GADYSA & GELBINA

Tarekat Syattariyah

In Thareqat on February 22, 2005 at 10:12 pm

Tarekat Syattariyah

Tarekat Syattariyah adalah aliran tarekat yang pertama kali muncul di India pada abad ke 15. Tarekat ini dinisbahkan kepada tokoh yang mempopulerkan dan berjasa mengembangkannya, Abdullah asy-Syattar.

Awalnya tarekat ini lebih dikenal di Iran dan Transoksania (Asia Tengah) dengan nama Isyqiyah. Sedangkan di wilayah Turki Usmani, tarekat ini disebut Bistamiyah.

Kedua nama ini diturunkan dari nama Abu Yazid al-Isyqi, yang dianggap sebagai tokoh utamanya. Akan tetapi dalam perkembangan selanjutnya Tarekat Syattariyah tidak menganggap dirinya sebagai cabang dari persatuan sufi mana pun. Tarekat ini dianggap sebagai suatu tarekat tersendiri yang memiliki karakteristik-karakteristik tersendiri dalam keyakinan dan praktik.

Hanya sedikit yang dapat diketahui mengenai Abdullah asy-Syattar. Ia adalah keturunan Syihabuddin Suhrawardi. Kemungkinan besar ia dilahirkan di salah satu tempaat di sekitar Bukhara. Di sini pula ia ditahbiskan secara resmi menjadi anggota Tarekat Isyqiyah oleh gurunya, Muhammad Arif.

Nisbah asy-Syattar yang berasal dari kata syatara, artinya membelah dua, dan nampaknya yang dibelah dalam hal ini adalah kalimah tauhid yang dihayati di dalam dzikir nafi itsbat, la ilaha (nafi) dan illallah (itsbah), juga nampaknya merupakan pengukuhan dari gurunya atas derajat spiritual yang dicapainya yang kemudian membuatnya berhak mendapat pelimpahan hak dan wewenang sebagai Washitah (Mursyid). Istilah Syattar sendiri, menurut Najmuddin Kubra, adalah tingkat pencapaian spiritual tertinggi setelah Akhyar dan Abrar. Ketiga istilah ini, dalam hierarki yang sama, kemudian juga dipakai di dalam Tarekat Syattariyah ini. Syattar dalam tarekat ini adalah para sufi yang telah mampu meniadakan zat, sifat, dan af’al diri (wujud jiwa raga).

Namun karena popularitas Tarekat Isyqiyah ini tidak berkembang di tanah kelahirannya, dan bahkan malah semakin memudar akibat perkembangan Tarekat Naksyabandiyah, Abdullah asy-Syattar dikirim ke India oleh gurunya tersebut. Semula ia tinggal di Jawnpur, kemudian pindah ke Mondu, sebuah kota muslim di daerah Malwa (Multan). Di India inilah, ia memperoleh popularitas dan berhasil mengembangkan tarekatnya tersebut.

Tidak diketahui apakah perubahan nama dari Tarekat Isyqiyah yang dianutnya semula ke Tarekat Syattariyah atas inisiatifnya sendiri yang ingin mendirikan tarekat baru sejak awal kedatangannya di India ataukah atas inisiatif murid-muridnya. Ia tinggal di India sampai akhir hayatnya (1428).

Sepeninggal Abdullah asy-Syattar, Tarekat Syattariyah disebarluaskan oleh murid-muridnya, terutama Muhammad A’la, sang Bengali, yang dikenal sebagai Qazan Syattari. Dan muridnya yang paling berperan dalam mengembangkan dan menjadikan Tarekat Syattariyah sebagai tarekat yang berdiri sendiri adalah Muhammad Ghaus dari Gwalior (w.1562), keturunan keempat dari sang pendiri. Muhammad Ghaus mendirikan Ghaustiyyah, cabang Syattariyah, yang mempergunakan praktik-praktik yoga. Salah seorang penerusnya Syah Wajihuddin (w.1609), wali besar yang sangat dihormati di Gujarat, adalah seorang penulis buku yang produktif dan pendiri madrasah yang berusia lama. Sampai akhir abad ke-16, tarekat ini telah memiliki pengaruh yang luas di India. Dari wilayah ini Tarekat Syatttariyah terus menyebar ke Mekkah, Madinah, dan bahkan sampai ke Indonesia.

Tradisi tarekat yang bernafas India ini dibawa ke Tanah Suci oleh seorang tokoh sufi terkemuka, Sibghatullah bin Ruhullah (1606), salah seorang murid Wajihuddin, dan mendirikan zawiyah di Madinah. Syekh ini tidak saja mengajarkan Tarekat Syattariah, tetapi juga sejumlah tarekat lainnya, sebutlah misalnya Tarekat Naqsyabandiyah. Kemudian Tarekat ini disebarluaskan dan dipopulerkan ke dunia berbahasa Arab lainnya oleh murid utamanya, Ahmad Syimnawi (w.1619). Begitu juga oleh salah seorang khalifahnya, yang kemudian tampil memegang pucuk pimpinan tarekat tersebut, seorang guru asal Palestina, Ahmad al-Qusyasyi (w.1661).

Setelah Ahmad al-Qusyasyi meninggal, Ibrahim al Kurani (w. 1689), asal Turki, tampil menggantikannya sebagai pimpinan tertinggi dan penganjur Tarekat Syattariyah yang cukup terkenal di wilayah Madinah.

Dua orang yang disebut terakhir di atas, Ahmad al-Qusyasyi dan Ibrahim al-Kurani, adalah guru dari Abdul Rauf Singkel yang kemudian berhasil mengembangkan Tarekat Syattariyah di Indonesia. Namun sebelum Abdul Rauf. Telah ada seorang tokoh sufi yang dinyatakan bertanggung jawab terhadap ajaran Syattariyah yang berkembang di Nusantara lewat bukunya Tuhfat al-Mursalat ila ar Ruh an-Nabi, sebuah karya yang relatif pendek tentang wahdat al-wujud. Ia adalah Muhammad bin Fadlullah al-Bunhanpuri (w. 1620), juga salah seorang murid Wajihuddin. Bukunya, Tuhfat al-Mursalat, yang menguraikan metafisika martabat tujuh ini lebih populer di Nusantara ketimbang karya Ibnu Arabi sendiri. Martin van Bruinessen menduga bahwa kemungkinan karena berbagai gagasan menarik dari kitab ini yang menyatu dengan Tarekat Syattariyah, sehingga kemudian murid-murid asal Indonesia yang berguru kepada al-Qusyasyi dan Al-Kurani lebih menyukai tarekat ini ketimbang tarekat-tarekat lainnya yang diajarkan oleh kedua guru tersebut. Buku ini kemudian dikutip juga oleh Syamsuddin Sumatrani (w. 1630) dalam ulasannya tentang martabat tujuh, meskipun tidak ada petunjuk atau sumber yang menjelaskan mengenai apakah Syamsuddin menganut tarekat ini. Namun yang jelas, tidak lama setelah kematiannya, Tarekat Syattariyah sangat populer di kalangan orang-orang Indonesia yang kembali dari Tanah Arab.

Abdul Rauf sendiri yang kemudian turut mewarnai sejarah mistik Islam di Indonesia pada abad ke-17 ini, menggunakan kesempatan untuk menuntut ilmu, terutama tasawuf ketika melaksanakan haji pada tahun 1643. Ia menetap di Arab Saudi selama 19 tahun dan berguru kepada berbagai tokoh agama dan ahli tarekat ternama. Sesudah Ahmad Qusyasyi meninggal, ia kembali ke Aceh dan mengembangkan tarekatnya. Kemasyhurannya dengan cepat merambah ke luar wilayah Aceh, melalui murid-muridnya yang menyebarkan tarekat yang dibawanya. Antara lain, misalnya, di Sumatera Barat dikembangkan oleh muridnya Syekh Burhanuddin dari Pesantren Ulakan; di Jawa Barat, daerah Kuningan sampai Tasikmalaya, oleh Abdul Muhyi. Dari Jawa Barat, tarekat ini kemudian menyebar ke Jawa Tengah dan Jawa Timur. Di Sulewasi Selatan disebarkan oleh salah seorang tokoh Tarekat Syattariyah yang cukup terkenal dan juga murid langsung dari Ibrahim al-Kurani, Yusuf Tajul Khalwati (1629-1699).

Martin menyebutkan bahwa sejumlah cabang tarekat ini kita temukan di Jawa dan Sumatera, yang satu dengan lainnya tidak saling berhubungan. Tarekat ini, lanjut Martin, relatif dapat dengan gampang berpadu dengan berbagai tradisi setempat; ia menjadi tarekat yang paling “mempribumi” di antara berbagai tarekat yang ada. Pada sisi lain, melalui Syattariyah-lah berbagai gagasan metafisis sufi dan berbagai klasifikasi simbolik yang didasarkan atas ajaran martabat tujuh menjadi bagian dari kepercayaan populer orang Jawa.

Ajaran dan Dzikir Tarekat Syattariyah
Perkembangan mistik tarekat ini ditujukan untuk mengembangkan suatu pandangan yang membangkitkan kesadaran akan Allah SWT di dalam hati, tetapi tidak harus melalui tahap fana’. Penganut Tarekat Syattariyah percaya bahwa jalan menuju Allah itu sebanyak gerak napas makhluk. Akan tetapi, jalan yang paling utama menurut tarekat ini adalah jalan yang ditempuh oleh kaum Akhyar, Abrar, dan Syattar. Seorang salik sebelum sampai pada tingkatan Syattar, terlebih dahulu harus mencapai kesempurnaan pada tingkat Akhyar (orang-orang terpilih) dan Abrar (orang-orang terbaik) serta menguasai rahasia-rahasia dzikir. Untuk itu ada sepuluh aturan yang harus dilalui untuk mencapai tujuan tarekat ini, yaitu taubat, zuhud, tawakkal, qana’ah, uzlah, muraqabah, sabar, ridla, dzikir, dan musyahadah.

