GADYSA & GELBINA

DIMANAKAH GHIRROH KE-SAYYID-ANMU?

In Cerpen on May 28, 2008 at 4:31 am

DIMANAKAH GHIRROH KE-SAYYID-ANMU?

By: Intan Agil Al-Attas

Fikri duduk terdiam seorang diri di warung kopi di sebuah gang sempit. Pikirannya sedang kusut. Ia mengeluarkan kotak Marlboro dari kantongnya dan mulai merokok tanpa henti. Sudah dua jam ia duduk disitu. Batang rokoknya tinggal satu. Ia menyalakan rokok terakhirnya. “Kapan kita menikah?” suara Tasya masih terngiang di telinganya. Ia bukannya tidak ingin menikahinya. Dari segi fisik, mental, dan keuanganpun Fikri sudah siap untuk menikah. Satu-satunya masalah yg sedang dihadapinya adalah bagaimana mengatakannya pada orang tuanya. Dari dulu ia tahu Tasya yang keturunan indo-cina tidak akan bisa diterima di keluarganya.


“Engkau seorang sayid. Menikahlah dengan syarifah. Ini harapan abah dan umimu yang nggak bisa dikompromi. Cukuplah kakakmu saja yang ‘keluar dari rel-nya’.” Itu kata-kata abah yang masih segar di ingatannya saat kakaknya menikah dengan lelaki pribumi lima tahun yang lalu. Fikri membenamkan wajahnya ke meja. “Bagaimana ini Ya Allaah…” Ia tidak sampai hati menyakiti orangtuanya namun ia tidak ingin melepaskan Tasya, apalagi gadis itu sudah cinta mati dengan Fikri. “Cks…Tasya bisa nangis darah jika aku putuskan. Bahkan mungkin bunuh diri.” Setan mulai meracuni pikirannya. Fikri mulai berpikiran yang tidak-tidak. Kedua tangannya memegang kepalanya seakan-akan mau pecah.

“Hey, Kri!” Tiba-tiba ada yang menepuk bahu Fikri. “Bekher ente? Ada apa kok mukamu kusut gitu kayak orang stress?”

“Oh..Bang Ali..ana emang lagi banyak pikiran nih bib” jawab Fikri. Bang Ali adalah keponakan umi satu ayah tapi lain ibu. Ia tinggal di depan warung kopi bersama Kak Balqis istrinya, dan ketiga anaknya yang masih kecil.

Ada sedikit kelegaan di hati Fikri bertemu Bang Ali. Ia mempunyai pandangan yang luas dalam menilai sesuatu. Banyak orang yang minta pendapatnya saat mereka sedang dihadapi masalah. Seperti biasa, Fikri mulai menceritakan masalahnya dari awal hingga akhir.

“Fikrii..Fikri…” Bang Ali menggelengkan kepalanya. Sebelum berkata lebih lanjut ia memesan satu bungkus rokok dan secangkir kopi. Sambil memasukkan batang rokok ke mulutnya, ia berkata “Ente bahlol ya? Dulu bukannya udah dua kali ngadepin persoalan yang sama. Gak kapok-kapok ente? Cuma orang bahlol yang gak bisa ngambil pelajaran dari pengalamannya. Cape deeeh ”.

Bang Ali memang benar. Ini merupakan yang ketiga kalinya ia melakukan kesalahan yang sama. Yang pertama, ia bisa melepaskan Dewi dengan alasan masih kuliah. Yang kedua, ia memutuskan Sarah dengan alasan belom punya pekerjaan tetap. Sekarang, ia kehabisan akal bagaimana memutuskan Tasya. Dan lagi ia tidak berani memutuskan Tasya karena pada dasarnya ia lelah hidup membujang.

“Ente berani bermain api padahal ente tau betul nantinya kalau bukan Tasya yang terbakar, abah umi ente yang terbakar”. Mendengar itu Fikri terhenyak.

“Sekarang tinggal pilih deh. Tasya, atau orang tua yang ingin ente bahagiain. Coba, ente lebih sayang siapa? Mata Fikri mulai berkaca-kaca. Melihat itu Bang Ali langsung diam. Kasihan sekali ini anak pikirnya. Sebetulnya masih banyak yang ingin ia katakan tapi rupanya Fikri tidak siap mendengarnya. Ternyata, di balik tubuhnya yang gagah, hatinya sangat rapuh.

