GADYSA & GELBINA

Kisah nabi Ibrahim dan raja Namrud

In Esai on April 25, 2009 at 3:13 pm

Al-Qur’an memberikan misal tentang Namrud sebagai raja yang sezaman dengan Nabi Ibrahim (a.s.). Kerana terlalu lama berkuasa ia menjadi lupa diri. Nafsu besarnya menyebabkan ia tidak puas sekadar menjadi raja. Ia mahu menjadi tuhan, lalu meminta rakyat mengakui dan menyembahnya sebagai tuhan mereka. Rasa serba mampu telah mendorongnya berlagak bagai tuhan. Tanpa malu-malu Namrud mendakwa mampu melakukan sesuatu (menghidup dan mematikan) yang pada hakikatnya hanya Tuhan yang sebenar mampu melakukannya.

Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan: “Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan,” orang itu berkata: “Saya dapat menghidupkan dan mematikan.” Ibrahim berkata: “Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat,” lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.(2 : 258)

Dalam dialognya dengan Namrud, Nabi Ibrahim (a.s.) mengatakan bahawa Tuhanya adalah Tuhan Yang Maha Berkuasa menghidupkan dan mematikan. Namrud yang ingin menjadi tuhan merasa perlu memiliki ciri ketuhanan yang sama. Nafsu ingin menandingi Tuhan Ibrahim (a.s.) itulah yang mendorongnya berkata, “aku juga mampu menghidupkan dan mematikan” (ana uhyi wa umit). Untuk membuktikannya ia menghadirkan dua orang narapidana yang telah dijatuhi hukuman mati, yang seorang dibebaskan, manakala yang seorang lagi diperintahkan menjalani hukuman (mati). Itulah yang ia tahu tentang arti menghidupkan dan mematikan. Ia mengira bahwa ia sudah menang, ia berkhayal menjadi “tuhan”. Pada hakikatnya yang terlihat dari cara berhujah dan pembuktian sedemikian itu bukan kuasa “ketuhanan”nya tetapi kuasa “kediktatoran”nya berbuat semaunya, bertindak atas seseorang sesuka hati untuk kepentingan diri.

Mungkin kerana merasa tidak ada gunanya berdebat tentang arti yang benar “menghidupkan dan mematikan” dengan orang tolol, maka Nabi Ibrahim mengubah cara berhujahnya dengan mengatakan, “Tuhanku menerbitkan matahari dari sebelah timur, coba anda terbitkannya dari sebelah barat” (al-Baqarah: 358). Kali ini Namrud tidak dapat menjawab, ia kebingungan bercampur marah. Selama ini tidak ada seorang pun berani berkutik di hadapannya sekarang ia dibantah dan Namrud terjerat dalam kesombongan dan ketololannya sendiri.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 919 other followers

%d bloggers like this: