TAREKAT NAQSYABANDI
Zubaidi
Makalah-makalah SeminarTerbentuknya tarekat naqsyabandi melalui beberapa fase. Fase pertama, Pra Sejarah berdirinya tarekat Naqsayabandiyya, belum punya identitas. Fase kedua, Periode Formasi Tarekat Naqsyabandi, terlihat identitasnya sebagai sebuah perkumpulan persaudaraan sufi. Fase ke-tiga, periode perkembangan dan penyebaran Tarekat Naqsyabandi, menjadi sebuah perkumpulan besar yang terorganisir dengan baik dan rapi.
Tarekat Naqsyabandi merupakan satu-satunya tarekat yang memiliki Silsilah transmisi pengetahuan melalui pemimpin pertama ummat Islam, Abu Bakar as-Sidiq. Tidak seperti tarekat-tarekat lainnya, dimana Silsilah-nya berpangkal dari salah satu pemimpin spiritual dan Imam Syi’ah, yaitu Imam Ali Ibn Abi Thalib.
Salah satu Karakter tarekat Naqsyabandi adalah tergambar melalui fakta bahwa kesesuaian-nya dengan hukum-hukum Islam merupakan suatu hal yang teramat penting dalam perkumpulan ini. Ketaatan yang mendalam terhadap hukum-hukum syariat adalah thema yang sering di tekankan oleh banyak kalangan Naqsyabandi dalam mendefinisikan jalan mistik mereka.
Dalam perkembangannya Tarekat Naqsyabandiyyah tersebar luas di Asia tengah, Volga, Kaukasia, Barat laut dan Barat daya China sampai ke Indonesia, sub-kepulauan India, Turki, Eropa dan Amerika Utara.
Tarekat Naqsyabandiyyah, lahir dan di formalkan dengan menggunakan nama salah satu ahli Silsilah yang terkenal dan memiliki banyak pengikut di berbagai pelosok Dunia Islam. Ia adalah Muhammad Ibn Muhammad Baha’ al-Din al-Naqsyabandi, yang lahir dari kota Hinduwan atau kota Arifan, Bukhara Uzbekistan pada tahun (717 H/1318 M – 791 H/1389 M).
Tradisi Naqsyabandi tidak menganggap Baha’ al-Din al-Naqsyabandiyah sebagai pendiri tarekat, atau dalam pengertian lain Tarekat Naqsyabandi bukan berawal darinya. Akan tetapi karena kebesaran namanya, sebagai seorang tokoh sufi yang besar dan pemimpin dzikir yang di hormati dan di cintai. Namanya diabadikan dan digunakan sebagai bentuk penghomatan padanya.
Ada 3 fase periode pembentukan Tarekat Naqsyabandiyya.
Fase pertama, Pra Sejarah berdirinya tarekat Naqsayabandiyya.
Pada fase pertama periode pra sejarah Tarekat Naqsyabandi di sebutnya sebagai “Periode protohistoris” . Disebut sebagai periode protohistoris karena Tarekat Naqsyabandi pada masa itu belum mempunyai identitas, karena tokoh-tokohnya atau garis Silsilahnya tidak dianggap sebagai eksklusif milik Tarekat Naqsyabandiyah yang menggunakan paham sunni Salah satu contoh-nya adalah Saidina Ja’far as-Sodiq. Dia adalah Imam Syiah ke 6 dari garis keturunan Ayahnya Imam Baqir sebagai Imam syiah ke 5, akan tetapi dari garis keturunan Ibunya ia adalah cucu saidina Qosim Bin Muhammad Bin Abu Bakar as-Siddiq, dan cicit dari Abu Bakar Siddiq. Imam Ja’far as-Sodiq dalam transmisi ke Ilmuawannya lebih condong ke Ibunya putrid Saidina Qosim dan mengenal Ilmu-ilmu Agama langsung dari kakeknya Saidina Qosim. Garis Silsilah pada periode ini dimulai dari:
* Syaikh Abu Ali Fadhlal bin Muhammad Ath-Thusi al-Farmadi
* Syaikh Abu Hasan Ali bin Abu Ja’far al-Kharkani
* Syaikh Abu Yazid Thaifur bin Adam bin Syarusyan al-Busmati
* Saidina Imam Ja’far as-Sodiq
* Saidina Qosim bin Muhammad bin Abu Bakar Shiddiq
* Saidina Salman al-Farizi
* Saidina Abu Bakar as-Shidiq
* Nabi Muhammad saw.
Pada periode protohistoris ini, Tarekat Naqsyabandi juga disebut sebagai Tarekat Uwaysi. Disebut demikian karena inisiasi (bay’ah) tidak selalu di lakukan oleh mursyid yang masih hidup dan selalu hadir secara fisik, akan tetapi inisiasinya dapat dilakukan oleh mursyid yang kehadirannya secara spiritual (Rohanyah) baik syeakh yang masih hidup maupun syeakh yang sudah meninggal sekalipun atau pula melalui Nabi Khidir.
Dinamakan Tarekat Uwaysi berkenaan dengan tokoh rohani atau spiritual pada zaman sahabat, yaitu Uwaysi al-Qorni. Disebutkan bahwa Uwaysi al-Qorni selalu berjumpa dengan Nabi walaupun tidak pernah berjumpa secara fisik, perjumpaanya selalu melalui perjumpaan rohani.
Fase kedua, Periode Formasi Tarekat Naqsyabandi
Pada fase kedua ini, sejarah Tarekat Naqsyabandi mulai terlihat identitasnya sebagai sebuah perkumpulan persaudaraan sufi. Identitas Tarekat Naqsyabandi berawal atau bersumber dari Guru Sufi besar yang hidup se-zaman dengan Muhiddin Abu Muhammad Abdul Qadir bin Abi Saleh Zangi Dost Jilani (Syaikh Abdul Qadir al-Jailani), yaitu Syaikh Abu Ya’kub Yusup al-Hamadani (w 1140 M).
Syaikh Abu Ya’kub Yusup al-Hamadani, memiliki 2 orang murid yang sekaligus sebagai khalifahnya dalam menyebar luaskan ajaran-ajarannya, yaitu Syaikh Ahmad al-Yasawi (w 1169 M), dan Syaikh Abdul Khaliq Gujdawani (w 1220 M).
Syaikh Ahmad al-Yasawi sebagai khalifah menyebarkan ajaran gurunya dengan membentuk suatu perkumpulan persaudaraan sufi, yaitu Tarekat Yasawi. Yang penyebarannya dari Asia tengah hingga Turki dan Anatolia.
Sedangkan Syaikh Abdul Khaliq Gujdawani dalam menyebarkan ajaran gurunya di lakukan dengan membentuk Tarekat Kwajagan (cara khoja atau guru). Adapun penyebarannya berada pada sekitar daerah Transoksania.
Syaikh Abdul Khaliq Gujdawani dengan tarekat kwajagan-nya merupakan pilar dasar terbentuknya Silsilah Tareqat Naqsyabandi. Dan dari sanalah ruh gnosis Islam dan suksesi ajaran-ajaran Syaikh Abu Ya’qub Yusup al-Hamadani terbentuk dan melembaga kedalam suatu bentuk Silsilah yang tidak pernah putus. Adapun suksesi pewarisan ajaran Syaikh Abu Ya’qub Yusup al-Hamadani terurai kedalam suatu Silsilah, sebagai berikut:
* Syaikh Muhammad Baha’ al-Din al-Naqsyabandi ibn Muhammad as-Syariful Husaini al-Hasani al-Bukhari (w 1389 ), Ia mengambil dari ……..
* Syaikh Sayid Amir Kulali ibn Sayid Hamzah (w 1371 ), Ia mengambil dari …….
* Syaikh Muhammad Baba al-Samasi (w 1340), Ia mengambil dari ……..
* Syaikh Azizan Ali al-Ramitani (w 1306), Ia mengambil dari ……..
* Syaikh Mahmud al-Anjiri Faqhnawi (w 1272), Ia mengambil dari …….
* Syaikh Arif ar-Riwiqari (w 1259), Ia mengambil dari …….
* Syaikh Abdul Khaliq Guddawani (w 1220), Ia mengambil dari …..
* Syaikh Abu Ya’qup Yusup al-Hamadani (w 1140).
Selanjutnya dalam tarekat Kwajagan melalui Syaikh Abdul Khaliq Kudawani, gurunya menetapkan delapan prinsip dasar dalam ajarannya. Dan kedelapan prinsip prinsip dasar tersebut menjadi dasar dari Tarekat Naqsyabandi. Kedelapan prinsip tersebut adalah sebagai berikut:
(1). Husy dar dam, (2). nazhar bar qadam, (3). safar dar watan, (4). khalwat dar anjuman, (5). yadkard, (6). bazgasyt, (7). nigah dast, dan (8). yads dast. Dari dasar-dasar ajaran syaikh Abu Ya’qub Yusup al-Hamadani, selanjunya oleh Syaikh Baha’ al-Din al-Naqsyabandi menambah 3 prinsip utama sebagai penyempurnaan. Ke tiga prinsip tambahan itu, adalah (1). Wuguf zamani, (2). Wuquf ‘adadi, dan (3). Wuqub qalbi.
Ke-sebelas prinsip tersebut selanjutnya dan seterusnya semenjak abad 13 dan 14 yang silam telah di nisbatkan pada Tarekat Naqsybandi, dan sekaligus sebagai cikal bakal dan pilar dasar terbentuknya sebuah gnosis Islam Tarekat Naqsyabandi.
Sejak di nisbatkannya nama Naqsyabandi dari Syaikh Baha’ al-Din sebagai Nama dan Identitas dalam perkumpulan tarekat yang sebelumnya berupa tarekat khwajagan, Tarekat Naqsyabandi semakin masyhur dan memiliki pengaruh yang sangat luas dari masa ke masa. Figur utama Syaikh Baha’ al-Din tidak hanya di kenal sebagai seorang sufi besar akan tetapi juga di kenal sebagai seorang tokoh penasehat utama sultan, yang tegas dan berani serta adil pada masa pemerintahan sultan Khalil (w 1347). Namanya di catat dalam sejarah kesultanan Samarkand. Semua kemajuan yang di capai oleh ke sultanan tidak dapat dilepaskan dari peran serta dan keterlibatan Baha’ al-Din.
Fase ke-tiga, periode perkembangan dan penyebaran Tarekat Naqsyabandi
Pada periode ini, Tarekat Naqsyabandi telah menjadi sebuah perkumpulan besar yang terorganisir dengan baik dan rapi. Pengikut-pengikut Tarekat Naqsyabandi tidak hanya orang-orang yang menginginkan dan mencari pengetahuan spiritual, akan tetapi sejumlah ahli figih, ahli tafsir dan ahli hadist berbai’at kepada Syaikh Baha’ al-Din. Sederet Nama besar ahli Agama menjadi khalifah Syaikh Baha’ al-Din, seperti Khwaja Ala’ al-Din al-Aththar (w 1400) seorang ahli hadist, dan theology Islam, Khwaja Muhammad Parsa (w 1419) seorang ahli tafsir Al-Quran, dan bersama Ya’qub al-Charki menulis Tafsir Al-Quran, Khwaja Sa’id al-Din Kasyghari (w 1459) seorang teolog dan ahli Filasafat. Pada periode ini yang paling menonjol adalah murid dan sekaligus seorang khalifah Ya’qub al-Charki, yaitu Syaikh Nasaruddin Ubaidullah al-Ahrar as-Samarqandi (w 1490) yang kemudian menjadi penerus kemursyidan tarekat Naqsyabandi generasi ketiga Syaikh Baha’ al-Din.
Berbagai refrensi dan buku-buku sejarah tarekat Naqsyabandi ini, Syaikh Nasaruddin Ubaidullah al-Ahrar telah merubah sebuah paradikma klasik yang meng-identikkan kesufian dan kemiskinan. Ia adalah simbul seorang Mistikus Islam yang sangat amat kaya. Pemilik 3.300 perkampungan (mazra’ah) dan lahan pertanian yang sangat luas. Sebuah kampung terkenal Pashaghar di samarkand adalah miliknya, dan dalam perniagaannya di bantu oleh tiga ribu buruh dan tiga ribu pasang kerbau untuk mengairi lahan pertaniannya. Delapan ribu maund gandum di serahkan kepada sultan Ahmad Mirza sebagai pajak tanah pertanian setiap tahun.
Syaikh Nasaruddin Ubaidullah al-Ahrar sebaga mursyid ke 18, dalam suksesi kemursidan. Pada masa kepemimpinannya, Tarekat Naqsyabandi telah tersebar dan menguasai hampir seluruh wilayah Asia Tengah meluas ke Turki dan India. Kemudian telah berdiri beberapa pusat perkumpulan (cabang), seperti China, Chiva, Taskend, Harrat, Bukhara, Iran, Afganistan, Turkistan, Khogan, Baluchistan, Iraq, India.
Pada periode ini, Tarekat Naqsyabandi mencapai puncaknya ketika suksesi kemursidan di pegang oleh Syaikh Ahmad al-Faruqi Sirhindi (w 1624) sebagai mursyid ke 23. Syaikh Ahmad al-Faruqi Sirhindi adalah seorang Teolog terkemuka di Dunia dan pemikir yang berilyan. Ia adalah murid kesayangan karena kecerdasannya, kesuhudan dan keshalehannya, dan di hormati karena ketinggian Ilmunya dan pemikirannya yang sangat cemerlang dari seorang guru sufi besar, al-Qutub Syaikh Muhammad Baqi Billah (w 1603) mursyid ke 22 Tarekat Naqsyabandi yang bermukin di India.
Dibawah kepemimpinan Syaikh Ahmad al-Faruqi Sirhindi, Tarekat Naqsyabandi telah tersebar ke berbagai penjuru Dunia Islam dan di ikuti oleh banyak pengikut. Pada masa itu pula telah berdiri beberapa tempat pusat kegiatan berupa kangah-kangah, seperti di Jabal Abu Qubais Arab, Yaman, Damaskus, Mesir, Spanyol, Bagdad, Afrika dan Amerika Utara. Syaikh Ahmad al-Faruqi Sirhindi tidak hanya seorang guru sufi besar akan tetapi juga seorang Mujaddid. Dan pemikirannya tidak hanya di akui oleh dunia Islam akan tetapi juga oleh para orientalis barat, katab-kitab karanganya telah menjadi rujukan Ilmu-ilmu Filsafat dan Sosial. Demikian juga para mursyid-mursyid berikutnya, setiap zaman, setiap masa, para mursyid sebagai ahli silsilah di Tarekat Naqsyabandi senantiasa memiliki keahlian-keahlian yang berbeda sesuai dengan kondisi zaman.
saya merupakan jamaah tharikat nakshabandiah yang yang memiliki turunan dari syekh Amir Dhamsar Syarif Alam (Alm) silsilah ke 35 kota tuo, beliau berbasis di Medan dan sekarang dipimpin oleh syekh Gazali An Naqsabandi. Ulasan anda mengenai thariqat sangat detail dan mendalam. tapi apakah anda sudah merasakan nikmatnya tharikat itu sebagai maqrifat. anda tau cabai itu pedas, tapi apakah anda pernah merasakannya…..
ass. wr. wb….
salam pada semua ahli dzikir yang tersebar di seluruh penjuru dunia….
aku merupakan jamaah tarekat naqsabandi…
aku sangat berterima kasih atas info dari seluruh silsilah tareqat naqsabandi…
aku gak akan mempermasalahkan siapa mursidnya…karena yang notabene mursid sekarang sangatlah banyak..
dan tiap2 pengikutnya selalu menganggap mursidnyalah yang paling benar…
aku berharap siapapun mursid kalian…pegang teguh n yakinlah kalo mursid kalian adalah pembawa wasilah, tentunya dengan adanya haqul yahkin dari diri kalian pribadi…amiinn
terus dzikir n perbanyaklah lingkaran2 dzikir di muka dunia..
karena hanya dengandzikir2 itulah yang bisa meredam n menunda hari kiamat… amiiinnn…
laqum dinukum wal yadiin…
syariat adalah jubahku
tareqat adalah jalanku
maqrifat adalah maksudku
rasulullah adalah panutanku
mursid adalah kekasihku
Allah ta ala adalah tuhanku…
tuhan penciptaku…yang mengatur bumi dan langit…
masuklah islam secara kafa’ (keseluruhan)
syariat itu penting…tareqat juga penting….22nya jangan disepelehkan…
manusia yang tidak mengenal tuhannya adalah manusia yang ingkar karna telah mendustakan agmanya,siapa yang memisahkan hamba dengan tuhanya sesungguhnya dia telah kafir.YM rian_km@yahoo.com
Jika tidak ada ruh dan dimensi ke ilahian,
maka segala yang kita lakukan hanya akan sia-sia,hampa dan tak bermakna.
sebaliknya jika Tuhan dan kegaiban ruh hadir bersama ruang dan waktu,
maka segala yang kita laukan menghadirkan keabadian,Setiap isyarat kata-kata,
gagasan dan segala sesuatu yang terlihat oleh mata kita akan menghadirkan wajah ilahi
tampa tirai apapun juga,inilah rahasia terbesar dari
YANG MAHA NYATA.