“Al afu Kri. Ana gak ada maksud untuk nyudutin ente. Ya udah gini aja. Ente coba ngomong baik-baik sama abah-umi. Kalau mereka tetep gak ridho ente nikah sama Tasya, ya udah putuskan ia secara baik-baik. Beri ia pengertian tentang keadaan ente yang sebenarnya. Memang bakal sakit rasanya Kri. Butuh waktu untuk bangkit kembali. Tapi dengan sabar dan do’a, mudah-mudahan ente dan Tasya masing-masing dapet jodoh yang cocok dan memuaskan. Sebaiknya masalah ini cepat diselesaikan Kri. Jangan berkhayal akan ada moment yang tepat untuk bicara. Sekaranglah saat yang tepat. Karena semakin ente ulur-ulur waktu, semakin besar harapan Tasya ke ente. Semakin besar pula harapan abah-umi ente untuk segera nikah dengan syarifah.” Fikri mengangguk, “Doain ana ya bib”.

Pintu rumah seberang warung terbuka. Kak Balqis muncul dari balik pintu. Sambil membetulkan kerudungnya, ia berjalan ke arah warung. “Abang! Gulanya mana? Ditungguin dari tadi ternyata nongkrong di sini.”

“Oh iya! Al afu abang lupa. Ada Fikri nih di sini.”

“Bekher Kri?”

“Bekher Alhamdulillah Kak.”

Balqis membeli gula dan duduk di sebelah Bang Ali. Ia melihat kotak rokok di atas meja. Sambil memberikan senyum yang sangat manis ke suaminya, “Udah ngisap berapa batang hari ini?”

“Baru tiga batang” jawab Bang Ali sambil membalas senyum istrinya.

“Cukup dulu ya” Kak Balqis menyita kotak rokok, “Rokok itu gak bagus buat pertumbuhan sperma.”

Mendengar itu Bang Ali tertawa terbahak-bahak. Biasanya kata-kata umum yang sering diucap oleh wanita adalah “Rokok tidak bagus buat jantung” atau “Rokok tidak bagus buat paru-paru”. Ali selalu tertawa setiap kali mendengar komentar istrinya yang luar biasa. Baginya, segala perkataan dan kelakuan istrinya dianggap lucu dan menggemaskan.

“Hebat betul pasangan ini” pikir Fikri. Sudah 7 tahun mereka menikah tapi gelagatnya masih seperti pengantin baru. Padahal Kak Balqis berasal dari keluarga yang sangat kaya dan Ali berasal dari keluarga yang bisa dikatakan berada di bawah standar. Fikri melihat sendiri bagaimana perjuangan mereka untuk bersatu. Bang Ali banting tulang setiap hari untuk membangun bisnis kecil-kecilan. Kak Balqis dengan sabarnya menunggu sampai Bang Ali berhasil mengontrak rumah mungil di gang sempit ini.

Setelah menikah, mereka masih diberi ujian. Dengan penghasilan yang sangat kecil, Kak Balqis dengan sekuat tenaga beradaptasi untuk dapat hidup serba pas-pasan. Bang Ali pun bersabar atas masakan istrinya yang terkadang terlalu asin atau terlalu manis. Maklumlah, sangking kayanya, Kak Balqis dulu jarang sekali masuk dapur. Butuh waktu 6 bulan untuk bisa memasak sayur asem dengan rasa selayaknya sayur asem. Tapi sekarang Masya Allah… ia bisa masak macam-macam bahkan mahir membuat kue. Dan dua tahun belakangan ini bisnis Bang Ali mulai menunjukkan titik terang. Ia mempunyai 4 toko. Toko buku dan optik berada di bawah manajemennya dan 2 toko lainnya, toko kue dan batik pekalongan, ia biarkan Kak Balqis yang mengurusnya. Mereka dianugerahi dua anak kembar Hasan dan Husein, berusia 6 tahun, dan Aisyah, berusia 3 tahun. Bulan depan mereka akan pindah ke rumah yang lebih besar. Pasangan ini betul-betul saling melengkapi. Subhanallah… inikah yang disebut sebagai keluarga yang sakinah, ma waddah, wa rohmah?

“Fikri kok nongkrong di sini aja? Kenapa gak mampir ke rumah? Udah sombong ni yaah..” ujar Kak Balqis.

“Gak kok Kak. Cuma pikiran lagi kusut aja sekarang.”

“Loh, kenapa Kri?”

Bang Alipun menceritakan masalah Fikri ke istrinya.

Kak Balqis menghela nafas. “Biasa tu.. masalah klasik sayid dan syarifah. Cobaan para sayid jaman sekarang ini, di mata mereka, yang non-syarifah itu lebih menggairahkan, lebih terbuka, lebih agresif, dan sangat nyaman dijadikan pacar. Dan cobaan para syarifah itu, non-sayid itu lebih sabar, tidak tempramen, lebih berpendidikan, lebih mapan, lebih manis kata-katanya, lebih pengertian, hingga lebih nyaman dijadikan tempat berlindung.”

Kak Balqis menatap Fikri dengan tajam. “Menurut kamu pribadi nih Kri, seorang syarifah harus nikah dengan sayid gak?”

“Iya, harus” jawab Fikri.

“Kalau sayid?”

“Tidak harus”

“Kenapa begitu?” lanjut Kak Balqis.

Entah apa yang di pikiran Kak Balqis menanyakan sesuatu yang ia sudah tahu jawabannya, namun Fikri tetap menjawab.

“Karena laki-laki yang membawa keturunan, nggak masalah siapa yang dinikahinya.”

“Nggak masalah ya…” Kak Balqis menahan emosi.

“Iya”

“Kau ini punya pendirian gak sih?” tanya Kak Balqis agak meninggi. Fikri tersentak.

“Kau meyakini syarifah harus nikah dengan sayid tapi nggak sebaliknya, padahal kau tau di dunia ini jumlah syarifahnya lebih banyak dari sayid. Jadi, setiap sayid yang menikah dengan non-syarifah artinya ia telah mengorbankan satu syarifah. Daripada mereka menikah dengan non-sayid, kau lebih senang mereka mati perawan? Mana tanggung jawabmu sebagai seorang sayid? Apa ghirroh kesayyidanmu sudah padam?”

Wajah Fikri langsung memerah karena malu.

“Kalau kau masih juga mau menikah dengan Tasya, ahsan buang saja gelar sayidmu itu ke tong sampah. Gak usah yahanu bersyukur dilahirkan sebagai sayid deh”

Kali ini Fikri rasanya seperti ditampar. Kata-kata itu sungguh menyakitkan. Ia menahan sekuat tenaga agar air matanya tidak mengalir.

“Pah…cukup.” Bang Ali menegur istrinya. Kak Balqis langsung diam, namun matanya masih menatap Fikri dengan tajam. Wajar saja ia emosi. Ia punya banyak adik perempuan, keponakan, misan dan saudara perempuan yang belum menikah padahal sudah cukup umur. Hatinya jadi tambah khawatir memikirkan bagaimana nasib anak perempuannya kelak padahal saat ini umur Aisyah baru 3 tahun. Belom apa-apa sudah jadi beban pikiran..

“Kri..” Bang Ali bertanya “Ente tau kenapa abah ente keras sekali mengharuskan semua anaknya, yang laki-laki maupun perempuan, untuk nikah sekufu?” Fikri tidak menjawab.

“Sebetulnya itu merupakan salah satu wujud kecintaan abah ente terhadap Baginda Muhammad SAW”. Fikri tertegun.

“Tau gak, saat kakak ente nikah dengan non-sayid, abah ente nangis tiap malam sampai berhari-hari. Watak abah ente sangat keras tapi sebetulnya hatinya sangat lembut. Ntar, kalo ente udah punya anak, barulah ente bisa ngerasa betapa lembutnya hati seorang ayah.”

Fikri menunduk. Tenggorakannya terasa perih.

“Kakak kenalin dengan syarifah mau gak Kri? Ada banyak stok nih”, ucap Kak Balqis serius.

“Siapa Pah?” tanya Bang Ali.

“Ada Nasywa, Sabina, Cici, Mona, Rugaya, banyak deh”.

“Wah… ana udah kenal mereka, tapi jarang ngobrol sih..” ucap Fikri.

“Terus? Belom ada yang menarik hati? Ntar kakak carikan yang lain deh” ujar Kak Balqis meyakinkan.

“Bukan… mereka terlalu tinggi buat ana.”

“Terlalu tinggi gimana?” tanya Bang Ali penasaran.

“Nasywa terlalu pintar. Ia sudah S2 sedangkan ana cuma S1. Sabina terlalu baik, sedangkan ana bandel dan sembrono. Lalu..Rugaya dari keluarga yang kaya dan terpandang….”

Bang Ali dan Kak Balqis saling memandang. Mereka hampir tidak percaya dengan apa yang barusan didengarnya.

