Bapak Taufik Bahauddin, dalam acara “leadership prespektif”-nya mengungkapkan tentang “bagaimana memimpin dengan rasa, bukan dengan angka” dan membahasnya secara panjang lebar tentang kita yang tidak mau merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain disebabkan oleh kurangnya kecerdasan spiritual.
Namun apa bedanya rasa dan angka jika keduanya bekerja sama dan mempunyai andil yang sangat besar dalam menyesatkan kecerdasan dan spiritual. Toh, semua orang punya rasa atau pernah merasakan dan untuk mewujudkan rasa tersebut dibutuhkan angka-angka sebagai penjelmaan dari rasa, jika tidak, maka rasa itu tidak akan berasa.
Kita pun sadar namun tidak pernah menyadari bahkan berlagak tak acuh karena apa yang kita rasakan ataupun yang kita sadari selalu terpulang pada kecerdasan yang ada di otak, bukan yang ada pada hati nurani.
Untuk mewujudkan rasa haruslah ada pengetahuan yang membuat kita sadar, bertanggung jawab (bukan rasa tanggung jawab, karena semua orang pasti punya rasa tanggung jawab) dan mampu berbuat. Dengan ditopang oleh keimanan yang kuat kepada allah SWT (tanpa memerluka kecerdasan sebagai alat). Orang bodoh pun (jika benar-benar beriman) dengan fitrahnya tentu akan berbuat baik jika perbuatan itu baik dan meninggalkannya jika perbuatan itu buruk tanpa pamrih (ikhlas), tanpa rasa dan tanpa angka.
Yang sangat memprihatinkan adalah lemahnya iman para pemimpin maupun yang dipimpin. Iman yang mudah digadai dan dijual untuk merasakan angka-angka disebabkan oleh pengaruh kecerdasan yang begitu cerdas di dalam berdalih dan mengutak-atik dalil ataupun hukum-hukum yang ada sehingga begitu luasnya celah terbentang untuk mengakali dan menghindar.
Keyakinan yang sering kali dideklarasikan hanya sebatas bibir atau keragu-raguan dalam beriman. Untuk mengukur kadar keimanan sangatlah mudah, yaitu dengan memperhatikan tiga hal. Pertama jika tangan begitu gatal ingin memukul dan menampar di saat melihat perbuatan tercela. Kedua; lidah ingin menegur dan menasehati, dan Ketiga; hati yang begitu gundah dan gelisah melihat perbuatan munkar. Ketiga hal ini jika masih bercokol di dalam diri menunjukkan adanya iman atau keyakinan kepada Tuhan, namun jika tidak. Maka iman yang kita ucapkan hanyalah bullshit.
Peran iman sangtlah penting yaitu membimbing orang yang beriman untuk mencintai dan berbuat sesuatu yang baik dan bernilai plus serta mencegah mereka dari perbuatan yang tidak terpuji.
Jika keimanan itu kuat, tentulah rasa itu akan menjadi suatu kepuasan tersendiri (rasa puas) karena keikhlasan. Dan kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia benar-benar terwujud, bukan sekedar janji maupun sebatas program kerja saja.
Kiranya perlu ada suatu pelatihan atau pengkaderan serta ujian keimanan bagi calon pemimpin bangsa kelak, bukan hanya sekedar dialog program kerja.