Jika kau mengalami hal ini
maka pikiranmu tidak lagi di sibukan untuk mengejar syurga atau menghindari neraka,
bahkan ketika kematian datang menjemputmu kedua itu bukan lagi suatu persoalan bagimu.
keabadian akan senantiasa hadir di dalam dirimu.
pada saat ini kau akan tumbuh lebih dekat dan semangkin dekat dengan Tuhan.
Karna setiap kesaksian yang kau tujukan di setiap sudut pandang adalah
WAJAH ILAHI
Mencari tuhan di luar diri,hanya akan melelahkan,
dan cenderung membuat kita akan mangkin tersesat dari ilusi
By:
http://www.geocities.com/riankreasi
temukan dulu Tuhan di dalam diri,maka segala sesuatu di luar dirimu akan menampakan wajah ilahi.
Saya senang anda menulis dengan bagus sejarah tarekat besar ini.
Mengenai komentar “Tapi apakah anda sudah merasakan nikmatnya tharikat itu sebagai maqrifat. anda tau cabai itu pedas, tapi apakah anda pernah merasakannya…..”
Silence is gold…jangan ngaku2 udah merasakan pedasnya sambal, simpan sajalah sebagai bagian perjalanan rohani. salam dari pengikut tarikat naqsyabandi turunan jabbal qubis.
Tarekat Naksyabandiah di Medan di bawa oleh Syeikh Abdul Wahab Rokan setelah diperintah oleh Gurunya di Jabal Qubais Makkah Al Mukarramah
Mohon pencerahan .. D medan tuh banyak yg menyalah ajaran nya ..
Tolong info cabang medan yang asli ..
Sahabat, semoga kita semua termasuk hamba yg di sayang dan hamba yang di cinta.
Tulisan saya mengenai Tharekat Naqsyandiyah yang sahabat baca merupakan ikhtiar saya utk memperkaya khazanah pengetahuan akan tharekat.
Tharekat adalan jalan yg titik tumpunya bermakrifat kepada Allah. Utk sampai pada tujuan itu di perlukan kedisiplinan yg tinggi, untuk terus menerus meleburkan ke dalamnya. Setelah tharekat kita masuki, kita akan memasuki satu fase Hakekat namanya. Sebagian para Ulama mengatakan ”tak akan mungkin masuk ke hakekat tanpa pintu Tharekat”. Tharekat sbg jalan menuju hakekat. Saya tdk akan mengulas panjang lebar, kifim email ke alamat ini: subaidy@msn.com. kiya berdiskusi saling bertukar pengalamn. Insyaallah mamfatnya sangat banyak.
Keputusan Fatwa Muzakarah Jawatankuasa Majlis Fatwa Kebangsaan Bagi Hal Ehwal Agama Islam
a)Tariqat Naqsyabandiah Al-Aliyyah di bawah pimpinan Syeikh Nazim bertentangan dengan fahaman akidah Ahli Sunnah Wal-Jamaah dan menyeleweng dari ajaran Islam. Pengamal ajaran ini hendaklah segera bertaubat.
b) Semua negeri dikehendaki memfatwa dan mewartakan bahawa tariqat Naqsyabandiah Al-Aliyyah di bawah pimpinan Syeikh Nazim diharamkan dan tidak boleh diamalkan oleh umat Islam kerana ia bercanggah dengan ajaran Islam yang sebenar
Oleh : Muzakarah Jawatankuasa Fatwa Kebangsaan Bagi Hal Ehwal Ugama Islam Malaysia Kali Ke-48
Tarikh Keputusan : 3 April 2000
Tarikh Muzakarah : 3 April 2000 hingga 3 April 2000
Ciri-ciri Kesesatan Tariqat Naqsyabandiah Al-aliyyah Syeikh Nazim Al-Haqqani :-
1)- Kekuatan wali.
Petikan dari laman web tariqat Naqsyabandiah
“Terdapat 40 awliya Allah yang tersembunyi di antara Mudzalifah dan Mina. Mereka membantu kepada sesiapa yang dalam kesusahan. 313 berada di Madinah. Di Mekah terletak kerusi kerohanian Yang di Pertuanya (gabenor) di sebelah Hajaratul Aswad. Beliau berada di situ untuk menyaksi siapa yang mencium batu tersebut.
Yang di Pertua gabenor Mekah itu mengarah wali-wali Allah yang lain membuat apa yang dikehendaki oleh beliau. 124,000 awliya Allah menunaikan haji setiap tahun. Tanpa kehadiran mereka, haji manusia lain tidak lengkap. Imam Mahdi (as) juga harus hadir setiap tahun menunaikan haji. Dan di Jabarul Rahmah di Arafah merupakan tempat Imam Mahdi akan muncul pada masa yang akan datang.
Sahabat kita Hanim, ialah seorang yang suka merendahkan diri dan juga pemurah. Hanim tidak peduli tentang kekayaan, tentang berapa kekayaan yang beliau ada. Beliau sentiasa memberi tanpa mengira. Beliau telah banyak berkorban untuk Allah, Rasul (saw) dan awliya Allah. Sifat beliau adalah jarang didapati pada masa kini. Semasa pengkebumian beliau, terlalu ramai para wali Allah dan malaikat berada menghadiri upacara itu. Sekarang ini beliau berada di satu tempat di mana Allah sentiasa melihatnya.
Tidak seorang pun akan memahami apa yang Allah telah kurniakan kepada Hjh. Hanim. Ramai akan menyesal asal kesalahan mereka terhadap beliau – samada melalui prasangka atau perbuatan. Ramai akan memerlukan pertolongan beliau di akhirat kelak. Hanim telah pergi sebagai seorang shaheeda.
Wa minallahi taufiq. Bi huramati habib bi hurmati surah Fatihah”
2- Kuasa Mutlak Khalifah
“Khalifah mentadbir wilayah-wilayahnya. Dia mempunyai kuasa untuk melakukan apa yang dimahu. Apa yang dia lakukan dipersetujui oleh masyaikh rantaian keemasan…Kemulian xxxxxxxx ialah dia adalah seorang khalifah dan semua orang harus menerima apa yang dia telah tentukan…”
Sheikh Muhammad Sheikh Nazim
3)-Khutbah sesat menyentuh konsep waktu, suluk, hakikat dsb
Audhubillah-hi-minash-syaitan-nir-rajeem Bismillah-hir-rahman-nir-rahim Nawaitul arbaa, naiwatul iqtiqaf, naiwataul uzlah, naiwatul ri’adah, lillahita’ala hilaluyul azim Ati’ullah, wa ati’u rasul, wa ulul amri minkum
Allah perintah kita ta’at kepada Dia dan Rasulnya (saw) dan sesiapa yang ta’at kepada Rasul (saw), dia ta’at kepada Allah. Setiap keadaan/saat adalah keadaan/saat yang baru dan setiap sessi adalah sessi yang baru. Keadaan/saat hanyalah sekadar keadaan/saat, tetapi apabila keadaan/saat dikumpul mereka menjadi waktu. Mereka mengeluarkan waktu yang telah berlalu. Oleh yang demikian, waktu adalah (mengikut kefahaman kita) sesuatu yang mempunyai waktu yang lepas, waktu sekarang dan waktu yang akan datang.
Terdapat tiga dimensi di dalam waktu (begitu juga universe ini) – waktu lampau, waktu sekarang dan waktu akan datang. Apabila kita mati, waktu berakhir. Tetapi bagi Allah, tidak ada zone waktu. Waktu sebenrnaya di hasilkan oleh pergerakan bumi sekeliling matahari. Disebakan oleh pergerakan atau orbit ini, maka terdapatlah siang dan malam – semuanya untuk membolehkan kita mengetahui waktu, yang pada haqiqatnya memberi petanda kepada kita bahawa ajal akan datang.
Apabila Sheikh Abdullah Daghestani (qs) diperintah untuk bersuluk, masa atau waktu bagi dia tidak ada makna. Di dalam suluk, seseorang itu mungkin tidak akan kembali ke dunia lagi. Semasa lima tahun bersuluk, beliau hanya hidup dengan tujuh biji zaitun dan sekeping roti sehari sehaja. Apabila awliya Allah memasuki suluk, mereka sedar bahawa waktu berpoya-poya sudah tamat, yang ada hanyalah berkerja keras.