“Ya Allaaahhhh Fikriiiiii” keluh Bang Ali. “Pengecut kali ente! Belom apa-apa udah minder duluan. Masa ama harim takut? Ente rejal bukan sih? Coba ente kenalan dulu lebih mendalam. Siapa tau mereka bisa nerima ente apa adanya. Jangan menyerah dulu sebelum berperang”. Bang Ali merangkul istrinya dan berkata ke Fikri “Ente gak liat nih contoh konkrit?” Kak Balqis tersenyum. “Harim ana ini bisa terima ana apa adanya padahal dulu ana kere-nya luar biasa.”

Fikri tersenyum. Ada sedikit rasa iri melihat kemesraan mereka. Ia ingin sekali bisa seperti itu kelak.

Pintu di seberang warung kembali terbuka. Kali ini si kembar yang keluar.

“Abah!” teriak Husein.

“Lebaik!”

“Ayo, katanya mau maen bola!” sahut Hasan.

“Ayo! Balas ayahnya. “Abah ambil bola dulu ya?” Sambil bangun dari tempat duduknya, Bang Ali bilang “Kri, ke rumah ana dulu sebentar”.

Bang Ali menyerahkan 3 buku ke Fikri. “Baca ini dulu Kri” sambil menunjuk buku tentang sejarah Nabi Muhammad SAW. “Dijamin kecintaan terhadap Rasulullah akan bertambah bagi siapa saja yang membacanya insya Allah. Dibaca ulang terus juga ente gak akan bosan.”

Buku lainnya yang diterima Fikri adalah kumpulan doa-doa, wirid, ratib, dan maulud. Dan satu lagi tentang biografi seorang habib zaman dahulu yang terkenal beserta ajaran dan kata-kata mutiaranya.

Saat Fikri pamit, Bang Ali berkata, “Besok ikut ana hadir maulid. Setelah itu kita keliling ziarah dan silaturrahmi ke habib-habib yang dituakan. Mudah-mudahan dengan begini ente kembali ke ajaran salaf.

Sambil berjalan menuju rumahnya, Fikri kembali mencerna kata-kata Bang Ali dan Kak Balqis. Kali ini ia biarkan air matanya yang sejak tadi ditahan sekuat tenaga mengalir deras di pipinya. Air matanya terasa panas. Fikri bertanya pada dirinya sendiri, “Apa benar semangat kesayyidanku telah padam?” Ia jadi merinding dan ketakutan. Kedua tangannya mengusap wajahnya dan menarik nafas dalam-dalam. “Besok aku akan ikut Bang Ali”, tekadnya.

-Untuk semua saudara dan kawan2ku; sayid & syarifah-

Jakarta, 5 Mei 2008

  1. mas ceritanya mengesankan, lebih banyak lagi donk biar kita-kita bisa ikut baca tulisannya. lam kenal dari Manto di http://komunitasdosen.wordpress.com

  2. kok di sub tema FRIENDS yang ‘Fikar’ situsnya kok kyk gitu sih? ngeri,saran saya gimana kalau dihilangkan, situs anda bagus banget siip, setau saya yang gak bagus cuma itu tadi, walaupun aku cuma klik fikar trus ada tulisan gitu aku gak mau buka lagi.

  3. ana sangat tersentuh setelah membaca tulisan nt..
    ana jd teringat kalau dulu ana jg ky gtu
    maunya zuad sama harem non-syarifah, tanpa memikirkan akibatnya..
    betapa bodohnya ana dulu, bisa2nya ingin menyiakan seorang syarifah..

  4. Asslmkm. Saya minta dalil2 yang kuat (shahih) dari sejarah maupun hadits tentang syarat nikah Syarifah atau Sayid ini. Trims. Jawaban Anda akan sangat membantu orang banyak.

  5. Assalamualaikum

    saya muhibbin, saya sadur artikel anda di blog sy http://blog.its.ac.id/syafii

  6. Assalamu alaikum..saya seorang syarifa jg, saya minta sejarah keturunan syarifa at sayid n aturan pernikahan serta hadis yang menguatkan aturan tersebut.
    Di jaman yang modern ini msh adakah pemahaman seperti itu yang bisa menghancurkan semua cita-cita seorang syarifa.
    Tolong infonya karena sangat berguna untuk saya..Thanks

  7. mohon infonya, agak ga penting c,tp berguna u? saya.

    Sayyid dan Syarifah itu apa ???

  8. Abdul Anelka – September 28, 2008

    Asslmkm. Saya minta dalil2 yang kuat (shahih) dari sejarah maupun hadits tentang syarat nikah Syarifah atau Sayid ini. Trims. Jawaban Anda akan sangat membantu orang banyak.