Sebagaimana halnya tarekat-tarekat lain, Tarekat Syattariyah menonjolkan aspek dzikir di dalam ajarannya. Tiga kelompok yang disebut di atas, masing-masing memiliki metode berdzikir dan bermeditasi untuk mencapai intuisi ketuhanan, penghayatan, dan kedekatan kepada Allah SWT. Kaum Akhyar melakukannya dengan menjalani shalat dan puasa, membaca al-Qur’an, melaksanakan haji, dan berjihad. Kaum Abrar menyibukkan diri dengan latihan-latihan kehidupan asketisme atau zuhud yang keras, latihan ketahanan menderita, menghindari kejahatan, dan berusaha selalu mensucikan hati. Sedang kaum Syattar memperolehnya dengan bimbingan langsung dari arwah para wali. Menurut para tokohnya, dzikir kaum Syattar inilah jalan yang tercepat untuk sampai kepada Allah SWT.

Di dalam tarekat ini, dikenal tujuh macam dzikir muqaddimah, sebagai pelataran atau tangga untuk masuk ke dalam Tarekat Syattariyah, yang disesuaikan dengan tujuh macam nafsu pada manusia. Ketujuh macam dzikir ini diajarkan agar cita-cita manusia untuk kembali dan sampai ke Allah dapat selamat dengan mengendarai tujuh nafsu itu. Ketujuh macam dzikir itu sebagai berikut:

1. Dzikir thawaf, yaitu dzikir dengan memutar kepala, mulai dari bahu kiri menuju bahu kanan, dengan mengucapkan laa ilaha sambil menahan nafas. Setelah sampai di bahu kanan, nafas ditarik lalu mengucapkan illallah yang dipukulkan ke dalam hati sanubari yang letaknya kira-kira dua jari di bawah susu kiri, tempat bersarangnya nafsu lawwamah.

2. Dzikir nafi itsbat, yaitu dzikir dengan laa ilaha illallah, dengan lebih mengeraskan suara nafi-nya, laa ilaha, ketimbang itsbat-nya, illallah, yang diucapkan seperti memasukkan suara ke dalam yang Empu-Nya Asma Allah.

3. Dzikir itsbat faqat, yaitu berdzikir dengan Illallah, Illallah, Illallah, yang dihujamkan ke dalam hati sanubari.

4. Dzikir Ismu Dzat, dzikir dengan Allah, Allah, Allah, yang dihujamkan ke tengah-tengah dada, tempat bersemayamnya ruh yang menandai adanya hidup dan kehidupan manusia.

5. Dzikir Taraqqi, yaitu dzikir Allah-Hu, Allah-Hu. Dzikir Allah diambil dari dalam dada dan Hu dimasukkan ke dalam bait al-makmur (otak, markas pikiran). Dzikir ini dimaksudkan agar pikiran selalu tersinari oleh Cahaya Ilahi.

6. Dzikir Tanazul, yaitu dzikir Hu-Allah, Hu-Allah. Dzikir Hu diambil dari bait al-makmur, dan Allah dimasukkan ke dalam dada. Dzikir ini dimaksudkan agar seorang salik senantiasa memiliki kesadaran yang tinggi sebagai insan Cahaya Ilahi.

7. Dzikir Isim Ghaib, yaitu dzikir Hu, Hu, Hu dengan mata dipejamkan dan mulut dikatupkan kemudian diarahkan tepat ke tengah-tengah dada menuju ke arah kedalaman rasa.

Ketujuh macam dzikir di atas didasarkan kepada firman Allah SWT di dalam Surat al-Mukminun ayat 17: “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan di atas kamu semua tujuh buah jalan, dan Kami sama sekali tidak akan lengah terhadap ciptaan Kami (terhadap adanya tujuh buah jalan tersebut)”. Adapun ketujuh macam nafsu yang harus ditunggangi tersebut, sebagai berikut:

1. Nafsu Ammarah, letaknya di dada sebelah kiri. Nafsu ini memiliki sifat-sifat berikut:
Senang berlebihan, hura-hura, serakah, dengki, dendam, bodoh, sombong, pemarah, dan gelap, tidak mengetahui Tuhannya.

2. Nafsu Lawwamah, letaknya dua jari di bawah susu kiri. Sifat-sifat nafsu ini: enggan, acuh, pamer, ‘ujub, ghibah, dusta, pura-pura tidak tahu kewajiban.

3. Nafsu Mulhimah, letaknya dua jari dari tengah dada ke arah susu kanan. Sifat-sifatnya: dermawan, sederhana, qana’ah, belas kasih, lemah lembut, tawadlu, tobat, sabar, dan tahan menghadapi segala kesulitan.

4. Nafsu Muthmainnah, letaknya dua jari dari tengah-tengah dada ke arah susu kiri. Sifat-sifatnya: senang bersedekah, tawakkal, senang ibadah, syukur, ridla, dan takut kepada Allah SWT.

5. Nafsu Radhiyah, letaknya di seluruh jasad. Sifat-sifatnya: zuhud, wara’, riyadlah, dan menepati janji.
6. Nafsu Mardliyah, letaknya dua jari ke tengah dada. Sifat-sifatnya: berakhlak mulia, bersih dari segala dosa, rela menghilangkan kegelapan makhluk.

7. Nafsu Kamilah, letaknya di kedalaman dada yang paling dalam. Sifat-sifatnya: Ilmul yaqin, ainul yaqin, dan haqqul yaqin.