Sheikh Abdullah (qs) berusia 18 tahun abapila beliau mulai suluk. Amalan yang dilakukan semasa bersuluk ialah membaca Quran dan berzikir. Awliya Allah apabila mengerjakan ibadat tersebut sentiasa mahu memanjangkan waktu tersebut (bagi kita manusia awam, kita mahu memanjangkan waktu untuk memenuhi nafsu kita). Bagi dia waktu bukanlah sesuatu yang perlu di hitung. Mereka sentiasa berada di “waktu sekarang.” Oleh yang demikian, kita perlu selalu merenungi dalaman kita dan pasti kita akan menjumpai “rumah” kita.
Di dalam renungan dalaman kita akan menemui haqiqat, iaitu dimensi kerohanian yang tidak ada batasan waktu. Dan di dalam dalaman ini kita akan jumpa “rumah” kita. Di dalam qalb manusia terletaknya “rumah” Allah. Maka carilah haqiqat tersebut di dalam diri kita. Ia terdapat dalam diri kita.
Terdapat 6 jenis haqiqat – haqiqat jazbah, haqiqat tawajuh, dsb), kesemuanya ini terdapat di dalam kita. Tetapi kesemuanya itu hanya boleh diberi kepada mereka yang boleh dipercayai. Mereka ini tidak mudah di nodai oleh perasaan bongkak, megah dan sebaigainya. Mereka dapat bertahan dengan segala bentuk dugaan dan sentiasa memuji Allah di dalam segala bentuk keadaan.
Allah sentiasa memberi kita keadaan/saat yang baik. Jadilah seorang yang sentiasa bersyukur. Selalu pegang kepada keadaan/saat tersebut.
Dunia yang kita tahu ini akan berakhir. Sesetengah kita akan pergi dahulu daripada berakhirnya dunia ini.Oleh yang demikian kenapa kita sering mengejar dunia (yang di cipta)? Kejarlah si Pencipta. Di alam hadrat ilahi waktu tidak ada erti – kita akan dengar bunyi-bunyian seperti ombak di lautan atau gauman harimau. Jadilah seperti ikan di dalam lautan
Ini adalah nasihat untuk malam ini yang datang daripada Maulana Sheikh Nazim (qs). Saya berniat untuk memberi suhbah daripada nota-nota Sh. Abdullah (qs), tetapi mereka telah mengubah cadangan saya.
Jangan dengar kepada diri yang menyuruh cintakan dunia ini. Dengarlah kepada roh yang suruh mencintai akhirat. Carilah benda-benda yang kekal. Makan makanan kerohanian – ianya tidak akan habis, ianya suci dan bersih.
Moga Allah merahmati kita semua malam ini dan kita tujukan segala kebaikan pada malam ini kepada sahabat kita Hanim. Moga Allah mencucuri roh beliau dengan rahmatNya. Roh Hanim bersama kita pada malam ini. Beliau gembira di mana beliau berada sekarang.
Moga kita disambut oleh para awliya Allah apabila kita meninggalkan dunia ini. Moga Allah merahmati Maulana Sh. Abdullah (qs) dan Maulana Sh. Nazim (qs). Allah panjangkan usia Maulana Sh. Nazim (qs). Wa minallahi taufiq. Bihurmati habib bihurmati surah fatihah
4)-Mengagungkan kubur (berdoa kepada kubur, mencium kubur, menghiaskan kubur )
Maqam-maqam mahaguru tareqat Naqshbandi yang terdapat di Bukhara. Dari kiri maqam Sheikh Muhammad Baha’uddin Shah Naqshband, Sheikh Muhammad Baba as-Samasi, Sheikh Amir Kulal dan Arif ar-Riwakri.
5)-Khutbah sesat menggunakan hadis yang direka tentang cerita seorang ‘wali’ Allah (yang melakukan suluk hanya di bulan Rejab dan bermaksiat di bulan-bulan lain) . Di sini nabi s.a.w., malaikat Jibril dan Sayyidina Abu Bakar dihina, perlakuan maksiat digalakkan dan kuasa suatu doa yang boleh menjadikan seseorang sebagai wali!!! ( dipetik dari laman web tariqat Naqsyabandiah)
“ Satu ketika di zaman Nabi S.A.W, terdapat seorang perompak jalanan yang terkenal. Setiap selepas tengah malam, dia akan menangkap dan merompak sesiapa sahaja yang ditemuinya berjalan berseorangan. Kadang-kala, dia akan memukul dan membunuh orang yang dirompaknya. Selepas merompak, dia terus pulang ke rumah. Tidak ada seorang pun yang mampu menangkap lelaki tersebut. Disebabkan kekejamannya, Nabi S.A.W telah berkata dengan perasaan marah tentang lelaki tersebut: “orang tu jahat, jika dia meninggal, aku tidak akan menyembahyangkan dan mengkebumikannya di tanah perkuburan orang Muslim”.
Selepas beberapa tahun, lelaki tersebut meningggal dunia. Dia mempunyai seorang anak perempuan. Malangnya, anak perempuannya tidak menemui seorang pun yang boleh membantunya menguruskan jenazah ayahnya. Disebabkan Nabi S.A.W pernah mencela perbuatan ayahnya- tidak akan menyembahyangkan dan mengkebumikannya di tanah perkuburan orang Muslim, budak-budak nakal telah membawa jenazah tersebut melalui jalan Madina dan membuangnya ke dalam sebuah perigi kosong serta kering. Sebaik sahaja jenazah itu dibuang, Allah telah berfirman kepada Nabi Muhammad S.A.W dan berkata, “Ya Habibi ya Muhammad! Wahai kekasih Ku Nabi S.A.W, hari ini seorang daripada wali Ku telah meninggal dunia. Kamu mesti pergi dan memandikannya, mengkafankannya, menyembahyangkkanya serta mengkebumikannya.”
Nabi S.A.W terkejut, sepanjang hidupnya dia telah mencela lelaki tersebut. Sekarang apabila lelaki tersebut meninggal dunia, Allah memberitahu baginda bahawa lelaki tersebut sebenarnya adalah wali-Nya. Bagaimana dia boleh menjadi wali? Sesungguhnya tidak ada seorang pun yang dapat mencampuri urusan pengetahuan Allah, walaupun Nabi S.A.W. Jika Allah mahu menjadi seorang perompak sebagai wali-Nya, tidak boleh sama sekali kita bertanya “KENAPA?” Kita mesti menerimanya. Oleh sebab itu, mengikut ajaran Sufi dan ajaran di dalam tarekat Naqshbandi, kita mesti melihat orang disekeliling kita adalah lebih baik daripada kita. Kita tidak tahu jika Allah akan menaikkan makam seseorang kepada makam yang lebih tinggi daripada makam kita; Siapa tahu? Tidak akan ada seorang pun yang akan tahu, oleh yang demikian janganlah kita mencampuri urusan-Nya. Jangan memandang rendah kepada orang jika kita merasakan kita lebih baik daripada mereka. Kita tidak tahu sama ada orang tersebut, pada pandangan Allah adalah wali ataupun tidak. Siapa yang tahu? Oleh yang demikian, kita perlu memandang tinggi kepada orang lain, menghormati mereka dan sentiasa merendahkan diri sendiri. Jangan sama sekali menunjukkan ego dan sentiasa berpuas hati.
Allah berkata kepada Nabi S.A.W, “Ya Rasulullah, pergi dapatkan dia dan bersihkan dia.” Dengan serta merta, Nabi S.A.W memanggil Saidina Abu Bakar as-Siddiq dan berkata, “Wahai Abu Bakar, kita perlu pergi dan dapatkan ‘lelaki’ tersebut. Abu Bakar berkata, “Ya Rasulullah, kamu pernah berkata yang kamu tidak akan mengkebumikan lelaki tersebut di tanah perkuburan orang Islam, dia bukan seorang muslim!” Nabi S.A.W berkata, “Tidak, tinggalkan persoalan Muslim. Allah memberitahuku hari ini yang lelaki tersebut adalah seorang wali!”