    —————————————–
    sama dengan komentar yang saya tulis di blog mas syafii http://blog.its.ac.id/syafii/2008/10/06/dimanakah-ghirroh-ke-sayyid-anmu/

    sam on October 24th, 2008

    mengatasnamakan fanatisme dengan sebutan kecintaan & taat kepada rasul, sungguh klasik.
    benarkan pernikahan sayyid dengan non-sayyid tidak sekufu?
    lalu bagaimana dengan pernikahan Ruqayyah binti Rasulullah SAW (syarifah) dengan Uthman bin Affan ra (non sayyid)?
    ataukah kita harus bertanya “DIMANAKAH GHIRROH KE-SAYYID-ANMU WAHAI RASULULLAH??”

    =====================================================
    untuk saudara “SAM” : (yang katanya dia adalah seorang sayyid) Hanya orang2 durhaka yang bertanya ghirroh kepada Rasulullah SAW seperti yang anda teriakkan.
    Dari bahasa yang anda pakai sungguh saya sangat terpana, akan kesombongan dari kebodohan & kedangkalan ilmu saudara berani berucap “DIMANAKAH GHIRROH KE-SAYYID-ANMU WAHAI RASULULLAH??”

    tulisan tersebut sangat mengganggu dan melukai hati saya pribadi dan kaum Alawiyyin.

    Berbeda pandangan mengenai kafa’ah dan pembelotan yang terjadi pada sekelompok kecil masyarakat Ba’alawi “CONTOHNYA PADA SAUDARA SAM” yakni kaum Sayyid dan Syarifah yang sedikit jumlahnya itu, tidak harus berarti mewakili seluruh anggota keluarga kalangan Ba’alawi.

    Mengapa Nabi harus bersabda bahwa “Semua anak Adam benasab kepada orang tua lelaki (ayah mereka), kecuali anak-anak Fathimah. Akulah ayah mereka dan akulah yang menurunkan mereka”.

    Sabda Nabi Saw tersebut terdapat didalam berbagai kitab antara lain “Mustadrakus-Shalihain”, “Ad-Dur Almantsur” tulisan As-Sayuthiy, “Kanzul Ummal”,”Sunnah A-Tirmudziy”, “Tafsir At-Thabraniy”, “Khasha’ish an-Nasa’iy”, “Tarikh Baghdad”, “Al-Isti’ab”, “Ar-Riyadh an-Nadhrah”, “Musnad Abi Dawud”, “Asad Al-Ghabah dan lain-lain. Penulis Tafsir Al-Manar”, Syeikh Muhammad ‘Abduh dalam menafsirkan ayat 84 Surah Al-An’am.

    Hadits Nabi Saw tersebut diatas sangat gamblang jelas dan tegas. Bahwasanya hanya anak-anak Fathimah dan Imam Ali (Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husain) sajalah yang mengambil Nasab kepada beliau. Karena keturunan beliau Saw melalui Sayyidina Ali dan Sayyidatuna Fathimah Azzahra. Sedangkan keturunan selanjutnya mengikuti Nasab ayah mereka masing-masing. Disinilah nanti akan terlihat siapakah yang terpelihara Nasabnya dan siapakah yang teputus Nasabnya. Apabila kemudian ada seorang Syarifah menikah dengan seorang yang bukan Sayyid dan mempunyai anak,maka jelaslah Nasab anaknya itu tersambung kepada ayahnya, dan tidak tersambung kepada Nasab ibunya lagi. Artinya anak-anak sang Syarifah yang kawin selain Sayyid tadi tidak termasuk lagi kepada aal Muhammad. Perhatikan pembahasan yang akan datang mengenai penetapan Nabi Saw perihal “nasab” ini dalam kothbah di Padang ‘Arafah. Dalam hal Nasab Rasulullah ini, janganlah kita buat definisi yang lain kecuali yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Karena sangatlah mustahil ketetapan Nabi Saw itu bertentangan dengan kehendak Allah SWT, ingat itu!!!

    apa yang dikatakan saudara “SAM” menurut saya adalah sebuah upaya pelecehan terhadap “institusi Habaib yang dimuliakan Allah dan Rasul-Nya”. Ketahuilah bahwa tidak ada sebuah kenikmatan dan kemulian pemberian Allah itu mampu dilecehkan oleh sebuah tipu daya, kebohongan, dusta dan pembodohan.

    Demikian pula sebuah kehinaan yang datang dari Allah tidak akan pernah sanggup manusia menutupi, merubahnya menjadi mulia, sekalipun dengan persekutuan semua orang-orang berilmu sedalam dan setinggi apapun.