Khusus dzikir dengan nama-nama Allah (al-asma’ al-husna), tarekat ini membagi dzikir jenis ini ke dalam tiga kelompok. Yakni, a) menyebut nama-nama Allah SWT yang berhubungan dengan keagungan-Nya, seperti al-Qahhar, al-Jabbar, al-Mutakabbir, dan lain-lain; b) menyebut nama Allah SWT yang berhubungan dengan keindahan-Nya seperti, al-Malik, al-Quddus, al-’Alim, dan lain-lain; dan c) menyebut nama-nama Allah SWT yang merupakan gabungan dari kedua sifat tersebut, seperti al-Mu’min, al-Muhaimin, dan lain-lain. Ketiga jenis dzikir tersebut harus dilakukan secara berurutan, sesuai urutan yang disebutkan di atas. Dzikir ini dilakukan secara terus menerus dan berulang-ulang, sampai hati menjadi bersih dan semakin teguh dalam berdzikir. Jika hati telah mencapai tahap seperti itu, ia akan dapat merasakan realitas segala sesuatu, baik yang bersifat jasmani maupun ruhani.

Satu hal yang harus diingat, sebagaimana juga di dalam tarekat-tarekat lainnya, adalah bahwa dzikir hanya dapat dikuasai melalui bimbingan seorang pembimbing spiritual, guru atau syekh. Pembimbing spiritual ini adalah seseorang yang telah mencapai pandangan yang membangkitkan semua realitas, tidak bersikap sombong, dan tidak membukakan rahasia-rahasia pandangan batinnya kepada orang-orang yang tidak dapat dipercaya. Di dalam tarekat ini, guru atau yang biasa diistilahkan dengan wasithah dianggap berhak dan sah apabila terangkum dalam mata rantai silsilah tarekat ini yang tidak putus dari Nabi Muhammad SAW lewat Ali bin Abi Thalib ra, hingga kini dan seterusnya sampai kiamat nanti; kuat memimpin mujahadah Puji Wali Kutub; dan memiliki empat martabat yakni mursyidun (memberi petunjuk), murbiyyun (mendidik), nashihun (memberi nasehat), dan kamilun (sempurna dan menyempurnakan). Secara terperinci, persyaratan-persyaratan penting untuk dapat menjalani dzikir di dalam Tarekat Syattariyah adalah sebagai berikut: makanan yang dimakan haruslah berasal dari jalan yang halal; selalu berkata benar; rendah hati; sedikit makan dan sedikit bicara; setia terhadap guru atau syekhnya; kosentrasi hanya kepada Allah SWT; selalu berpuasa; memisahkan diri dari kehidupan ramai; berdiam diri di suatu ruangan yang gelap tetapi bersih; menundukkan ego dengan penuh kerelaan kepada disiplin dan penyiksaan diri; makan dan minum dari pemberian pelayan; menjaga mata, telinga, dan hidung dari melihat, mendengar, dan mencium segala sesuatu yang haram; membersihkan hati dari rasa dendam, cemburu, dan bangga diri; mematuhi aturan-aturan yang terlarang bagi orang yang sedang melakukan ibadah haji, seperti berhias dan memakai pakaian berjahit.

Sanad atau Silsilah Tarekat Syattariyah
Sebagaimana tarekat pada umumnya, tarekat ini memiliki sanad atau silsilah para wasithahnya yang bersambungan sampai kepada Rasulullah SAW. Para pengikut tarekat ini meyakini bahwa Nabi Muhammad SAW, atas petunjuk Allah SWT, menunjuk Ali bin Abi Thalib untuk mewakilinya dalam melanjutkan fungsinya sebagai Ahl adz-dzikr, tugas dan fungsi kerasulannya. Kemudian Ali menyerahkan risalahnya sebagai Ahl adz-dzikir kepada putranya, Hasan bin Ali, dan demikian seterusnya sampai sekarang. Pelimpahan hak dan wewenang ini tidak selalu didasarkan atas garis keturunan, tetapi lebih didasarkan pada keyakinan atas dasar kehendak Allah SWT yang isyaratnya biasanya diterima oleh sang wasithah jauh sebelum melakukan pelimpahan, sebagaimana yang terjadi pada Nabi Muhammad SAW sebelum melimpahkan kepada Ali bin Abi Thalib.

Berikut contoh sanad Tarekat Syattariyah yang dibawa oleh para mursyid atau wasithahnya di Indonesia:

Nabi Muhammad SAW kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib, kepada Sayyidina Hasan bin Ali asy-Syahid, kepada Imam Zainal Abidin, kepada Imam Muhammad Baqir, kepada Imam Ja’far Syidiq, kepada Abu Yazid al-Busthami, kepada Syekh Muhammad Maghrib, kepada Syekh Arabi al-Asyiqi, kepada Qutb Maulana Rumi ath-Thusi, kepada Qutb Abu Hasan al-Hirqani, kepada Syekh Hud Qaliyyu Marawan Nahar, kepada Syekh Muhammad Asyiq, kepada Syekh Muhammad Arif, kepada Syekh Abdullah asy-Syattar, kepada Syekh Hidayatullah Saramat, kepada Syekh al-Haj al-Hudhuri, kepada Syekh Muhammad Ghauts, kepada Syekh Wajihudin, kepada Syekh Sibghatullah bin Ruhullah, kepada Syekh Ibnu Mawahib Abdullah Ahmad bin Ali, kepada Syekh Muhammad Ibnu Muhammad, Syekh Abdul Rauf Singkel, kepada Syekh Abdul Muhyi (Safarwadi, Tasikmalaya), kepada Kiai Mas Bagus (Kiai Abdullah) di Safarwadi, kepada Kiai Mas Bagus Nida’ (Kiai Mas Bagus Muhyiddin) di Safarwadi, kepada Kiai Muhammad Sulaiman (Bagelan, Jateng), kepada Kiai Mas Bagus Nur Iman (Bagelan), kepada Kiai Mas Bagus Hasan Kun Nawi (Bagelan) kepada Kiai Mas Bagus Ahmadi (Kalangbret, Tulungagung), kepada Raden Margono (Kincang, Maospati), kepada Kiai Ageng Aliman (Pacitan), kepada Kiai Ageng Ahmadiya (Pacitan), kepada Kiai Haji Abdurrahman (Tegalreja, Magetan), kepada Raden Ngabehi Wigyowinoto Palang Kayo Caruban, kepada Nyai Ageng Hardjo Besari, kepada Kiai Hasan Ulama (Takeran, Magetan), kepada Kiai Imam Mursyid Muttaqin (Takeran), kepada Kiai Muhammad Kusnun Malibari (Tanjunganom, Nganjuk) dan kepada KH Muhammad Munawar Affandi (Nganjuk).

  1. dhumateng para jamaah toriqoh syattariyah,kulo hamung ngaturi prikso bilih wasithah puniko boten kengeng danel gegojegan,rebutan tuwin boten saged dipun warisaken deneng,putra wayah, putra mantu lan sanesipun! GURU WASITHOH puniko ingkang njumenengaken ALLOH piayambak dumateng murid ingkang sampun kamil mukamil. (KYAI MBELING IBNU SUDRUN AL JUHUL)

  2. dhumateng para jamaah toriqoh syattariyah,kulo hamung ngaturi prikso bilih wasithah puniko boten kengeng danel gegojegan,rebutan tuwin boten saged dipun warisaken deneng,putra wayah, putra mantu lan sanesipun! GURU WASITHOH puniko ingkang njumenengaken ALLOH piayambak dumateng murid ingkang sampun kamil mukamil. (KYAI MBELING IBNU SUDRUN AL JUHUL,PONOROGO)

  3. berusahalah untuk memahami tarekat dari sisi ilmunya,jangan asal menjustifikasi sesat,seperti yg dilakukan si syamsuddin dlm radar tulungagung,bergumullah dulu dengan kajian esoterik sebelum menilai sesuatu itu sesat atau tidak,karena sabda nabi tuduhan sesat itu akan kembali pada si penuduh bila tuduhan itu tidak terbukti pd tertuduh(ARIS THOFIRA,BLARU BATAN PARE KEDIRI)

  4. Ya saya setuju dengan mas Aris Thofira……..

  5. Salam kenal semua..

  6. betul itu kata mas aris thofira, saya baca ungkapan si samsudin di radar Tulungagung, kayaknya dia telah kehilangan pola berbipir waras,………. kasihan, semoga Allah SWT membuka hatinya, apalagi dia mengaku pernah sebagai warga Shatariyah, MasyaAllah.

  7. coba anda lihat ulama besar melayu di mecca : daud al fatani atau ahmad al fatani

  8. saya sering mendengar kisah ulama melayu terbesar, daud al fatani dan ahmad al fatani (tuan/kiyai ngawamil : jawa) … penyusun kitab awamil al- jurjani atau tashilu nailil amani. guru besar dari ulama-ulama besar asia tenggara. informasikan ya kalau ada. alhamdulillah….

  9. smua tu sama saja ,,,tinggal pribadi masing2,,,,,,,,,,,,,,,,,,untuk mncari slamatduia akhirat

  10. kog anda tau dengan tarekat ini,apakah anda sudah belajar ilmu ini

  11. Salam…
    Terima kasih, anda telah menulis artikel ini. Saya seorang pemula dalam pengetahuan ruhani..dan salah satu guru saya adalah mursyid tarekat syattariyyah..saya sering berdiskusi dengan beliau tapi belum baiat. Saya sedang mencari pengetahuan teoritik tentang tarekat syatariyyah. Semoga Allah mengangkat derajat anda.

  12. AAWW.JAMAAH MUQORROBBIN DIMANA SAJA APAKAH SEDULUR-SEDULUR SUDAH MEMAHAMI ASBAB AL WASLIYAH TENTANG GURU WASHITHOH YANG HAQ, ATAU SEDULUR HANYA BERBAIAT KEPADA SESEORANG YANG MENGAKU/DIAKUI SEBAGAI WASHITHOH HANYA KARENA KETURUNAN,HUBUNGAN NASOB ANAK ATAU MENANTU DARI GURU WASHITHOH YANG DULU, TANPA MELIHAT TINGKATAN RUHANIYAH,DAN BAGAIMANA FAKTA DI TANJUNG ANOM SENDIRI STELAH KYAI KHUSNUN AL MALIBARI SOWAN WONTEN ROHMATULLOH ADA 2 ORANG YANG SAMA2 MENGKLAIM SEBAGAI MURSYID SYATORIYAH, YAKNI 1.BAPAK ISKANDAR, 2.BAPAK MUNNAWAR AFFANDI, SEMOGA SEDULUR-SEDULUR MEMPERBANYAK SHOLAT ISTIKHOROH SEMOGA MENDAPAT HIDAYAH ALLOH SIAPAKAH WASHITOH YANG HAQ SALAH SATU DIANTARANYA ATAU BAHKAN BUKAN KEDUA-DUANYA? WASSALAM.(DEN BAGUS MBELING IBNU SUDRUN AL JUHUL, SANTRI BEDUN PONPES YUKMINUUNA BIL GHOIBI/ TRAH TAKERAN)