Apa yang telah dilakukan oleh perompak tersebut sepanjang hidupnya sehingga dia boleh menjadi seorang wali? Sepanjang hidupnya, dia telah membunuh, merompak dan mencuri. Nabi S.A.W pergi ke perigi tersebut, mengambil mayat lelaki tersebut dengan tangan baginda sendiri, dan membawanya pulang ke rumahnya dengan sahabat-sahabatnya. Kemudian, baginda membersihkannya, memandikannya, mengkafankannya, menyembahyangkannya dan seterusnya membawa jenazah lelaki tersebut daripada masjid Nabi S.A.W. ke Jannat ul-Baqi. Jarak perjalanan dari masjid ke Jannat ul-Baqi ialah 15 minit jika berjalan kaki. Namun begitu, Nabi S.A.W mengambil masa lebih daripada dua jam untuk sampai dari tempat yang pertama ke tempat yang kedua. Semua sahabat-sahabat baginda berasa hairan apabila melihat cara rasulullah S.A.W. berjalan. Dengan tangan baginda sendiri baginda telah membersihkan lelaki tersebut, memandikannya dan menyembahyangkannya. Semasa baginda membawa jenazah tersebut ke tanah perkuburan, baginda berjalan menggunakan jari kakinya (secara mengjinjat). Lantas sahabat-sahabat baginda bertanya, “Wahai Rasulullah, kenapakah engkau berjalan sedemikian?” Baginda menjawab, “Allah telah memerintahkan semua wali daripada timur dan barat, dan semua malaikat daripada tujuh syurga dan semua kerohanian hadir dan mengiringi jenazah ini. Mereka semua terlalu ramai dan memenuhi jalan, dan aku tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kakiku. Sepanjang hidup aku, tidak pernah aku terkejut seperti hari ini.”
Selepas mengkebumikan lelaki tersebut, Nabi S.A.W tidak bercakap dengan sesiapapun sebaliknya baginda terus pulang ke rumah dengan badan yang terketar-ketar. Baginda duduk dengan Saidina Abu Bakar dan bertanya kepada diri baginda tentang apa yang telah dilakukan oleh wali tersebut; menjadi perompak sepanjang hidupnya tetapi mendapat pengiktirafan yang cukup tinggi dari Allah. Saidina Abu Bakar berkata, “Wahai Rasulullah, aku berasa malu untuk bertanyakan tentang apa yang telah aku saksikan hari ini, ia sesuatu yang menghairankan.” Kemudian, Nabi S.A.W. menjawab,” Wahai Abu Bakar, aku lebih terkejut dari kamu, dan aku sedang menunggu kehadiran Jibril (s) dan memberitahuku apa yang telah berlaku”
Apabila Jibril (s) datang, Nabi S.A.W berkata,” Wahai Jibril, apakah yang sebenarnya berlaku?” Jibril (s) menjawab,” Wahai Nabi S.A.W., janganlah engkau bertanya aku. Aku juga hairan sepertimu. Oleh sebab itu, jangan berasa hairan kerana Allah boleh lakukan apa sahaja yang orang lain tidak dapat lakukan dan Dia memberitahu kamu untuk bertanyakan anak lelaki tersebut tentang apa yang telah dilakukannya semasa hayatnya.”
Dengan serta-merta dan ditemani oleh Saidina Abu Bakar, Nabi S.A.W. dengan sendirinya pergi ke rumah perompak tersebut. Nabi S.A.W. dengan rendah diri meletakkan kuasa dan statusnya sebagai manusia paling sempurna yang dicintai Allah pergi ke rumah perompak tersebut untuk bertanyakan apa yang telah dilakukan oleh ayahnya semasa hanyatnya: “Wahai anakku, sila ceritakan kepadaku bagaimanakah kehidupan ayahmu.” Anak perempuan lelaki tersebut berkata, “Wahai Rasulullah, aku begitu malu dengan apa yang akan aku ceritakan kepada kamu. Ayahku seorang pembunuh, seorang pembunuh. Aku tidak pernah melihat dia melakukan sebarang kebaikan. Dia akan merompak dan mencuri siang dan malam kecuali satu bulan. Apabila bulan tersebut tiba, dia akan berkata: “Bulan ini adalah bulan tuhanku, kerana ayahku pernah mendengar engkau berkata, Rejab adalah bulan Allah, Sya’ban adalah bulan Nabi S.A.W. dan Ramadan adalah bulan umat Muhammad.” Kemudian ayahku berkata lagi, “aku tidak kisah dengan bulan Nabi S.A.W. atau bulan umat Muhammad, kecuali bulan tuhanku. Oleh sebab itu aku akan duduk di dalam bilikku bersendiriaan, dan bersuluk sepanjang bulan ini.
Nabi S.A.W bertanya kepada anak perempuan itu lagi, “Apakah jenis suluk yang dia telah lakukan?” Dia menjawab,” Wahai Rasulullah, satu hari ketika ayahku sedang berjalan untuk mencari seseorang yang boleh dirompaknya, dia bertemu dengan seorang lelaki tua yang berumur 70-80 tahun. Lantas ayahku memukulnya sehingga pengsan, dan kemudiannya merompaknya. Dia menemui sehelai kertas kecil yang tergulung pada orang tua tersebut. Kemudian, dia membukanya dan mendapati di dalamnya ada satu doa. Ayahku amat gembira dengan doa tersebut. Setiap tahun, apabila datang bulan Rejab-bulan Allah , ayahku akan duduk bersendirian dan membaca doa tersebut siang dan malam, menangis dan membaca, kecuali keluar untuk makan dan membersihkan diri. Apabila bulan Rejab berakhir, dia akan bangun dan berkata, bulan Allah telah tamat, sekarang untuk menggembirakan ku aku akan kembali merompak dan mencuri untuk 11 bulan yang akan datang.
Doa (Doa awliya’ Abbas) yang digunakan oleh lelaki tersebut adalah sangat penting dan kita dinasihatkan untuk membacanya 3 kali sehari ketika bulan Rejab. Maulana Sh. Nazim berkata doa ini mencuci semua dosa dan menjadikan kamu putih seperti bayi yang baru dilahirkan. Doa ini amat terkenal di dalam ajaran sufi. Apabila Nabi S.A.W meminta anak perempuan lelaki tersebut memberikan doa tersebut kepadanya, baginda terus mencium kertas doa tersebut dan menyapunya pada badan baginda. Jangan tinggalkan doa dan amalkannya ketika bulan ini datang, teruskan membacanya, dan Allah akan memberi kepada kita, Insyallah. Bergantung kepada niat masing-masing.
Allah telah berkata kepada Nabi S.A.W., “Wahai Nabi yang Kucintai, orang itu telah datang dan memohon keampunan dari Ku di dalam bulan yang sangat berharga. Oleh sebab itu, kerana dia berkorban sekurang-kurangnya satu bulan dalam setahun untuk Ku, Aku ampunkan semua kesalahannya, dan aku tukarkan semua dosanya kepada ganjaran. Kerana dia mempunyai terlalu banyak dosa, sekarang dia mempunyai banyak ganjaran, dan dia kini menjadi wali besar.” Kerana satu doa, Allah jadikan seseorang yang tidak pernah beribadat sepanjang hidupnya menjadi wali.”
FAKTOR-FAKTOR MENYEBABKAN SESEORANG TERJEBAK DENGAN AJARAN SESAT
Kebanyakan ajaran Tariqat ini datangnya daripada sumber-sumber ajaran Syi’ah dan amalan-amalan mereka bukannya datang dari sumber yang boleh dipercayai seperti Al-Quran dan As-Sunnah yang tulin.
Terlebih dahulu elok kiranya kita mengemukakan sebab-sebab yang membawa kepada kesesatan dan penyelewengan aqidah. Antara lain yang dapat dipastikan daripada Al Quran adalah sebagai berikut :
i) Taqlid buta, Sebagaimana maksud firman Allah : “Dan (orang-orang yang tidak beriman itu) apabila mereka melakukan sesuatu perbuatan yang keji, mereka berkata: Kami dapati datuk nenek kami mengerjakannya dan Allah perintahkan kami mengerjakannya. Katakanlah (wahai Muhammad): Sesungguhnya Allah tidak sekali-kali menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji. Patutkah kamu mengatakan terhadap Allah apa yang kamu tidak mengetahuinya? “(Surah AL-Araf : ayat 28)
(ii) Tidak mempunyai konsep yang betul tentang sifat-sifat Allah s.w.t Firman Allah yang bermaksdu: “Dan kepada kaum Thamud, Kami utuskan saudara mereka: Nabi Soleh. Dia berkata: Wahai kaumku! Sembahlah kamu akan Allah! Sebenarnya tiada Tuhan bagi kamu selain daripadaNya. Dialah yang menjadikan kamu dari bahan-bahan bumi, serta menghendaki kamu memakmurkannya. Oleh itu mintalah ampun kepada Allah dari perbuatan syirik, kemudian kembalilah kepadaNya dengan taat dan tauhid. Sesungguhnya Tuhanku sentiasa dekat, lagi sentiasa memperkenankan permohonan hambaNya. Mereka menjawab dengan berkata: Wahai Soleh, sesungguhnya engkau sebelum ini adalah orang yang diharap dalam kalangan kami (untuk memimpin kami); patutkah engkau melarang kami daripada menyembah apa yang disembah oleh datuk nenek kami? Dan (ketahuilah) sesungguhnya kami berada dalam keadaan ragu-ragu yang merunsingkan tentang apa yang engkau serukan kami kepadanya”.
