Sultan” kita, yang memimpin kita secara spiritual/ruhaniyah, dan memberi jalan kepada kita agar ruhaniyah kita melambung ke tempat yg “TINGGI”.
    Setiap malam Jum’at kami biasanya berkumpul di majlis untuk melakukan sholawatan berjama’ah yg dipimpin langsung oleh Sayyidi Syaikh. Beberapa muqaddam resmi dan murid berdatangan, dari sekitar Bogor, Sukabumi, Cianjur, Depok, Jakarta dan yg terjauh dari Bandung; ada juga yg dari Banten. Bila saudara mau melapangkan waktu, silakan datang ke majlis di Bogor.

    Bila sampai di kota Bogor, maka alamat yg dituju adalah;
    PERUMAHAN CIBALAGUNG INDAH No. 1 (Paling ujung)
    Dekat PT JIN
    Ciomas, BOGOR (Rumah Bpk. Muhammad Syu’aib)

    Banyak bertanya, insya Alloh akan sampai ke majlis!
    Silakan datang bila ingin mendapatkan ajaran dan amalan Tijani yang BENAR (kalau istilah sekarang: SESUAI PROSEDUR). Demikian yang dapat saya sampaikan, insya Alloh berkah selamat tetap mengalir kepada diri kita semua.

    Assalaamu’alaikum
    H. Harun

  32. KOREKSI TENTANG SEJARAH TIJANIYAH

    Assalaamu’alaikum.

    Akhirnya ada juga ikhwan “Tijaniyah” yang menyempatkan diri untuk berbagi pengetahuan tentang tarekat (bukan ilmu tarekat) yang kita amalkan di beberapa bloq. Walaupun hanya tulisan2 yang berkenaan dengan sejarah perkembangan Tijaniyah, itu sudah menunjukkan bahwa kita bangga dengan jalan/tarekat yang kita lakoni.
    Tetapi sayang, tidak semua isi tentang sejarah perkembangan Tijaniyah yang dimuat benar. Ada sesuatu yang sengaja disembunyikan; ada sesuatu yang kita tidak mau mengakuinya secara jujur.
    Ada yang salah kaprah di sini dan dengan mudahnya menyamakan Thoriqoh seperti layaknya organisasi keagamaan (seperti NU, Muhammadiyah, Al-Irsyad, dll).

    Sebenarnya ada 2 (dua) hal yang ingin kami koreksi dan menyampaikannya kepada khalayak Tijaniyah, yaitu sejarah perkembangan dan tatacara/Adab tholaab ilmu. Namun untuk ulasan saat ini, saya hanya ingin menyampaikan tentang sejarah perkembangan Tijaniyah di Indonesia.

    Memang benar Syaikh Ahmad Tijani memberi ijazah kepada banyak murid. Dan dari banyak murid itu beliau angkat beberapa Muqaddam. Dan dari beberapa Muqaddam itu beliau angkat beberapa Khalifah (Pemimpin perguruan). Berkembangnya Tijaniyah di Indonesia lebih masyhur dikaitkan dengan perjumpaan antara Syaikh Ali Thoyib (saat itu sudah menjadi khalifah/pemimpin perguruan) dengan Kiai Usman Dhomiri. Singkat cerita, ketika Syaikh Ali Thoyib datang dan bermukim di Indonesia dalam waktu yg cukup lama, beliau memberi ijazah/taqlid/izin kepada beberapa orang menjadi murid beliau. Dari beberapa murid itu, diangkatlah beberapa Muqaddam, di antaranya :

    1. Kiai Ahmad Sanusi
    2. Kiai Muhammad Sudja’i
    3. Kiai Usman Dhomiri (Cimahi, Bandung)
    4. Kiai Anas, kiai Abbas, kiai Akhyas
    5. Kiai Badruzzaman
    6. Kiai Abdul Wahab Sya’roni

    Ada satu contoh yang bisa menggambarkan tentang ADAB murid kepada gurunya, yaitu tentang Kiai Anas. Walaupun kiai Anas memperoleh ijazah pertama kali dan murid dari Syaikh AlFahasyim, namun ketika Syaikh AlFahasyim wafat dan digantikan oleh Syaikh Ali Thoyib, maka kiai Anas dengan ikhlas mengakui Syaikh Ali Thoyib sebagai guru (Pemimpin perguruan) beliau dan ber-ijazah untuk kedua kalinya. Kita bisa membayangkan bagaimana besarnya penghormatan Kiai Anas kepada Guru, walaupun sang guru seusia atau bahkan lebih muda usia. Itu adalah contoh ADAB yang mulia kepada Guru/SYAIKH, bagi yang meyakini bahwa tarekat Tijaniyah adalah AGUNG dan TINGGI.

    Ketika Syaikh Ali Thoyib akan wafat, maka dari beberapa Muqaddam yang dipilih sebagai SYAIKH (Pemimpin perguruan) penerus adalah Kiai Usman Dhomiri. Maka sejak saat itu kiai Usman Dhomiri bergelar SYAIKH dan seluruh murid dan Muqaddam harus berkhidmat kepada SYAIKH yang baru, yaitu Syaikh Usman Dhomiri. Dengan menerima gelar SYAIKH, maka beliau menerima pula warisan Kitab JAWAHIRUL MA”ANI dan kitab2 yang lain termasuk 40 kitab yang berisi ilmu keduniawian.
    Dalam perkembangan selanjutnya, bertambahlah murid beliau dan diangkatlah beberapa Muqaddam baru, di antaranya kiai Sudjatma Ismail (Bogor). Nah, di zaman kepemimpinan perguruan di bawah Syaikh Usman inilah terjadi benturan-benturan emosional yang sulit untuk mengakui Syaikh Usman sebagai Guru perguruan Tijaniyah, terutama dari beberapa Muqaddam yang jauh lebih sepuh usianya.
    Dan hal ini akhirnya berlanjut menjadi semacam “Penyelewengan Kesetiaan” hingga kepada Syaikh yang berikut sampai sekarang. Syaikh Usman Dhomiri hanya mengangkat 4 (empat) orang Muqaddam, yaitu :
    1. Kiai Sudjatma Ismail
    2. Kiai Nu’man Dhomiri (Putra Syaikh Usman)
    3. Kiai Muallim
    4. Kiai X (maaf, kami lupa namanya)

    Beberapa murid Syaikh Usman yang merupakan tokoh2 penting Indonesia, di antaranya adalah Presiden Soekarno, KH. Hasyim Asy’ari (pendiri NU) dan KH. Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah).