  13. AAWW.APAKAH SEDULUR-SEDULUR SUDAH MEMAHAMI ASBAB AL WASLIYAH TENTANG GURU WASHITHOH YANG HAQ, ATAU SEDULUR HANYA BERBAIAT KEPADA SESEORANG YANG MENGAKU/DIAKUI SEBAGAI WASHITHOH HANYA KARENA KETURUNAN,HUBUNGAN NASOB ANAK ATAU MENANTU DARI GURU WASHITHOH YANG DULU, TANPA MELIHAT TINGKATAN RUHANIYAH,DAN BAGAIMANA FAKTA DI TANJUNG ANOM SENDIRI STELAH KYAI KHUSNUN AL MALIBARI SOWAN WONTEN ROHMATULLOH ADA 2 ORANG YANG SAMA2 MENGKLAIM SEBAGAI MURSYID SYATORIYAH, YAKNI 1.BAPAK ISKANDAR, 2.BAPAK MUNNAWAR AFFANDI, SEMOGA SEDULUR-SEDULUR MEMPERBANYAK SHOLAT ISTIKHOROH SEMOGA MENDAPAT HIDAYAH ALLOH SIAPAKAH WASHITOH YANG HAQ SALAH SATU DIANTARANYA ATAU BAHKAN BUKAN KEDUA-DUANYA? WASSALAM.(DEN BAGUS MBELING IBNU SUDRUN AL JUHUL, SANTRI BEDUN PONPES YUKMINUUNA BIL GHOIBI/ TRAH TAKERAN)

  14. Nyuwun sewu, saya kok meragukan mursyid yang dibawah Ky Imam Mursyid Muttaqin. setahu saya Ky Imam Mursyid belum pernah mewariskan kepada siapapun. kalau ada yang bisa menjawab keraguan saya, mohon untuk dijelaskan.

  15. ass. kulo ahli syatoriyah tpi tp setelah dzikir taraqqi lngsg dzikir izim goib…dan kalau malam jumat ada shalat tobat toqat….apakah yg dsbutkn diatas sm??
    wass

  16. AAWW,DHUMATENG GUS SEPET? KULO BADHE NYOBI UTAWI IKHTIYAR NJAWAB PUNOPO INGKANG DADOS PENGGALIH RAOS PANJENENGAN, SEPINDHAH NABIULLOH MUHAMMAD SAW, PUNIKO INGKANG MARISI DRAJAT KENABIAN MENIKO INGKANG BOPO SAYID ABDULLOH IBNU ABDULMUTHTHOLIB IBNU HISYAM PUNOPO ALLOH SWT LINANTARAN MOLOIKAT JIBRIL AS? KAPING KALIH, SAMPUN LEPAT ANNGENIPUN NAMPI PEMANNGIH KULO MENIKO,BILIH DRAJAT KENABIAN (KEROSULAN)TETEP BENTEN KALIYAN DRAJAT WASITHOH ANANGING NABI MUHAMMAD,SAW INGGIH PANUTUPE NABI,ROSUL LAN KEDRAJATAN WASHITHOH!KAPING TIGO:WASHITOH PUNIKO NGANTOS DUMUGI DINTEN PUNGKASAN(QIYAMAH) RANTE RUMANTE TETEP WONTEN SELAMINE UMAT MANUNGSO ING SALUMAHING BUMI WONTEN, SAPERLU NGLAJENGAKEN RISALAH TAUKHID KANJENG NABI MUHAMMAD,SAW NYLAMETAKEN SEGENAP NYOWO SUPADOS WUSHUL DATENG NGARSANIPUN PANGERAN INGKANG PARING ASMO ALLOH,SWT, DENE MBAH KYAI IMAM MURSYID MUTTAQIN MENIKO SAMPUN SEDO SEWANCI WONTEN TRAGEDI G 30 S/PKI THUN 48 WONTEN ING SUMUR SOCO KEC.GORANG-GARENG!KAPING SEKAWAN DRAJAT WASHITHOH BOTEN KENGENG DIPUN DHASARAKEN UTAWI DIPUN WARISAKEN PUTRO,WAYAH,PUTRO MANTU LAN SANESIPUN KADOS BONDHO WARIS, ANANGING BABAGAN GURU MURSYID SYATTORIYAH/WASHITHOH PUNIKO HAK MUTLAKIPUN ALLOH,DZAT WAJIBUL WUJUD!WALLOHUA’LAM BISHOWAB! MUGI2 SAGED NGLUWARI RERUNTIKING RAOS PANJENENGAN GUS SEPET.(DEN BAGUS MBELING IBNU SUDRUN AL JUHUL,SANTRI BEDUN PONPES YUKMINUUNA BILGHOIBI BULU PLOSO, KEC KENDAL, KAB.NGAWI/TRAH TAKERAN)