(Surah Hud ; ayat 61 & 62)
(iii) Lupa kepada ayat-ayat Allah firman Allah bermaksud : “Demikianlah keadaannya! Telah datang ayat-ayat keterangan Kami kepadamu, lalu engkau melupakan serta meninggalkannya dan demikianlah engkau pada hari ini dilupakan serta ditinggalkan”. (Surah Thaha : ayat 126)
(iv) Memilih pimpinan syaitan dengan meninggalkan pimpinan Tuhan. Firman Allah bermaksud : “Sebahagian (dari umat manusia) diberi hidayat petunjuk oleh Allah (dengan diberi taufik untuk beriman dan beramal soleh) dan sebahagian lagi (yang ingkar) berhaklah mereka ditimpa kesesatan (dengan pilihan mereka sendiri), kerana sesungguhnya mereka telah menjadikan Syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpin (yang ditaati) selain Allah. Serta mereka pula menyangka, bahawa mereka berada dalam petunjuk hidayat”. (Surah Al Araf : ayat 30)
(v) Keadaan diri tidak terkawal dengan aqidah yang betul Firman Allah bermaksud : “Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah sahaja diri kamu (dari melakukan sesuatu yang dilarang oleh Allah). Orang-orang yang sesat tidak akan mendatangkan mudarat kepada kamu apabila kamu sendiri telah mendapat hidayat petunjuk (taat mengerjakan suruhan Allah dan meninggalkan laranganNya). Kepada Allah jualah tempat kembali kamu semuanya, kemudian Dia akan menerangkan kepada kamu (balasan) apa yang kamu telah lakukan.(Surah Al Maidah :ayat 105)
(vi) Tidak menyedari bahawa kesesatan itu merugikan diri sendiri Firman Allah bermaksud : “Katakanlah (wahai Muhammad): Wahai sekalian manusia! Telah datang kepada kamu kebenaran (Al-Quran) dari Tuhan kamu. Oleh itu sesiapa yang mendapat hidayat petunjuk (beriman kepadanya), maka faedah hidayat petunjuk itu terpulang kepada dirinya sendiri dan sesiapa yang sesat (mengingkarinya) maka bahaya kesesatannya itu tertimpa ke atas dirinya sendiri dan aku pula bukanlah menjadi wakil yang menguruskan soal (iman atau keingkaran) kamu.(Surah Yunus : ayat 108)
(vii) Mengikut prasangka, andaian dan panduan akal yang tidak berpandukan ilmu yang sebenar
Firman Allah bermaksud : “Dan kebanyakan mereka, tidak menurut melainkan sesuatu sangkaan sahaja, (padahal) sesungguhnya sangkaan itu tidak dapat memenuhi kehendak menentukan sesuatu dari kebenaran (iktiqad). Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui akan apa yang mereka lakukan”
(Surah Yunus : ayat 36)
(viii) Tidak menggunakan akal dan pancaindera yang diberikan oleh Allah s.w.t di dalam mencari kebenaran. Firman Allah bermaksud : “Maka Nabi Soleh pun meninggalkan mereka sambil berkata: Wahai kaumku! Aku telah menyampaikan kepada kamu perutusan Tuhanku dan aku telah memberi nasihat kepada kamu, tetapi kamu tidak suka kepada orang-orang yang memberi nasihat”.
Surah Al-A’raf: ayat 79, Surah Bani Israel: ayat 72)
(ix) Degil dan keras kepada terhadap kebenaran Firman Allah : “Kemudian Kami utuskan sesudah Rasul-rasul itu, Nabi Musa dan Nabi Harun, kepada Firaun dan kaumnya dengan membawa ayat-ayat Kami; lalu mereka (Firaun dan kaumnya) berlaku sombong takbur (enggan menerimanya) dan mereka adalah kaum yang biasa melakukan dosa. Oleh sebab itu ketika datang kepada mereka kebenaran dari sisi Kami, berkatalah mereka: Sesungguhnya ini ialah sihir yang nyata. (Mendengarkan yang demikian), Nabi Musa bertanya: Patutkah kamu berkata demikian terhadap sesuatu kebenaran ketika datangnya kepada kamu? Adakah bawaanku ini sihir? Sedang ahli-ahli sihir itu sudah tetap tidak akan berjaya”.
(Surah Yunus: 75 – 77)
(x) Derhaka kepada Allah s.w.t dan Rasulullah s.a.w dengan membuat pilihan sendiri tentang urusannya setelah ditetapkan oleh Allah s.w.t dan Rasulullah s.a.w untuknya suatu ketetapan.
(Surah Al Ahzab : ayat 136)
(xi) Menurut hawa nafsu walaupun mengetahui tentang ayat-ayat Tuhan. Maksud firman Allah : “Kemudian, kalau mereka tidak dapat menerima cabaranmu (wahai Muhammad), maka ketahuilah, sesungguhnya mereka hanyalah menurut hawa nafsu mereka dan tidak ada yang lebih sesat daripada orang yang menurut hawa nafsunya dengan tidak berdasarkan hidayat petunjuk dari Allah. Sesungguhnya Allah tidak memberi pimpinan kepada kaum yang zalim (yang berdegil dalam keingkarannya).(Surah Al Qasas : ayat 50)
(xii) Tidak mengikut petunjuk daripada Tuhan. Allah berfirman:” Turunlah kamu berdua dari Syurga itu, bersama-sama, dalam keadaan setengah kamu menjadi musuh bagi setengahnya yang lain; kemudian jika datang kepada kamu petunjuk dariKu, maka sesiapa yang mengikut petunjukKu itu nescaya dia tidak akan sesat dan dia pula tidak akan menderita azab sengsara”(Surah Thaha : ayat 123)
(xiii) Terpedaya oleh godaan syaitan Allah berfirman :”Dan sesungguhnya Syaitan itu telah menyesatkan golongan yang ramai di antara kamu; (setelah kamu mengetahui akibat mereka) maka tidakkah sepatutnya kamu berfikir dan insaf?”(Surah Yaasin : ayat 62)
(xiv) Orang-orang yang sesat dan banyak dosa Allah berfirman : “
(Surah As Syu’ra )
(xv) Melampaui batas dan tetap ragu walaupun sudah datang keterangan-keterangan yang nyata
Allah berfirman : “
(Surah Al Mukmin : ayat 134)
(xvi) Menjadikan orang-orang yang sesat sebagai penolong dan pembantu Allah berfirman :” Aku tidak memanggil mereka menyaksi atau membantuKu menciptakan langit dan bumi, dan tidak juga meminta bantuan setengahnya untuk menciptakan setengahnya yang lain dan tidak sepatutnya Aku mengambil makhluk-makhluk yang menyesatkan itu sebagai pembantu”. (Surah Al Kahfi : ayat 51)
CARA PENYELESAIANNYA
Di antara cara penyelesaian yang boleh diketengahkan adalah seperti berikut:
(i) Kembali kepada Al Quran dan As Sunnah
(ii) Mengadakan peruntukan undang-undang yang mencukupi untuk membendung dan menghalang ajaran-ajaran yang sesat ini sesuai dengan ajaran Islam itu sendiri.
(iii) Melahirkan para pendakwah dan guru-guru agama yang benar-benar peka di dalam persoalan penyelewengan aqidah khasnya dan penyelewengan daripada ajaran Islam serta melatih mereka dengan cara-cara mengatasi masalah-masalah ini.
(iv) Memperkenalkan Islam yang syumul merangkumi segala aspek kehidupan manusia di samping mempraktikkannya.
(v) Memberikan ajaran Islam yang mencukupi dan tahan lasak di dalam menghadapi segala bentuk ancaman yang mungkin menggugat aqidah mereka.