    Ada satu kejadian menarik di zaman Syaikh Usman, bahwa putra dari Syaikh Ali Thoyib pernah meminta beberapa Kitab (termasuk Jawahirul Ma’ani) agar diserahkan kepada beliau, tetapi Syaikh Usman menolak dengan keras. Tetapi anehnya putra dari Syaikh Ali Thoyib tersebut bisa mengadakan semacam perguruan Tijaniyah di tempat lain tanpa seizin Pemimpin Perguruan Tijaniyah; sesuatu di luar keladziman tarekat Tijani ( sebagai pengganti istilah ADAB).

    Singkat cerita, ketika Syaikh Usman akan wafat, maka dari beberapa Muqaddam beliau yang dipilih sebagai SYAIKH (Pemimpin perguruan) penerus adalah Kiai Sudjatma Ismail. Maka sejak saat itu kiai Sudjatma Ismail bergelar SYAIKH dan seluruh murid dan MUQADDAM wajib berkhidmat kepada SYAIKH (Pemimpin perguruan) yang baru, yaitu Syaikh Sudjatma Ismail. Dengan menerima gelar SYAIKH, maka beliau menerima pula warisan Kitab JAWAHIRUL MA”ANI dan Kitab2 yang lain termasuk 40 kitab yang berisi 2000 ilmu keduniawian. Dalam perkembangan selanjutnya, bertambahlah murid beliau dan beliau mengangkat beberapa Muqaddam, di antaranya kiai Muhammad Syua’ib.

    Singkat cerita, ketika Syaikh Sudjatma akan wafat, maka Muqaddam yang beliau pilih sebagai penerus Pemimpin perguruan Tijaniyah adalah kiai Muhammad Syua’ib. Maka sejak saat itu kiai Muhammad Syua’ib bergelar SYAIKH dan seluruh murid dan Muqaddam wajib berkhidmat dan tunduk kepada SYAIKH yang baru. Dengan menerima gelar SYAIKH, maka beliau menerima pula warisan Kitab JAWAHIRUL MA”ANI dan Kitab2 yang lain termasuk 40 kitab yang berisi 2000 ilmu keduniawian.
    Syaikh Muhammad Syua’ib diangkat sebagai Syaikh dalam usia yang masih sangat muda, 30-an tahun

    Di zaman Syaikh Sudjatma Ismail dan zaman Syaikh sebelumnya, aturan2 di dalam tarekat Tijaniyah sangat keras diberlakukan. Oleh karena itu, sebenarnya secara fakta ada beberapa murid dan Muqaddam yang tidak diakui lagi sebagai murid tarekat Tijani, alias dipecat, dan dicabut seluruh barokah dan manfaat ilmunya. Sebab musababnya berbagai macam; ada yang mencuri kitab, ada yang mengamalkan ilmu tanpa izin SYAIKH, ada yang berbohong, ada yang memfitnah SYAIKH atau mengadakan kegiatan perguruan di luar perguruan pimpinan SYAIKH.
    Dan di zaman Syaikh Sudjatma dan zaman syaikh sebelumnya, seseorang belumlah diaku sebagai murid sebelum ijazah puasa 3 hari.

    Jadi, kepada murid2 Tijaniyah dan saudara2 yang berminat tholaab ilmu Tijani, datangilah Muqaddam yang ada di kota/daerah anda untuk meminta ijazah tarekat, tetapi carilah Muqaddam yang sanad Ijazahnya tidak meragukan, bersambung secara jelas hingga kepada SYAIKH (Pemimpin Perguruan Tijaniyah) yang hidup, bukan saja sampai kepada sanad Syaikh yang sudah lama wafat. Kalau saudara ragu2, maka sebaiknya datangilah langsung SYAIKH di tempat beliau tinggal, itu lebih utama.

    Seluruh SYAIKH tarekat- sanadnya MUTLAQ bersambung hingga kepada Rasulullah SAW. Dalam arti bahwa, semua SYAIKH tarekat adalah keturunan dari Rasulullah SAW, baik dari pihak Sayyidina Hussein r.a ataupun dari Sayyidina Hasan r.a, atau juga dari kedua-dua pihak.

    Dalam tarekat Tijaniyah, SYAIKH diangkat secara KASYAF dan mewarisi seluruh ilmu Tijaniyah tanpa mempelajarinya. Yaa, secara logika saja, bila harus dipelajari/tholaab, maka 2000 ilmu itu akan memakan waktu yang sangat lama, bahkan setelah wafatpun belum tentu tamat. Para MUQADDAM dan MURID tidaklah mewarisi ilmu, tetapi THOLAAB ILMU, harus mengamalkan ilmu dengan syarat2 yang sudah ditentukan. Paling2 kita sebagai murid /muqaddam hanya kuat tamat 1-2 kitab (50-100 ilmu) saja sampai tutup usia.

    Sebagai penutup ulasan, saya ingin mengingatkan diri kita akan perkataan Rasulullah SAW:
    “Carilah ilmu (tholaab ilmu) sampai ke negeri Cina”, kita perumpamakan sebagai “tholaab-lah ilmu Tijani sampai ke negeri seberang”. Tetapi kita patut bersyukur, bahwa ada satu SYAIKH Tijani yang tidak jauh dengan tempat tinggal kita dan tidak perlu biaya yang mahal untuk mendatanginya. Bila saudara2 meyakini bahwa Tijaniyah itu kedudukannya AGUNG dan TINGGI, maka tak ada sesuatupun yang bisa menghalangi saudara2 untuk bertemu dengan SYAIKH yang menggenggam segudang ilmu, tentunya yang dimaksud adalah SYAIKH penerus dari SYAIKH yang sudah wafat. Kecuali, kita mempunyai kemampuan bertemu dengan SYAIKH yang sudah wafat tersebut dalam keadaan KASYAF. Jadi, setelah Syaikh Usman Dhomiri wafat, kepemimpinan perguruan dipegang oleh Syaikh Sudjatma Ismail (yg sebelumnya sebagai Muqaddam dari Syaikh Usman) dan kita wajib berkhidmat kepada SYAIKH yang baru. Dan setelah Syaikh Sudjatma wafat, kepemimpinan perguruan dipegang oleh Syaikh Muhammad Syua’ib sampai sekarang dan kita wajib berkhidmat kepada beliau. Lhaa, kalau nanti Syaikh Muhammad Syua’ib wafat, siapa yang memegang/meneruskan kepemimpinan?? Wallohu a’lam. Yang pasti seseorang dibai’at sebagai SYAIKH karena pilihan dan petunjuk dari Rasulullah SAW. Jadi, kalau kita memiliki ilmu KASYAF, bergurulah langsung kepada GURU BESAR yang sudah wafat: Sayyidi Syaikh Ahmad Tijani. Nggak perlu berguru kepada Syaikh Muhammad Al-Ghola hingga Syaikh Muhammad Syua’ib, apalagi berguru kepada murid2 yang tingkatannya hanyalah sebagai MUQADDAM. Mengapa penghormatan kita kepada MUQADDAM jauh melebihi penghormatan kepada SYAIKH (Pemimpin Perguruan Tijani)?
    Bila kita ditakdirkan hidup sampai 500 tahun ke depan, maka kita pun harus tunduk dan berkhidmat kepada SYAIKH yang hidup 500 tahun mendatang.