  17. bagaimana sich sebenarnya…..? kok dimana-mana banyak sekali guru thariqah yang mengaku sebagai guru yang haq… menurut penelusuran saya setidaknya ada 19 orang yang mengaku sebagai guru wasithoh yang mengklaim sebagai mursyid syattoriyah. mana sich yang benar,,, apakah semua benar..? alias semua boleh diikuti, n gak masalah mau ikutan yang manapun…..? oya setahu saya juga bahwa mursyid tidak pernah ada dari pihak perempuan, meskipun sepandai dan setinggi apapun tingkat pengetahuan ruhani yang dimiliki oleh seorang muslimah…. seperti halnya tidak pernah Allah mengangkat seorang Nabi dari golongan perempuan….karena berbagai pertimbangan dan kebijakan Allah, meskipun orang yang memiliki pengetahuan yang tinggi dalam ruhani tersebut juga memiliki misi indzar buat ummat. mohon penjelasannya….. !

  18. perlu saya tegaskan bahwasanya wasithoh tidak bisa disamakan derajatnya dengan nabi tetapi nabi mukhammad juga wasithoh, serta memang dalam sepanjang sejarah tidak ada nabi yang berjenis kelamin perempuan, akan tetapi wasithoh kalo memang Alloh Yang Maha Meliputi menghendaki wasithoh berjenis kelamin perempuan tidak atau bukan barang yang aneh atau mustahil, contoh dalam riwayat Quran manusia yang berjenis perempuan serta punya derajat ruhaniyahnya tinggi adalah Eyang PUTRI MARYAM ibunipun Nabi Yesus/Isa As,lalu Eyang Putri FATHIMAH BINTI MUKHAMMAD SAW,SAYIDAH ROBI’AH AL ‘ADAWIYAH Ra, kesemuanya manusia berjenis perempuan ditanah Arab yang punya derajat rukhaniyah tinggi sedang ditanah JAWA perempuan yang punya derajat rukhaniyah tinggi dan berkat ridho Alloh bergelar wasithoh adalh Eyang Nyai Hardjo Besari, TegalRejo MAGETAN.Sudahkah saudaraku muhammad Zamronie,belajar berwudhu dan belajar sholat dan terakhir belajar mati?

  19. AKU SUDAH SHOLAT, APAKAH AKU SUDAH MENYEMBAHMU YA AALOH
    AKU SUDAH BERPUASA,SUDAHKAH SUCI JIWAKU YA ILLAHI
    AKU SUDAH BERMUJAHADAH, SUDAHKAH AKU DEKAT DENGANMU YA ROBB
    ILLAHI ANTA MAQSUDI WA RIDLOKA MATHLUBI
    Gusti datheng pundi dunung panjenengan, masjidil harrom kulo percados hakikine panjenengan mboten wonten mriku, faafirru illalloh wajibipun,irji’i illa robb fardhunipun,inna lillaahi wainna ilaihi rooji’uun wekasanipun!

  20. saya paham betul tentang segala apa yang dikehendaki Allah mestilah terjadi… tapi kan maksud dari kehendak Allah pasti ada hikmah yang terkandung di dlamnya. meskipun kita semua serba penuh keterbatasan untuk dapat meraba hikmah yang terkandung trsebut. sama halnya dengan tidak diangkatnya perempuan menjadi nabi m,esti punya maksud tertentu. Toch sepanjang nubuwwah ternyata Allah berkehendak untuk tidak mengutus Utusan dari pihak perempuan… Iya kan. jadi, rasanya kok aneh saja dari segala literatur yang pernah ada saya gak pernah melihat adanya seorang wasithah dari perempuan…kok tahu-tahu muncul…. Perlu diketahui bahwa saya tidak pernah bermaksud untuk merendahkan tingkat pengetahuan ruhani wasithah yang di maksud…. banyak kan ayat juga yang menyebutkan ” bahwa kita tidak pernah akan mendapati perubahan pada Sunnah-sunnah Allah ولن تجد لسنة الله تبديلا.. jadi rasanya aneh saja. sama halnya dengan misalnya : Bahwa Allah telah menetapkan Nabi Muhammad sebagai Khatamul Anbiya wal mursalin. Tapi kemudian muncul Nabi baru….. ketika kita tanyakan tentang hal itu, kemudian dia menjawab ” Bukankan Allah tidak mustahil bagiNYA untuk bekendak mengangkat Nabi kembali…. Aneh bin Ganjil kan…?begitu loh mas kyai…….. saya Insya Allah sudah dan terus akan belajar wudhu,shalat, dan belajar apa yang harus saya pelajari terus menerus sesuai dengan perintah Gusti Kang Murbeng Dumadi….