    Tidakkah lebih baik kita merenungi diri masing-masing seraya bertanya kepada jiwa fitrah dimanakah sesungguhnya kita berada. Apakah setiap perbuatan kita itu termasuk perbuatan orang yang baik lagi mulia, ataukah orang yang zalim lagi bodoh dan hina. Bukankah Allah-pun telah berfirman : “Sesusungguhnya manusia itu aniaya (zalim) lagi jahil (bodoh tidak berilmu)” QS.33 : 72

    Allah berfirman; Artinya : “Janganlah engkau turut apa-apa yang tidak ada pengetahuan engkau tentang keadaannya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, masing-masing akan diperiksa (diminta pertanggung jawabannya). (QS. 17 : 36)

    Dalam Kitab tafsir, dijelaskan pengertian ayat ini Sebagai berikut; Berkata al- Aufi tentang maksud ayat ini: “Janganlah engkau menuduh seseorang tentang sesuatu yang engkau tidak punya pengetahuan dalam hal itu”. Sedang Qatadah berkata “Janganlah engkau berkata; “Aku telah melihat, padahal engkau tidak melihat, aku telah mendengar, padahal engkau tidak mendengar, aku mengetahui padahal engkau tidak mengetahui”. Sesungguhnya Allah akan meminta pertanggung jawabanmu tentang itu semuanya”.

    Firman Allah; Artinya : “Demi bintang bila ia terbenam. Tiadalah sesat temanmu (Muhammad) dan tidak pula salah (keliru). Dan tiadalah ia berbicara menurut hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya”. (QS. 53 : 1-4)

    Tafsirnya; Berkata As-Sya’abi dan beberapa ‘ulama lain bahwasanya dengan segala yang dikehendaki-Nya di antara makhluk-makhluk-Nya seperti dalam surat ini, dengan bintang dan dengan bukit “At-Thuur” dalam surat terdahulu, sedang makhluk-Nya ialah manusia tidak boleh bersumpah melainkan dengan nama Allah.

    Allah berfirman demi bintang ketika terbenam, tidaklah kawanmu Muhammad, hai kaum Quraisy, seorang yang sesat yang bertindak tanpa pengbetahuan dan tujuan, dan bukanlah pula ia seorang yamg dengan sengaja berpaling dari jalan yang hak dan benar kepada jalan yang lain.

    Dan bukanlah sekali-kali dibawa dengan hawa nafsunya apa yang diucapkannya dan dibacakan kepadamu.

    Itu adalah Al-Qur’an, kalam Allah yang diwahyukan kepadanya dengan perantaraan Malaikat Jibril untuk disampaikan kepadamu secara tuntas, tidak dikurangi ataupun dilebihkan, sesuai dengan amanat yang diterima dari Tuhan-Nya.

    Diriwayatkan oleh Imam Ahmad bahwasanya Abdullah bin Amr berkata; ”Aku biasa mencatat (menulis) segala yang kudengar dari Rasulullah untuk kuhafalkan, maka aku ditegur oleh beberapa pemuka Quraisy dengan berkata; “Mengapa engkau mencatat (menulis) segala yang engkau dengar dari Rasulullah, padahal ia adalah seorang manusia juga yang kadangkala dapat berbicara atau mengucapkan sesuatu disaat ia dalam keadaan marah”. Teguran orang Quraisy itu segera kusampaikan kepada Rasulullah Saw. Maka bersabdalah beliau kepadaku. Artinya: “Catatlah (tulislah) seperti biasa, demi Tuhan yang nyawaku berada di tangan-Nya, tidak keluar dari padaku melainkan yang hak (benar).

    KHUSUS UNTUK SAUDARA SAM DAN ORANG2 YANG TIDAK PUNYA DASAR ILMU DALAM URUSAN INI SAYA ANGGAP PERLU UNTUK MEMBERIKAN SEBAGIAN KECIL DALIL KARENA ORANG-ORANG SEPERTI INI SERING BICARA “MANA DALILNYA” !!! MAKANYA CARI TAHU SEBELUM BICARA YANG TIDAK SOPAN KEPADA JUNJUNGAN KITA MUHAMMAD RASULULLAH SAW !!!