    Saudara2 harus membaca ulasan saya ini dengan cara berpikir yang tidak perlu ruwet, yang sederhana dan hati yang jernih – sehingga kita nanti akan sampai kepada satu kesimpulan bahwa: “Oh yaa, selama ini karena ketidaktahuanku, aku selalu menunjukkan sikap dan perilaku yang kurang ADAB kepada Pemimpinku (SYAIKH)”.
    (Tentunya yg dimaksud adalah SYAIKH yang masih hidup, bukan yg sudah lama wafat)

    Assalaamu’alaikum.
    H. Harun

  33. Assalamualaikum

    Saya, Maimunah Sayed Jaapar dari Malaysia amat bertuah mendapat blog ini kerana di Malaysia tidak ramai tijanis. Saya insya Allah ingin melawat Bogor untuk berjumpa dengan murid di sana.

    Saya di bayat oleh Muqaddam dari Pakistan lebih kurang 1 tahun yang lalu.

    Wassalam

  34. assalamualaikum

    saya dari malaysia, diamanahkan oleh guru saya di sini untuk mencari alamat2 muqaddam2 di indonesia kerana beliau berminat untuk berziarah ke sana. harap sahabat2 tijaniyyah dapat membantu kami. emelkan ke msimsi80@gmail.com

  35. Assalaamu’alaikum.

    Bila saudara2 berminat/ingin melawat atau bersilaturohmi dengan Sayyidi Syaikh Hadji Muhammad Syua’ib, silakan datang ke alamat :

    PERGURUAN AHLI THORIQOT TIJANIYAH
    “Majelis Taklim Baitur-Rohmat”
    Perumahan Cibalagung Indah No. 4
    Dekat Kantor Kelurahan Pasir Jaya
    Ciomas, BOGOR

    Bila ingin telepon, silakan hubungi :

    Sdr. Muhammad Ikhsan
    Telp. 0251-633861 atau Handphone 08128354999

    Wassalam,
    H. Harun

  36. salam.. terimakasih H.Harun, salam.

  37. please i want the full version of jawharatul kamal.

    (piousshani@yahoo.com)

  38. i want the full version of jawharatul kamal in arabic

  39. assalamu’alaikum..
    saya wiky….
    ingin berhubungan dengan ikhwan tijani yang lain…..
    hub saya di wiky_tijaniyah@yahoo.com

  40. assalamualaikum
    ane dsuruh guru ponpes ane yg dulu utk ditajid karena ane drumh udh g dawamkan toriqoh tijani, selain itu itu dlatar belakangi oleh keresahan ane, makana ane konsul k guru ane, eh beliau nyuruh ditajid? lalu menurut anda apa yang harus dlkukan oleh ane? tlg balas ke email ane babaytarungderajat@yahoo.com, soalna ini penting malah sangat penting bagi ane

  41. assalamualaikum
    dimana ane bisa dapatkan kitab2 terjemahan bahasa indonesia yg mengenai toriqoh tijani, spt terjemahan jawahirul ma’ani dll