  21. Saya sepakat dengan apa yang dikatakan oleh Says One Two bahwa keguruan dan ke Wasithohan bukan barang kelakar dan gegojekan.. Namun fakta yang ada bahwa sepeninggal beliaunya Bapak Imam Mursyid Muttaqien Takeran Magetan di mana-mana bertebaran Guru Wasithoh yang luar biasa banyaknya….dimana masing-masing mengaku mendapatkan amanat untuk meneruskan ilmu ini.. gak masalah sich. tapi menjadi naif kalo masing harus menyalahkan pihak lain dan menuduhnya sebagai pihak yang tidak benar dan yang sesat. Terkesan bahwa semua berebut untuk menjadi Top Leader (Washithoh Yang Haq) yang sah dalam Tarekat yang sama. Setahu saya hukum yang tertinggi adalah al Qur’an yang tidak pernah kering untuk digali dan selalu menebarkan petunjuk-petunjuk bagi siapapun yang mau mengakrabi dan mengkaribnya. Mari kita tanya saja pada rumput yang bergoyang… siapa sich sejatinya guru washoitah Syattoruyah yang Haq itu…. agar kita bisa dibimbingnya langsung….

  22. وننزل من القرآن ما هو شفاء ورحمة للمؤمنين، ولا يزيد الطالمين إلا خسارا……………………………………………………….
    وقل رب أدخلني مدخل صدق وأخرجني مخرجا صدق واجعلني من لدنك سلطانا نصيرا
    ……………………………………………………….

  23. Saudaraku muhammad zamronie saya mengerti dan faham apa yang saudaraku atau sedulurku kehendaki(karepake) dengan berdasar dalil Qur’an, dan memang saya slaku jama’ah ahlu syattoriyah juga sama Qur’an sebagai salah satu pegangan hidup, selain Khadis Nabi,Ijma’ dan Qiyas!tetapi apakah sedulurku lupa, atau tidak paham dengan penjelasan saya yang FAQIR bahwa derajat KENABIAN DAN KERASULAN sudah diakhiri oleh Baginda MUHAMMAD SAW,dan saya KHAQUL YAQIEN 1000% bahwa setelah kanjeng Nabi tidak ada nabi dan Rosul, cuma saya menjelaskan sesuai keFAQIRAN saya bahwa derajat washitoh BUKAN DERAJAT KENABIAN DAN KERASULAN sebagaimana marak orang mengklaim sebagai nabi dan rosul setelah kanjeng nabi Muhammad SAW,TOLONG DIPAHAMI TANPA SYAK WASANGKA apa yang saya terangkan BAHWA WASHITOH BUKAN NABI DAN ROSUL, TETAPI PENGIKUT NABI YANG SETIA PADA AMALAN NABI DHOHIRON WA BATHINAN! DADOS SEDULURKU MUHAMMAD ZAMRONI SAMPUN PAHAM DERENG? SERTA BAHWA MEMANG DALEM INGKANG FAQIER ING BABAGAN NGELMI NUBUWAH MBOTEN MANGGIHI NABI SAKING KAUMIPUN EYANG HAWA, MENIKO DERAJAT KENABIAN DAN KEROSULAN LHO NGGIH? NANGING WASHITHOH meniko KHAQ MUTLAQIPUN PANGERAN INGKANG ASMO ALLOH INGKANG ARROKHMAN ARROKHIIM, MUGI MUGI SEDULUR TIDAK TERJEBAK NAFSU YANG MASING2 PUNYA BALA TENTARA YANG TAK TERHITUNG TUK MENJERUMUSKAN SEDULUR WUSHUL MARING ALLOH, SEPERTI MERASA BENAR WALAUPUN MENDALILKAN DENGAN QUR’AN YANG SUTJI TAPI KALU TERHINGGAPI NAFSU MERASA BENAR SAUDARAKU PASTI LEBIH PAHAM DARI SYA YANG Faqir tidak tau ilmu,nuwun!

  24. sedulurku mohammedd zamroni menawi belajar tafsir kulo suwun ingkang pepak rumiyin sokor bage ilmu mantiqipun,sebab menawi kulo semak sedulurku anggenipun nginakaken logika penthalitan, soalipun dereng saged mahami lenggahipun DERAJAT KENABIAN LAN KEROSULAN kalian derajat Wasithoh! sabab tiyang muslim sak jagad ingkang jejeg iman taukhidipun mesti wajib NGAKENI ing khukumipun bilih NABI LAN ROSUL PUNGKASAN meniko inggih Kanjeng NABI MUKHAMMAD,SAW,kados Dhawuhipin kanjeng NABI SAW: la nabiya ba’dal anna tuwin mboten wonten dhawuh LA WASHITOTIN MINNISAA! nuwun sewu sedulurku bila tidak sepaham utawi sedulur kulo tetep nulayani ing anane wasithoh saking tiyang setri PUNIKO HAQ SAMPEAN, lan sampun hambeg durangkoro utawi salh ing penampi bilih dalem ingkang FAQIR mboten nggadahi maksud INGKAR SUNNAH, SEBAB NGGIH MBOTEN WONTEN ING NAS BILIH MENAWI WONTEN WASITHOH SAKING TIYANG SETRI MENIKO KAWASTANAN INGKAR SUNNAH? Benten misale ngakeni wonten Nabi lan Rosul sakbibaripun MUHAMMAD,SAW meniko aran ingkar Qur’an wa sunnah!