    1. Hadits Nabi Saw yang diriwayatkan oleh ; Al-Dailami, Al-Thabarani, Abu Syaikh, Ibnu Hibban dan Al- Baihaqi, bahwa Nabi Saw bersabda : ‘Tidaklah beriman seseorang hamba sehingga aku lebih dicintainya daripada dirinya sendiri, dan keturunanku lebih dicintai dari pada keturunannya sendiri, dan keluargaku lebih dicintai daripada keluarganya sendiri, dan zatku lebih dicintai dari zatnya sendiri”.

    2. Karena itulah Abubakar Al-Shiddiq berkata : “Menjalin hubungan kepada sanak keluarga Rasulullah lebih aku sukai, daripada menjalin hubungan dengan sanak keluargaku”.

    3. Diwayatkan oleh Ahmad marfu’: “Barang siapa membikin marah ahlul bait ia adalah seorang munafiq”.

    4. Dari Abu Sa’id bahwa Nabi Saw bersabda : “Tidaklah seseorang membikin marah kami ahlul bait, melainkan orang itu akan dimasukkan Allah kedalam neraka”. Hadits diatas diriwayatkan oleh Al-Hakim dan disahihkannya sesuai dengan syarat Bukhari dan Muslim.

    5. Dari Abu Sa’id, bahwa Nabi Saw bersabda : “Allah sangat murka terhadap orang yang menyakiti aku dalam urusan keturunanku”. (HR Al-Dailami).

    6. Diriwayatkan dari Abu Syaikh dari Ali karamallahu wajhahu, ia berkata; “Suatu ketika Rasulullah keluar dalam keadaan marah menuju kemimbar, kemudian setelah menyampaikan puji-pujian kepada Allah, beliau berkata : “Betapa teganya orang yang menyakiti aku dalam urusan ahlul bait-ku. Demi Zat yang nyawaku berada didalam genggaman-Nya, tidaklah beriman seseorang hamba hingga ia mencintai aku, dan tidaklah ia mencintai aku hingga ia mencintai keturunan-ku”.

    7. Dari Imam Ali k.w. Rasulullah Saw bersabda : “Ya Allah karuniakanlah kepada orang yang membenci aku dan keluargaku harta dan anak yang banyak”. (HR Al-Dailami).

    8. Ibnu Hajar mengomentari hadits ini sebagai berikut : “Dengan banyak harta, maka mereka akan bertambah lama dihisab, dan dengan banyak anak, maka akan bertambah banyak pula setan-setan mereka. Hal ini tidak sama bagi orang yang tidak membenci beliau dan keluarganya, sekalipun do’anya sama. Karena harta dan anak itu dapat menjadi nikmat yang menyampaikan kepada berbagai kebutuhan, berbeda dengan orang-orang yang membenci beliau dan keluarganya tersebut”.

    9. Dari Imam Ali k.w. yang berkata kepada Mu’awiyah : “ Janganlah sekali-kali anda membenci kami, karena Rasulullah telah bersabda; ‘Tidaklah seseorang yang membenci atau merasa iri kepada kami, melainkan orang itu akan diusir dari Al-Haudh (telaga Nabi Saw) pada Hari Kiamat dengan cambuk dari api”. (Diriwayatkan oleh Al-Thabarani dalam Al-Ausath-nya). Hadits-hadits 5 – 11 diatas bersumber dari Muhammad Ali Shabban dalam buku “TELADAN SUCI KELUARGA NABI” – Akhlaq dan Keajaiban-Keajaibannya – Alih bahasa : Sayyid Idrus H Alkaf.- Diberi kata pengantar oleh; jalaluddin Rakhmat.– Penerbit; Al-Bayan.

    10. Hadits yang dikemukakan oleh Ibnul Qayyim ialah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dalam ‘Shahih”-nya berasal dari ‘Urwah bin Zubair yang mendengar sendiri Siti ‘Aisyah r.a. berkata, bahwasanya pada suatu hari Rasulullah Saw menyuruhnya membawa se-ekor kambing tidak bertanduk dan berwarna ke-hitam-hitaman guna disembelih. Setelah kambing itu dibaringkan, sebelum disembelih Rasulullah Saw berdo’a “ Bismillah ya Allah, terimalah dari Muhammad, dari aal Muhammad dan dari ummat Muhammad kemudian kambing itu disembelih. Imam Muslim meriwayatkan hadits itu selengkapnya dan menerangkan urutan maknanya yang berlainan, yaitu bahwa “ummat Muhammad” mempunyai arti umum, sedang “keluarga” adalah menunjukkan kekhususan.