  42. Saya kisahkan sebuah peristiwa ketika Syaikh Ahmad Tijani dikunjungi oleh 300 raja-raja Jin Islam dan 60 raja-raja waliyullah. 300 raja2 jin tersebut mengutarakan keinginan mereka untuk diangkat menjadi murid dari Sayyidi Syaikh. Tetapi Sayyidi Syaikh menjawab bahwa beliau ditugaskan hanya untuk kalangan bangsa manusia. Maka semua raja jin tersebut memohon agar diizinkan mengkhodam / menghamba kepada beliau. Dan beliaupun mengizinkan dengan syarat bahwa para raja jin tsb juga mengkhodam kepada syaikh/guru keturunan beliau. Tentunya yang dimaksud adalah syaikh/guru yang BENAR dan SAH secara ruhaniah. Demikian pula dengan 60 raja2 waliyullah, termasuk Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani, memohon kepada Sayyidi Syaikh agar diizinkan untuk berguru (alias diangkat sebagai murid) kepada beliau. Dan Sayyidi Syaikh pun berkata bahwa bagaimana bisa mereka berguru kepada Sayyidi Syaikh sementara derajat mereka adalah raja wali Allah. Dan Sayyidi Syaikh pun berkata bahwa beliau hanya mengayomi dan mendidik orang-orang yang masih hidup.
    Dari kisah di atas dapat kita bayangkan dan tarik kesimpulan bahwa betapa tinggi derajat beliau di atas derajat para raja waliyulah, serta betapa luas dan dalam ilmu dari Sayyidi Syaikh Ahmad Tijani. Kita bisa bayangkan, bahwa untuk para murid beliau sudah disediakan 2000 macam ilmu. Silakan para murid tholaab ilmu2 tsb sesuai kebutuhan tiap individu, tentunya dengan izin dan bimbingan dari GURU yang BENAR dan SAH secara ruhaniah.
    Syarat menjadi murid dari tarekat Tijaniyah adalah
    1. Harus taat kepada Allah & RasulNya
    2. Harus taat kepada Guru
    3. Harus taat kepada kedua orang tua
    4. Harus taat kepada Ulil Amri (pemerintahan yang
    BENAR dan SAH)
    Para pengikut Tijaniyah dianjurkan untuk bergaul dengan sesama manusia dari golongan manapun. Kalau tidak demikian, bagaimana mungkin Bung Karno bisa menjadi presiden dalam waktu yang lama? Bagaimana mungkin Hasyim Asy’ari mengembangkan Nahdhatul Ulama (NU) tanpa sosialisasi kepada masyarakat? Bagaimana mungkin HOS Cokroaminoto mendirikan pergerakan tanpa bantuan kawan2nya? Bagaimana mungkin Pesiden kita sekarang (SBY) dapat mempunyai relasi yang begitu luas dan kuat?
    Yang tidak boleh (dilarang keras) adalah mengunjungi wali-wali selain Tijaniyah, baik yang hidup maupun yang sudah meninggal. Sayyidi Syaikh Ahmad Tijani berkata bahwa tidak akan meninggal seorang Tijaniyah sebelum mendapat derajat kewalian (tentunya derajatnya sesuai amalan). Dan kisah 60 raja wali yang ingin berguru kepada Sayyidi Syaikh, termasuk Syaikh Abdul Qodir Jaelani. Silakan kita semua berpikir dengan keras dan mengambil kesimpulan, mengapa para pengikut Tijaniyah dilarang keras berziarah kepada wali2 selain Tijaniyah, pun kepada wali sekelas Syaikh Abdul Qodir (kecuali ada izin dari GURU), apalagi berziarah kepada wali2 kecil-menengah (wali wilayah)!! Seorang Tijaniyah yang BENAR amalannya, yang tekun dalam ibadahnya, sesungguhnya Nabi SAW akan hadir ketika mereka meninggal dunia dan ketika ditanya di dalam kubur, serta 70.000 malaikat akan berzikir untuknya. Mereka tidak akan meninggalkan dunia kecuali sudah sampai pada tingkat keWaliannya. Orang yang berziarah kepada wali2, tidak ada yang mereka harapkan kecuali keberkahan dan doa. Jadi, bagaimana bisa pengikut Tijaniyah yang dianugerahi mutiara keilmuan yang sangat tinggi harus memohon doa dan keberkahan dari wali2 selain Tijaniyah?? Apakah Guru2 / Syaikh2 mereka (termasuk Syaikh Ahmad Tijani) tidak cukup untuk dimintai doa dan keberkahan sehingga harus menghabiskan tenaga dan waktu untuk ziarah kepada wali2 lain?? Mengapa harus berziarah kepada wali2 lain, sementara 60 raja wali berziarah dan ingin berguru kepada Syaikh Ahmad Tijani?? Jika pengikut Tijaniyah ziarah pada Wali selain gurunya maka hubungan antara mereka dan guru2nya menjadi putus. Juga seluruh pemberian ilmu dari gurunya menjadi putus pula adanya. Mereka tidak ada apa-apanya di hadapan gurunya dan tidak ada yang akan mereka peroleh dari ziarah kepada orang lain. Allah tak menjadikan sesuatu pada seseorang yang bercabang dari dua hati.
    Dan patut pula disimak perkataan dari Sayyidi Syaikh, bahwa semua tarekat akan berakhir (hilang) di akhir zaman, kecuali tarekat Muhammadiyah (alias Tijaniyah). Nama Tijaniyah pada akhir zaman akan berubah menjadi Muhammadiyah. Semua tarekat di akhir zaman akan menjadi tarekat Muhammadiyah/Tijaniyah.
    Kepada semua pembaca yang simpati & empati kepada Tijaniyah, saran saya…….kalau pembawaan kita masih suka banyak bertanya, maka lebih cocok belajar saja dulu seterusnya tentang ilmu2 syari’at (seperti fiqh, ushul, tafsir, muthola’ah hadits, ilmu tentang ma’rifat, ilmu tentang tarekat, dll). Kalau sudah bulat hati masuk tarekat, tinggal diamal saja ilmu2/amalan tarekatnya (bukan ilmu yang membahas & membicarakan tarekat yaa..). Kalau manfaatnya dapat kita rasakan positif buat diri kita, yaa amalkan terus sampai tutup usia. Kalau tidak cocok dengan pembawaan kita, yaa tinggalkan saja.
    Tholaab yang BENAR dan semangat, ibadah yang tekun, biar qolbu terbuka lebar dan mengerti tanpa diberitahu.