(vi) Menghapuskan segala bentuk maksiat dan kemungkaran atau sekurang-kurangnya cuba dan berusaha mengurangkannya secepat mungkin, bukan dengan memperbanyakkan pula tempat-tempat maksiat dan membiarkan kemungkaran terus bermaharajalela.
(vii) Mempergunakan media massa seluas-luasnya dalam usaha pengajaran Islam yang benar-benar bersih dan tulin kepada masyarakat.
(viii) Sentiasa berusaha mengenalpasti penyelewengan aqidah yang berlaku di dalam masyarakat kemudian bertindak dengan secepat mungkin sebelum ia berakar umbi.
(ix) Sentiasa meminta pertolongan dan menaruh pengharapan kepada Allah s.w.t sebagai penolong dan pembela dalam usaha membasmi penyelewengan aqidah dan ajaran-ajaran sesat
Buat Ikhlas
Jangan asal tuduh sesat pada kaum sufi. Lihat diri anda aja sendiri.
Wassalam
Yang direka-reka bukan ajaran agama. Jangan ikut orang lain secara membabi buta. belajrlah ilmu yang betul. supaya tidak sesat lagi menyesatkan orang lain.
Buat sdr.Ikhlas,
Anda mengutip Keputusan Fatwa Muzakarah Jawatan kuasa Majlis Fatwa Kebangsaan Bagi Hal Ehwal Agama Islam, keputusan yang dikeluarkannya bagi saya di Indonesia sangatlah tidak tepat.Alasan :
-Fatwa diputus tanpa terlebih dahulu memberikan kesempatan untuk menghadirkan pihak yang diperkarakan.
-Setiap yang tidak berkenan dihati anggota Majlis Fatwa, termasuk sesat, maka lihatlah banyak betul ajaran sesat yang mereka keluarkan, seolah-olah mereka saja yang benar.
Saya Ari, Boyolali, Indonesia
Saya Pengamal Tharikat Naqsyabandhi Al-Khalidiyah Garis dari Jabal Qubis Mekkah, yang di Indonesia Ahli Silsilah ke-34 yaitu YMM. Nenek Guru Muhammad Hasyim, QS..dan sebagai pewaris Waliyam Mursyida ke 35 adalah YMM. Ayahanda Guru Prof. DR. Khadirun Yahya Muhammad Amin, MSc. QS.
Salam buat seluruh jamiah Ahlith-thariqoh Naqsyabandhi di seluruh Dunia, bahwa sebenar-benar pengamal Dzikrullah adalah yang masih melaksanakan Iktikaf, Ubudiyah, Sedekah, menjaga syariat, dan Adab terhadah Guru Waliyam Mursyida.
kepada iklhas… mudah2 mudahan di doakan agar tidak terhijab oleh ilmu yang anda miliki… fatwa tersebut adalah dari JAKIM Malaysia.. tapi telah di tarik balik atas pengakuan kesilapan mereka sendiri. web yang menyatakan naqsyabandi pimpinan Mawlana Syeikh Nazim Haqqani sesat itu sengaja tidak dibuang bagi mengelirukan orang ramai. Allahu HAq!
Wa min Allah at taufiq.
Saya banyak membaca komentar yang menyatakan tarikat itu sesat, tapi yang diulas dan yang dipermasalahkan dan yang dinyatakan sesat itu hanya masalah pengalaman kerohanian dari guru atau pengikut tarikat tsb. tidak pernah diulas dasar peramalan dan cara peramalan tsb. Jadi kalau hanya cerita gaib yang dihakimi, sama sekali tidak berdasar, Anda percaya atau tidak itu tidak menyebabkan anda menjadi syirik.
Tolong kementarnya
thanks. wassalam
http://www.ismulhaq.com
Salam…………..
Saudara Zubaidi…Antara amalan yang terdapat dalam tarikat Naqsyabndiyah adalah Suluk dan orangnya dinamakan Salik. Apakah benar orang suluk tidak dibenarkan melakukan berbagai shalat sunnah pada 10 hari pertama dalam suluknya?
Kalau ia tolong saudara berikan penjelasannya beserta dengan dalil2nya.
Wassalam…..
Jangan bicara sebelum TUa…
Salam buat semua ……!!!
saya memeng baru dan masih sedikit dalam pemahaman ilmu agama “agama islam” , sebelum saya mengikuti Tharikat Naqsyabandhi banyak hal yang saya tanyakan dan saya ulas tentunya dengan keadaan hati yang tenang dan pikiran yang terbuka, saya mendapatkan semua keterangan dengan cermat dan sangat logis dapat di cerna dengan akal pikiran.
kenapa kita harus menuding bahwa suatu aliran tarikat itu sesat, karena sesungguhnya yang menyesatkan suatu aliran tarikat itu adalah manusia itu sendiri….. karena saya meyakini manusia d ciptakan di dunia dengan hati yang mulia di atas semua mahluk ciptaan tuhan-Nya “ALLAH”
jika manusia lari atas kemuliannya itu di sebabkan oleh kepentingan duniawi, seperti kepentingan diri sendiri atau golongan. Dia mengesampingkan perkataan sanubarinya.
karena itu tujuan utama dari berzikir adalah membersihkan hati agar kita “manusia” tetap berada dalam kemuliaan yang diberikan Allah. Dengan hati yang bersih kita dapat memilah mana yang benar dan mana yang tidak…. tentunya dengan berpegang pada Alqur’an dan Al-Hadist.
“ada dua golongan umat Islam sepeninggalku, pertama golongan umat islam yang biasa2 saja, kedua golongan umat islam yang seperti diriku” perkataan nabi muhammad SAW.
ulasan saya tentang perkataan nabi mihammad SAW di atas adalah : tentunya saya tidak ingin menjadi umat islam yang biasa2 saja …. saya ingin menjadi umat muslim yang sebenarnya, saya ingin dekat dengan Allah seperti kedekatan nabi muhammad SAW dengan Allah.
wassalam
yup lumayan buat pengetahuan
menurut pendapat beberapa kalangan bahwa mengikut ajaran tarekat sekalipun penting utk diketahui tetapi tidak ada anjuran syar’i yang menyuruh umat islam ini utk mengamalkanya, yang ada dari semua ini kita harus melakukan amal sesuai dgn yg kita mampu.
barang siapa berbuat kejahatan atau kebaikan walaupun seberat zarrah akan melihat balasanya.
pilih mana? jadi setan bodo atau manuasia pinter tapi gak kenal ame Tuhannya? Man ‘arofa nafsahu faqod ‘arofa robbahu….
Sip deh lanjut terus… karena banyak orang faham betul soal Syariat malah sampai bergelar Doctor atas disiplin ilmu Syari’at yang didapatkannya dibangku sekolah dan berbuah pemahaman Hakikat dikarenakan pemahaman Syari’atnya yang banyak dan dalam itu. Pertanyaan saya kalo sudah faham Syari’at,..?…,Hakikat,Ma’rifat, lalu Tharikatnya kemana dong? Kenapa seehh alergi banget sama tharekat??? kalo ngitung hendaklah berurutan agar mudah dimengerti oleh orang lain. Begitupula Allah Swt yang mengawali pelajaran terhadap nabi yaitu “Bacalah….!!!”.
Wassalam,
Semoga kita mendapatkan bimbingan dari yang Maha membimbing.
Ahmad Baedlawi
Denpasar – Bali.
apabila ingin menjalankan perintah agama,maka terlebih dahulu mengenal kepada siapa yang memerintahkannya.hendaknya jangan menuding satu perkumpulan tarekat yang di jalankan oleh satu ajaran sesat sebelum mengetahui isi dari ajaran tsb.sebaliknya apakah kita sudah merasa benar dalam menjalankan akidah2 islam,apakah menjalankan syariat itu cukup sampai dengan menjalankan perintahnya & menjauhi larangannya secara zahir saja?bukankah allah menilai suatu perbuatan dari pada niat hambanya,maka berhati hatilah terhadap niatmu tsb.bersihkanlah hatimu sebelum kamu menilai kepada seseorang selain kamu,bahwasannya hanya kepada allahlah kuserahkan zahir & batinku dari pada urusanku atas dirinya.Wassalam………..