    Orang-orang yang menafsirkan kata “aal” bermakna “keluarga Muhammad Saw”. yang diharamkan menerima Shadaqah”, mengatakan bahwa penafsiran yang berdasarkan ucapan Rasulullah Saw, lebih utama daripada penafsiran yang berdasarkan pendapat orang lain,(apa, dan siapapun dia orangnya – pen). Demikianlah dalil-dalil yang dikemukakan oleh Ibnul Qayyim mengenai penafsiran-penafsiran orang yang mengandung faham pertama.

    Oleh karena itu “SAM” Cari, Pelajari dan Perhatikan hadits Nabi SAW tentang yang dimaksud dzuriat Rasulullah SAW? Mereka adalah yang dikenal dengan haditsul “kitsa” saya tidak akan berpanjang lebar, kalau memang ingin berdialog secara ilmiyah, cari orang2 tua ba’alawi yang mempunyai dasar ilmu agama, ustadz2 atau majelis2 taklim, jangan cuma “asal bunyi”!!! Rasulullah itu manusia yang paling sempurna, yang anda tidak punya “HAK” untuk berbicara seperti itu kepada Rasulullah, Apakah anda tidak sadar anda bersinggungan dengan “ALLAH” kekasih dari Muhammad Rasulullah SAW, karena ALLAH yang menciptakan sebaik2 manusia.

    Pernikahan puteri Nabi SAW selain Fathimah Azzahra dinikahkan kepada non sayyid karena ketentuan itu belum ada!
    Kalo soal sahabat Usman bin Affan RA, itu adalah pilihan Rasulullah yang mulia.
    Tahukah anda wahai “SAM” Bahkan Nabi karena kasihnya kepada sahabatnya diungkapkan “Kalau punya 20 puteri niscaya ku nikahkan kepada Usman satu demi satu (ganti yg telah wafat).

  9. Assalamualaikum

    saya juga mohon ijin untuk menyadur artikel anda ini ke blog saya, http://fahmi-albar.blogspot.com

  10. Subhanallah…..cerita ini hebat. tp saya ada sedikit kritik, maaf sebelumnya tulisan ini sepertinya tanggung, gak sampai selesai, seperti cerita yg gak ada ENDINGnya. awal2 membaca saya berharap ceritanya sampai si Fikri menikah. ceritanya ditambahin donk….saya masih penasaran nih. klo bisa di bikin NOVEL dech ceritanya itu, soalnya bagus bgt.
    ditunngu ya lanjutan ceritanya.

  11. [...] ini saya baca dari web Syarifah Lulu Assegaf http://luluvikar.wordpress.com/2008/05/2… sangat menarik untuk dibaca walau saya seorang ahwal dan [...]

  12. Halo! YID Halo Fah
    kalian tu b

  13. Halo yid!! Halo FAH !!!
    KALIAN TU ORANG2 BAHAAAAAALUL, MANA ADA DI DALAM ISLAM TINGKATA SAYYID KEEK ATO SARIFAAAH KEEEK, KALAU KAIAN NYEBAL DARI QUR’AN DAN SUNNAH SEBAGAIMANA PEMAHAMAN PARA SALAFUS SHOLIH, MAKA KALIAN ADALAH SAMPAH TAK BERGUNA, CAMKAN, CAMKAN, CAMKAN.
    HILANGKAN GELAR GELAR ITU SPY KALIAN BISA MERASAKAN SEBAGAI HAMBA ALLAH YANG KECIL, KECIL, KECIL, CIL, CIL ,CIL…..

  14. HEH YID !
    DARI MANA KALIAN KETURUNAN RASULULLAH HEH !!!
    KETURUNAN RASULULLAH ROKOKNYA KOK NGEEEEBES KAYAK GILINGAN KOPI, DUH BIB, BIB, BIB KAGAK PANTEEEES.

    ORANG ARAB SEBANYAK ITU GAK ADA YANG NGAKU SAYYID. ENTAR LU ITU ARAB GADUNGAN KALI
    GAK USAH DEH SAYYID SAYYIDAN. JADILAH ANDA ORANG YANG BERTAKWA KEPADA ALLAH CUKUP
    BUKANKAN ALLAH SWT TELAH BERFIRMAN:
    “SESUNGGUHNYA ORANG YANG PALING MULIA DIANTARA KALIAN ADALAH ORANG YANG PAILNG BERTAKWA DI ANTARA KALIAN”
    BACA AYAT ITU, JANGAN NGEBES AJE ENTE, ANA LIHAT LO PERKEMBANGAN KALIAN KLO MASIH MEMBANGGAKAN KE SAYYIDANNYA, AWAS BAHLUL KALIAN.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 39 other followers