  43. I narrate one scene while Syaikh Ahmad Tijani visitted by 300 Islamic Genie kings and 60 waliyullah’s kings. 300 that genie kings inform their wishes to be promoted as student from Sayyidi Syaikh. But Sayyidi Syaikh answered that he is appointed strictly for human nation circle. Therefore all that genie kings besoughts that was conceded serves / help to him. And he concedes by condition of that reigning gin it also serves for syaikh / to learn its offspring until doomsday. Obviously intended one is syaikh / teacher that RIGHT and Legitimate ruhaniah’s ala. Such too with 60 waliyullah’s kings, including Syaikh Abdul Qodir Al Jilani, besought to Sayyidi Syaikh that was conceded for learning (alias is lifted as student). And Sayyidi Syaikh said that how they can learn to Sayyidi Syaikh degree temporary they are guardian reigning Allah. And Sayyidi Syaikh said that he just guards and teach men that stills to live. Then 60 that Guardian kings besought permits to be able to gets solemn to his and Sayyidi Syaikh concedes by condition of 60 that Guardian king also get to teachers / syaikh its offspring until doomsday. Of story upon we can figure out and glean from that just how tall Sayyidi Syaikh’s degree upon degree reigning waliyulah, and just how extent and deep knowledge from Sayyidi Syaikh Ahmad Tijani. We can figure out, that for students its was provided 2000 knowledge kinds. Please students tholaab knowledge it accords requirement every individual, obviously with permit and guidance from TEACHER what do BE RIGHT and ruhaniah’s ala VALIDITY.
    Requisite becomes student from tarekat Tijaniyah is
    1. Shall act up to God & its Apostle
    2. Shall act up to Teacher
    3. Shall obedient to on the two oldster
    4. Shall act up to Ulil Amri (governance that
    Really and VALIDITY)
    Tijaniyah’s fellow men is advised to interact with fellow being of faction whichever. If is not so, how come Mr. Soekarno can become Indonesia president in the period of that so long? How come Hasyim Asy’ari develops Nahdhatul Ulama (NU) without socialization to society? How come HOS Cokroaminoto institutes kith unaided movement its? How come our President now (SBY) can have so relationship extent and heavy duty?
    One that may not (prohibitted hard) is visit sponsors besides Tijaniyah, well the living one and also already dies. Sayyidi Syaikh Ahmad Tijani says that won’t die a Tijaniyah before get Guardian of Allah degree (obviously degree it accords deed). And story 60 guardian kings that want to learn to Sayyidi Syaikh, including Syaikh Abdul Qodir Jaelani. We all please to think strictly and take conclusion, why is Tijaniyah’s fellow men is prohibitted hard gets pilgrimage to sponsors besides Tijaniyah, even to sponsor one Syaikh Abdul Qodir’s class (but there is permit from Syaikh), evenless gets pilgrimage to sponsor littling to intermediate (territorial sponsor)!! A Tijaniyah that RIGHT its deed, one that keen in its religious service, most verily Prophet SAW will be present while they pass away and while be asked in grave, and 70.000 angels will get recitations for it. They won’t leave the world but came up guardian of Allah zoom. Person that gets pilgrimage to sponsors, no that their hope for but blessing and invocation. So, how can Tijaniyah’s fellow that bestowed by scholarly pearl that highly shall besought invocation and blessing of sponsors besides Tijaniyah?? What is Teachers / their Syaikh (including Syaikh Ahmad Tijani) not sufficiently to be asked for invocation and blessing so shall fag out and time for pilgrimage to other sponsors?? Why shall get pilgrimage to other sponsors, while 60 guardian kings get pilgrimages and want teacher to Syaikh Ahmad Tijani?? If Tijaniyah’s fellow pilgrimage on Guardian besides their teacher therefore relationship among them and its teacher becomes disconnect. Also exhaustive knowledge application of its teacher becomes disconnect too mark sense. They are its nothing are before teacher its and no that they will get from pilgrimage to others. God don’t make something on someone that branching of two hearts.
    And equitable too learnt by talk from Sayyidi Syaikh, that all tarekat will end (be gone) in the late epoch, but tarekat Muhammadiyah (alias Tijaniyah). Tijaniyah’s name at the early epoch on the turn as Muhammadiyah. Any tarekat in the late epoch wills be tarekat Muhammadiyah / Tijaniyah.
    To all reader which sympathy & empathy to Tijaniyah, my tips is …….if our carry stills favor there are many ask, therefore more match just study previously one goes on it about knowledge syari ’ at (as fiqh, ushul, interpretation, muthola ’ ah hadits, knowledge about ma ’ rifat, knowledge about tarekat, etc.). If was rounded heart comes in tarekat, living at charitable just knowledge / tarekatnya’s deed (not knowledge which works through & speak tarekat ..). If its benefit we can feel positive for us, so practises to go on until age close. If out of keeping with our carry, so just depart.
    Tholaab correctly and spirit, keen religious service, let outspread heart and understands without be informed.

  44. Assalaamu’alaikum.
    Bertarekat adalah mengamalkan ilmu/ajaran yang sah diizinkan (izazah) untuk diamal dan bukan ilmu/ajaran untuk dipikir/didiskusikan. Ajaran Tijaniyah lebih berkisar kepada istighfar, sholawat dan dzikir. Sedangkan hizib2 adalah ilmu atau alat untuk membantu kebutuhan duniawi kita. Jadi ilmu2 hizib tidak akan kita bawa ke akhirat, yang kita bawa hanyalah istighfar-sholawat-dzikir. Itu semua baru kita rasakan manfaatnya setelah kita amalkan dengan benar. Dalam arti susunan bacaannya benar, susunan hadiah hadroh (ila hadroti…) benar, dan yang memberi izazah pun orang yang memang sungguh2 asli/resmi diberi wewenang untuk memberi izazah, tidak boleh sembarang orang, tidak boleh mengamalkan ilmu/wirid dari kitab tanpa izin/izazah – karena tidak akan memberi manfaat, malah menjadi RACUN bagi yang mengamalkan. Kitab2 Tijaniyah umumnya ditulis dalam bahasa Arab yang sebagian besar kita orang Indonesia tidak mengerti artinya dan membacanya.
    Dan kalau pun dipaksakan untuk mengerti artinya, maka harus menyisihkan sebagian besar waktu hariannya untuk belajar dan itu akan membuang waktu dalam MENCARI NAFKAH. Dan mungkin pekerjaan yang lebih utama daripada membaca kitab, yaitu WIRID akan tersisihkan/terabaikan. Kecuali, kita memang belajar ilmu2 syari’at (fiqh, ushul, mutholaah hadits, masa’il, tafsir dll) maka berarti kita mengkhususkan diri, dan ilmu2 syari’at adalah ILMU PIKIR/AKAL bukan ILMU RASA. Jadi kerjaan orang2 tarekat bukan melulu wirid/zikir dari subuh ke subuh. Wirid/zikir itu ada waktunya masing2.
    Jadi, bagus sekali bila kita bisa membaca kitab untuk ditelaah dan didiskusikan (dan juga diperdebatkan). Bagi yang tidak bisa berbahasa Arab, yaa…cukuplah mengamalkan saja untuk manfaat dunia akhirat tiap individunya. Sebagai bukti karya orang2 Tijaniyah, seperti Presiden Soekarno dan Hasyim Asy’ari (pendiri NU). Kalau kerjaan beliau2 ini cuma wirid/zikir saja, bangsa ini tidak akan kenal dengan mereka 2 abad ke depan. Pendiri Al-Azhar Cairo Mesir, sebagian besar adalah orang2 Tijaniyah. Orang2 Tijaniyah di Maroko dan Afrika Utara sekitarnya juga berperang melawan Perancis.
    Saran saya, bila akita ingin mendapatkan manfaat yang sesungguhnya dari ilmu2 Tijaniyah, maka ambillah dari guru yang benar, bukan dari orang2 yang mengangkat dirinya (mengaku-aku) sebagai guru. Seperti perumpamaan bila kita menilai 2 (dua) orang yang berseragam tentara/polisi. Bagi yang ngerti & tahu, maka akan tahu & yakin, siapa dari kedua tentara/polisi tsb yang asli/sesungguhnya dan siapa tentara/polisi gadungan. Oleh karena itu, tajamkan akal dan intuisi kita tentang mana guru/syaikh yang sesungguhnya dan mana guru/syaikh……….. Sehingga istighfar -sholawat dan dzikir akan memberi bekas atau manfaat pada diri kita. Demikian juga dengan hizib2 akan menampakkan kegunaannya.
    Wassalaam.