Assalamualaikum, Saya mengucapkan salam bahagia kepada saudara kita yang sudah ditunjuki jalan agama dan melakukan pendekatan diri melalui ajaran thariqat, dan selalu mendekatkan diri kepada Allah, pertama bersihkan hati, menuntut lah ilmu yang Haq dengan berguru, jangan kita asalan menuding ajaran thariqat Naqsyabandiyah karena intinya dalam ajaran tersebut bertobat kepada Allah dengan harapan memperoleh ma’rifah kepada Allah makanya dalam tamsilan janganlah kita mengatakan makanan itu ngak enak sebelum kita merasakannya. Thariqat Naqsyabandiah adalah pengamalan hati (Zikir Qalbi) dalam artian melatih hati selalu mengingat sang pencipta. banyak kita sagat cemas kepada penyakit lahiriah tetapi bathiniah tidak kita hiraukan padahal sangatlah bahaya penyakit hati ini karena bisa menhancurkan diri kita dan orang lain, padahal sebaik2 manusia yang berguna bagi dirinya dan bermanfaat kepada org lainb, makanya bertobatlah kepada Allah, kemudian beramallah dengan ikhlas moga2 kita semua menjadi orang2 yang patuh kepada Allah dan bahagia dunia walakhirat.amiin
asalamu alaykum untuk pengamal thareqat naksyabandyiah dimanapun berada Ilahi anta maksudi waridhoka matlubi
Saya sangat kagum pada penulis artikel ini. Bravo deh buat anda.
Sahabat yang di Muliakan Allah.
Bertharekat itu suatu ikhtiar untuk mencapai kesempurnaan tauhid, yaitu Mentauhidkan Allah secara total.
Bertauhid itu menuhankan Tuhan.
Bertauhid itu tidak menuhankan Agama
Bertauhid itu tidak menuhankan Alquran dan Al-Hadist.
Sekali lagi bertauhid itu menuhankan Allah saja, sebagai pemilik langit dan pemilik Bumi.
Ada pertanyaan besar yang memerlukan jawab jujur dari kita, ?. Yang menghadap Allah adalah rohaniah kita. Sejak kapan rohaniah kita itu bertuhan.
Antara rohani dan jasmini adalah dua etentitas yang sangat berbeda.
Kita bertuhan hanya karena kita menggunakan akal, memahami tuhan juga dengan akal berikut sangka atau prasangka kita bahwa kita telah bertuhan. Atau mungkin bertuhan menurut akal kita, menurut pikiran kita menurut otak kita. LANTAS BAGAIMANA TUHAN MENURUT ROHANIAH KITA.
Insyaallah bertharekat akan menuntun kita menuju Tuhan hingga kita tahu secara nyata haqqul yakin.
Perbuatan paling mudah menyebut nama Allah, Allah, Allah.
Dan berbuatan paling sulit menyebut nama Allah, Allah, Allah hingga Allah datang pada kita dan kita mengenalnya secara lahir dan batin. Wajah kita, kita hadapkan pada wajahnya, bermakrifat namanya.
Wassalam.
subaidy@msn.com
assalamualaikum ,
bersyukurlah kepada yang mendapat hidayah Allah dengan mengamalkan toriqat naqsyabandiah.tuan2 adalah yang insan terpilih,dan kepada yang belum masyaallah tuan2 yang meragui sunnah rasulullah yang ulung.
bertanyalah kepada yang ahli dengan niat mencari kebenaran dan keridaan,janganlah sebaliknya mencari kemenagan dan kemasyuran.
sesungguhnya manusia itu bermusuhan kepada apa yang dia tidak tahu.
assalam.wb…selamat pada saudaraku yang telah mendapatkan hidayah dari allah untuk berjihad mencintai allah dengan berzikir.sesuai fiman allah dalam alquran.surat albaqoroh ayat 152.yang artinya;berzikirlah kepadaku(allah)maka aku akan berzikir kepadamu.bersyukurlah dan jangan mengingkarinya.saudaraku se tarekat annaksabandiah,insya allah dengan metode dzikir yang kita lakukan akan menembus frekuensi tak terhingga.karena yang bisa menembus frekuensi itu hanyalah orang yang bisa memanfaatkan kekuatan hati yang di berikan frekuensi tak terhingga oleh allah swt yang di tiupkan oleh allah swt. melalui metode zikir yang benar.intinya adalah agar kita dalam menjalankan hidip ini bisa sabar ketika mendapatkan cobaan,syukur akan nikmat allah dan ikhlas dalam ketentuan allah swt..mudah-mudahan kita semua dalam ridho allah swt.amien…wassalam
Asslamualaikm wr.wb ane punya prtxan al insanu sirri waana sirruhu dan briktx man arofa nafsahu faqod arofa rabbah dan tlong penjelasan secara ilmu makrifat…dblz
setiap muslim yang ingin menuju ke jalan Allah wajib mengetahui dan mengamalkan ilmu syariat iaitu tauhid, feqah dan tasawwuf
tariqat sebagai latihan untuk mengingati Allah (zikrullah) dia perlulah menyusuri jalan tariqat. Tarikat maksudnya cara berzikir yang diajar oleh rasul kepada para sahabat radhiyallahu anhum. Kemudian sahabat mengajarkan kepada lapisan generasi seterusnya
Persoalannya kenapa tidak langsung berzikir,atau berzikir ikut cara sendiri sudah cukup.
jawapannya kalau solat mesti ikutcara yang nabi ajarkan maka ibadat lain seperti zikir ini pun mesti mengikut cara-caranya seperti yang diajar oleh rasul kepada sahabat
cara berzikir ini pula bermacam-macam cara,kerana nabi mengajarkan pelbagai cara kepada sahabat2. makanya cara yang diajar kepada Saidina Abubakar berbeda dengan cara yang diajar kepada Saidina Ali. Perbezaan cara dalam ibadat ini boleh kita lihat juga dalam cara2 mengangkat tangan ketika ibadat doa.
Persoalan tentang mengapa ada nama tariqat yang berlainan,contohnya ada tariqat naqsyabandi, syazili, ahmadiah,yasawi, khawajen? Sebenarnya nama tariqat ini adalah dinisbahkan sahaja kepada tokoh yang mempopularkannya. Cara berzikirnya tetap sama.
Contohnya nama naqsyabandi itu diambil dari sheikh bahauddin dari gelarannya (naqsyabandi) sedangkan nama tariqat guru-kepada gurunya iaitu tarikat kwajagan diambil dari nama sheikh abdul khaliq (gujdawani)
Jadi bukannya tokoh ini merekacipta cara berzikir ini melainkan semuanya mereka pelajari dari guru-guru mereka yang bertemu sumbernya sampai ke Rasukullah S.a.w
Allah jua maha mengetahui
bertariqat itu adalah suatu latihan untuk mengingati Allah yang diselia oleh guru pembimbing(mursyid)
Tujuannya :melazimkan ingatan kepada Allah. Kerana dengangu n banyak mengingati Allah sahaja hati akan tenang. Maksud tenang ialah hati itu akan bebas dari segala penyakit hati(sifat2 mazmumah) yang mengganggu tumpuan ibadat hamba tadi. Bila sifat2 mazmumah sudah beransur2 dinyahkan darpada hati, maka barulah masuk bermacam hidayah, rahmat, hidayah keyakinan iman, hidayah taubat hinggalah perkara-perkara yang tidak pernah diketahui oleh manusia iaitu perkara hakikat dan perkara makrifat
Ilmi ilmu inilah yang tidak bisa dipelajari oleh manusia. ianya disampaikan langsung OLEH ALLAH kedalam hati manusia.
Ilmu Inilah yang dimaksud dalam ayat 5 surah Iqra’ : Dia sendiri mengajar manusia (tanpa perantaraan makhluk: secara langsung) perkara yang tidak pernah diketahui oleh manusia.(maa lam ya’lam). Lam ya’lam itu daripada kaedah bahasa Arabnya : tidak pernah langsung diketahui ole mana2 makhluk pun – ilmu hakikat dan makrifat
Berbeda dengan ayat sebelumnya iaitu ada ilmu yang ajarkan manusia melalui kalam. Kalam ini ertinya pena. Maksudnya ada ilmu yang Allah ajarkan melalui perkara yang boleh dikaji oleh manusia dan seterusnya direkodkan dalam bentuk catatan(dengan kalam)
sementara itu ada ilmu yang Allah campakkan kedalam hati manusia. Ilmu ini tidak bisa dipelajari. Inilah ilmu hakikat dan ilmu makrifat. Atau dinamakannya ILMU LADUNNI/ ilmu kasyaf.
Allah jua maha mengetahui
penting utk dikunjungi, disini di ungkapkan kesesatan tarekat haqqani:
http://tarekathaqqani.wordpress.com/