  45. asslamualaikum…..para ikhwan tijani ….
    asslamualaikum….mas harun…..

    silahkan datang ke bogor…..ikhwan yang ingin tahu tijani…..langsung dari syeikh at-tijani silsilah yang shohih…..

    Silsilah Guru Thoriqot At-Tijani dari Maroko sampai masuk ke Indonesia:

    1.Syeikh Ahmad Tijani
    2.Syeikh Muhammadil Ghola
    3.Syeikh Alfa Hasyim
    4.Syeikh Ali At-Thoyyib
    5.Syeikh Maulana Al-Haji Utsman Dhomiri (Cimahi, Bandung)
    6.Syeikh Maulana Al-Haji Muhammad Sujatma Al-Ismail (Parakan, Bogor)
    7.Syeikh maulana Al-Haji Muhammad Syu’aib bin Mamat(Cibalagung, Bogor).Majelis Ta’lim Baitur Rokhmat. Jl. Cibalagung Indah I, No.4 di belakang Kantor Kelurahan Pasir jaya. Bogor barat.

    wassalam,

    fajar bs.

  46. Buat sdr. babaytarungderajat, sebelumnya saya mohon maaf, karena postingan saya sekarang juga mengutip beberapa email kita supaya pembaca2 yang lainnya juga mengerti dan semakin paham. Nggak apa-apa khan ?

    Assalaamu’alaikum.

    Dalam postingan saya terdahulu telah saya kemukakan bahwa, seorang Tijaniyah yang BENAR amalannya dan tekun dalam ibadahnya, sesungguhnya Nabi SAW akan hadir ketika mereka meninggal dunia dan ketika ditanya di dalam kubur, serta 70.000 malaikat akan berzikir untuknya. Mereka tidak akan meninggalkan dunia kecuali sudah sampai pada tingkat keWaliannya.

    Yang dimaksud dengan amalan yg BENAR adalah :
    - susunan bacaannya (redaksi) BENAR, tidak boleh ditambah atau dikurangi
    - susunan hadiah hadroh (ilaa hadroti…) BENAR, sesuai aturan Tijaniyah
    - menerima amalan harus dari orang yang BENAR Tijaniyah. Yaitu orang yang
    benar2 menerima izin/wewenang untuk memberi izazah, bukan sembarang
    orang walaupun dia murid Tijaniyah senior/sepuh. Atau paling bagus
    menerima izazah langsung dari MURSYID (Guru tarekat), yang biasa kita
    panggil SAYYIDI SYAIKH atau SYAIKH saja. Tidak boleh mengamalkan tanpa
    izazah dari kitab atau dari ikhwan2 seperguruan.

    Oleh karena itu, kepada saudara2 yg bercita-cita untuk memperdalam, menambah, mempertinggi keilmuan Tijaniyahnya, saya anjurkan untuk melihat dan menilai dahulu amalan2 Tijaniyah anda selama ini, terutama yg ladzim (dzikir ladzimah), sudahkan BENAR sesuai kriteria di atas? Kalau tidak, maka apa yang saudara2 amalkan selama ini setiap hari sore & subuh, hanyalah kesia-siaan belaka tanpa manfaat. Bahkan hanya menjadi RACUN bagi anda yang mengamalkan!
    Saya ingin menjelaskan dan mendudukkan kedudukan/jabatan MUQADAM. Arti muqadam yang sederhana adalah pembantu atau asisten dari seorang MURSYID (Guru Tarekat). Seorang muqadam hanyalah seorang murid, yang diberi izin atau keistimewaan saja oleh Mursyid untuk melakukan 2 (dua) hal saja, tidak lebih, yaitu :
    - memberi izazah aurod dan hizib2 kepada murid lain atau mengangkat murid
    baru, atas izin mursyid. Tentunya aurod & hizib2 yg diberikan oleh muqadam
    kepada murid lain adalah sebatas/sebanyak aurod & hizib2 yang telah
    muqadam tholaab/miliki.
    - mengajarkan ajaran Tijaniyah secara teori. Tentunya sebatas kemampuan
    akalnya untuk berbicara & mengkomunikasikannya dengan orang lain.

    Kalau kedua hal tersebut di atas tidak ada pada orang yang disebut muqadam, maka mutlak dipastikan bahwa dia bukanlah seorang muqadam, dan tidak akan pernah diakui. Dan apabila seorang muqadam berkhianat/ melakukan pelanggaran berat terhadap mursyid, maka status dia sebagai muqadam bisa dicabut kapan saja, bahkan bisa pula dipecat dari status murid. Apabila sudah tidak lagi menjadi murid, maka boleh2 saja dia mengamalkan aurad dan hizib2, pun tanpa minta izin, dengan segala resiko yg harus dia tanggung sendiri.
    Dan apabila setelah bukan lagi sebagai murid Tijaniyah, tetap memberi izazah kepada orang lain berupa aurad & hizib2, boleh2 saja dengan segala resiko yg harus dia tanggung.
    Dan patut diingat bahwa seorang muqadam tidak bisa mengangkat murid lain untuk menjadi muqadam baru. Yang berhak mengangkat muqadam hanyalah mursyid (guru tarekat).
    Jadi sdr babay, bila benar bahwa dulu anda pernah masuk-keluar “Tijaniyah”, apabila anda ta’liknya dari muqadam yang tidak sah, yaaa tidak apa-apa. Kalau anda ta’liknya dari muqadam yang sah (apalagi dari mursyid), jangan coba-coba mempermainkan diri (tidak serius) melakukan akhlaq seperti itu, karena nanti anda akan menerima resikonya yang hanya anda sendiri mengalaminya.
    Sekarang anda mencari-cari orang yang bisa/memiliki dzikir Ikhtiariyah untuk mengambil izazahnya. Ikhtiariyah khan bisa anda dapatkan ke kiai Yunus yg anda sebut sbg muqadam itu?? Dan anda sebut Kiai Badri Masduqi (alm) dan Habib Ja’far bin Ali Baharun adalah guru anda bukan? Anda juga sebut Syaikh Soleh Basalamah dan kiai Abdul Rasyid sebagai guru anda juga. Mengapa anda tidak minta izazah saja kepada orang2 tersebut yg anda hormati sebagai guru anda? Seperti yg pernah saya informasikan, bahwa di tarekat tijaniyah ada 2000 macam ilmu yang bisa ditholaab dan diizazahkan kepada murid2 Tijani. Mengapa anda tidak minta izazah saja kepada beliau2 tersebut semua ilmu Tijaniyah yang jumlahnya 2000 hizib, kalau beliau2 itu memang sebagai muqadam apalagi mengaku sebagai mursyid?
    Kalau saya tidak boleh memberi izazah kepada anda, karena saya bukan muqadam (apalagi mursyid juga bukan), harus ada izin dari guru untuk memberikan kepada anda walaupun HANYA bacaan sebuah wirid.. Sebaik-baik muqadam, menurut saya adalah yg sudah mengambil izazah puasa 100 hari, bukan dari usianya yang sudah sepuh/tua dan hapal/mahir dalam ilmu2 syariat. Tetapi, walaupun sudah izazah puasa 100 hari dan tidak mendapat izazah sebagai muqadam, yaa tetap tidak boleh memberi izazah kepada orang lain. Dan perlu anda ketahui, KH Badri Masduqi (alm) hanyalah seorang muqadam (murid plus), bukan mursyid, dan beliau tidak berhak mengangkat orang lain untuk menggantikannya sebagai muqadam, juga tidak berhak mengangkat muqadam untuk daerah lain. Jadi, saya kasihan kepada orang2 yg sudah “diangkat” murid oleh bapak YUNUS. Susah payah mengamalkan aurad/hizib setiap hari, tetapi tidak akan memberi faedah. Tetapi saya maklum, karena tidak adanya pengetahuan dan pemahaman yang benar mengenai aturan bertarekat Tijaniyah dan banyak disalahgunakan oleh murid-murid yg lancang dan melanggar aturan. Banyak dari murid2 yang diangkat sebagai muqadam, kemudian di belakang hari di depannya menyandang gelar dan mengaku-aku sebagai guru mursyid atau syaikh.

    Kalau saya perhatikan, di majlis Cibalagung Bogor , murid yang menjabat status sebagai muqadam rata-rata minimal telah izazah puasa 100 hari, plus beberapa aurad yang diamalkan. Kalau persyaratan menjadi muqadam sedemikian gampang menurut anda……maka saya kira di antara kami sudah banyak yang pantas menjadi muqadam. Dan belum tentu pula murid yg sudah izazah puasa 100 hari akan diangkat menjadi muqadam. Segala sesuatu terletak pada pandangan bathin dan kebijaksanaan guru (mursyid).

    Dari paparan saya di atas, saya kira anda akan bertanya-tanya; apa perbedaan dan keistimewaan antara murid yg ambil izazah Ikhtiariyah (atau amalan lain) tanpa izazah puasa 100 hari dengan murid yg ambil ikhtiariyah (atau amalan lain) tetapi sudah izazah puasa 100 hari (apalagi puasa 3 tahun). Jawaban saya adalah: perbedaannya yaitu laksana pisau yg sangat tumpul lagi sangat berkarat dengan pisau yg sangat tajam lagi sangat mengkilat.

    Oleh karena itu, bila anda ingin mengambil izazah aurod & hizib2 kepada semua orang yang memegang AMANAH Syaikh Ahmad Tijani, maka carilah dan datangilah muqadam2 yang BENAR, yang menerima ta’lik dari keturunan MURSYID yang BENAR atau datangilah langsung GURU/MURSYID Tijaniyah yang SHOHIH & HAQ. Dan saya juga menyayangkan, apabila orang-orang yang anda sebut di atas sebagai muqadam atau guru tarekat sudah pada meninggal dunia, maka timbul pertanyaan : GURU anda sekarang siapa yaa?
    Apakah guru anda sekarang murid2 lain yg mengangkat dirinya sendiri/ mengaku-aku sebagai muqadam bahkan sebagai mursyid? Atau bahkan anda sendiri yang kemudian mengangkat diri anda menjadi muqadam? lho, bukankah anda sebelumnya ingin mengambil izazah Ikhtiariyah & ilmu lainnya?
    Lalu apa yang akan anda katakan kepada “murid” anda kelak, bila dia ingin tholaab ilmu Ikhtiariyah atau bahkan ilmu2 yang lebih TINGGI lagi tingkatannya?

    Harapan saya, mudah-mudahan pikiran saudara2 semakin terbuka dengan penjelasan saya selama ini. Jangan biarkan waktu saudara2 terbuang percuma setiap hari, hanya untuk mengamalkan aurad/hizib2 Tijaniyah yg sama sekali tidak akan memberi faedah secara ruhaniah kepada anda, hanya dikarenakan saudara2 menerima dari orang yang tidak SAH untuk memberi izazah atau saudara2 baca dari kitab tanpa izazah.

    Kepada sdr. babay, sekali lagi mohon maaf, tulisan di atas bukan untuk anda seorang, tetapi untuk seluruh pembaca setia blog ini.

    Wassalam.

    HARUN
    tijani121@gmail.com

  47. assalamualaikum ikhwan tijani seluruh pelosok negeri,,,,
    saya ikhwan dari cimahi, bandung tepatnya di Jln. KH Usman Dhamiri memohon kepada seluruh ikhwan untuk tukar informasi ataupun ilmu kepada sesama ikhwan maupun bukan termasuk kepada saya yang masih belum cukup dalam mengenali tarekat kita yaitu tijaniyah,,,
    wassalamualaikum …

  48. Assalamualaikum…Wr Wb..
    Saya Ikhwan Dari Kemanggisan Rawabelong Jakarta – Barat , Saya Sudah Membaca Semua Comment, Info, Tanya Jawab Dr Para Ikhwan Semua Baik Yang Sah Taklik/ Ijazah/ Pembaiatannya Maupun Yang Meragukan Bahkan Tidak Sah, dan Juga Sudah Membaca Hampir Semua Situs/ Blog Yang Menceritakan Thoriqoh At Tijani Sampai Pada Tahapan Muqodham dan atau Guru(mursyid)Yang Tidak Jelas Atau Palsu,,Saya Sangat Kasihan dan Menyayangkan Sekali Kpd Ikhwan Yang Taklik/ Ijazahnya Tidak Jelas/ Sah…Karena Betul Apa Yang di Paparkan/ Informasikan dan di Jelaskan Oleh Bapak Harun (karena menurut saya sumber Bapak Harun Langsung dr Guru Skrg, Sayyidi Syeikh Maulana Al Haji Muhammad Syu’aib ) Tidak Ada Manfaat dan Faedahnya dan bahkan Menjadi Racun Jika Kita Mewiridkan atau mengamalkan Lazimah yang Bukan di Ijazah dari Miqhodam Yang Di sahkan Oleh Guru (mursyid)dan Guru Yang sah dan Haq dari Gurunya terdahulu yang diangkat Oleh Gurunya (Rosululloh S.A.W & Allah S.W.T)dan Menjadikan Perbuatan Yang Sia-sia dan Memakan Waktu Yang Lama Yang Hasilnya Kosong,,, Maka Dari Itu Melihatlah Dengan Mata Hati Bukan Dengan Mata Kepala, Karena Dengan Mata Hati Kita Akan Mempunyai Rasa Dan Dengan Mata Kepala Kita Hanya Memakai Logika…

    Maaf Nih Kpd Semua Ikhwan At Tijani dan Khususnya Kpd Bapak H. Harun Hanya Sekedar Info, Kurang lebih 3 (tiga) Minggu Kemarin Mungkin Tepatnya Sekitar Tgl 6 November Hari Selasa Malam Rabu Di Majlis Baitur Rahmat Cibalagung Indah 4, ada 2 (dua) Ikhwan Yang Di Takliq/ Bai’at/ Sumpah Oleh Guru Kita Sayyidi Syeikh Maulana Al Haji Muhammad Suaib bin Mamat Menjadi Wakil GURU (Mursyid)/ Uji Coba Guru Selama 3 Tahun Bernama :
    1. Muhammad Ikhsan Amin / A’ Ichang(Bogor)
    2. Wahyudin / Bob (Jakarta)

    Semoga Kita Semua (Jama’ah Thoriqoh Tijaniyah Sedunia) Senantiasa Mendapat Bimbingan, Petunjuk, Ridho, Berkah dan Selamatnya Dari Guru Kita Sayyidi Syeikh Maulana Al Haji Muhammad Su’aib Di Dunia dan Akhirat………..

    Wassalamu’alaikum Wr Wb…….

  49. Dan Kedua Wakil Guru Di Atas Semoga Kuat dan Lulus Dalam Menjalankan Semua Ujiannya Sampai Tahap Takliq/ Baiat Akbar Menjadi Penerus Guru Yang Sah/ Haq dan Mutlak….Amiiiin,,,,,

  50. Assalaamu’alaikum Machfud…

    He…he…he…Bagaimana kabar ikhwan2 di Kemanggisan semua?
    Kira-kira 3 atau 4 minggu yang lalu, ikhwan kita di Bandung, bernama saudara/bapak Dedi…(maaf, nama lengkapnya nggak hapal) juga dibai’at oleh Mursyid kita menjadi wakil guru. Mudah-mudahan Icang dan Bob, serta bapak Dedi kuat memikul amanh tersebut, mendapat kemudahan, bimbingan, ridho, berkah dan selamat. Amiin!

  51. Walaikumussallam Sdr Harun

    Alhamdulillah Sehat Wal afiyah Semua Berkat Doa Bapak…Ya Mudah2an Bisa Menjalankan Amanatnya N Jadi Penerus Silsilah Perguruan..

    Maaf Nih Pak Harun Mau Nanya Ko Di Ba’iatnya Ga Bareng Sekalian Ma A’Icang N Bob,,,(Kalau A’Icang N Bob Itu Perintah Langsung Dari Mbah Haji Sujatma (Sayyidi Syeikh Maulana Al Haji Muhammad Sujatma Al Ismail)Langsung) Itu Taklik Bpk Dedi (Bandung)Untuk Jadi Guru Pa Wakil Seperti Pak H.Soleh (sukabumi)/ Bpk. Yunus (bandung)Pa Bukan (Kl Memang Takliknya Untuk Seperti A’Icang N Bob:berarti calon guru ada 3),,,Karena Yang Saya Tau Kl A’ Icang N Bob Untuk Percobaan Menjadi Guru Selama 3 Tahun Dengan Wewenang MengIjazah Lazimah, Nanti Setelah 3 Tahun Taklik Lagi 2 tahun Utk Mengijazah Wajifah Hailalah Setelah 5 Tahun, Baru Taklik Akbar Untuk Menjadi Guru Besar(mursyid)Tharikat Tijani dan Sebelum Melalui Semua Proses Di atas ada yg ditempuh yaitu Istikhoroh 3,10,21,46 dan 100 Hari Serta Puasa 3 Tahun Untuk Tingkat Ma’rifah N Dialog Dengan Ghaib Allah SWT Untuk Mendalami Thoriqoh At Tijani Dunia Akhirat (2000 kitab)dan Mengenal serta Bermain Dengan Allah SWT Dengan Gelar Tingkat Mursalin (Ibadahnya Setingkat Para Nabi N Rasul)Kalau A’Icang Memang Sudah Ada Turunan N Darah Jadi ada Tahapan” yang Langsung Lewat…

    Itu Sedikit Banyaknya Yang Saya Tau Dari Guru Kita…
    Kl Misalnya Ada Keterangan Saya Yang Masih Banyak Kurang Guru lah Yg Lebih Mengetahui N Mungkin jg ada Kata Saya Yg Kurang Etis/ Tidak adab Mohon di Maafin/ Hampura…

    Wassalam Wr.Wb….

  52. Assalaamu’alaikum.

    Memang benar apa yang sdr. Machfud katakan, tetapi yang saya tahu dari kawan2 (saat itu saya tiba di majlis Bogor kl. pkl 23.00), mereka ceriterakan bahwa kang Dedi baru ditaklik menjadi guru wakil oleh bapak Syaikh, berdasarkan perintah yg bapak Syaikh terima…..
    Kalau saya gak lupa/salah, kang Dedi terima amanat tsb seminggu setelah selesai puasa 100 hari.
    Untuk lebih lengkapnya informasi, bisa ditanyakan langsung kepada bapak Dedi nanti kalau ketemu.

    Wassalam